Minggu, 25 Oktober 2009

Manajemen syari'ah Oleh Kuat Ismanto SHI, M.Ag.

Judul Buku: Manajemen Syari’ahPenulis: Kuat Ismanto, S.H.I., M.Ag.Penerbit: Pustaka PelajarCetakan: I, Februari 2009Tebal: xv + 318Peresensi: Tiyok al~Ghandongi*)
Hadirnya lembaga keuangan syari`ah saat ini, khususnya di Indonesia merupakan sesuatu yang baru dalam dunia keuangan modern. Meskipun demikian, eksistensinya di negara ini masih sering kali menjadi persoalan debatable, bahkan dikalangan muslim itu sendiri. Pada realitasnya, sering kali lembaga keuangan syari`ah yang ada sekarang tidak disiplin menjalankan nilai-nilai syari`ah yang telah digariskan. Jika sistem tersebut selalu dilestarikan tanpa adanya upaya untuk introspeksi dalam rangka mewujudkan manajemen keuangan yang lebih baik, maka keberadaan perekonomian Umat Islam sama halnya dengan telur diujung tanduk.
Salah satu cara untuk menegembangkan dan meningkatkan mutu manajemen syari`ah adalah dengan diterapkanya TQM (Total Quality Management). TQM merupakan pengelolaan kualitas semua komponen (stakeholder) yang berkepentingan dengan visi dan misi suatu organisasi. Jadi, pada dasarnya TQM bukanlah sebuah pembebanan maupun pemeriksaan, tetapi ia dapat diartikan sebagai usaha untuk melakukan sesuatu yang benar disetiap waktu, daripada melakukan pemeriksaan tertentu ketika ada kesalahan. Karena bagaimanapun juga mencegah lebih baik daripada mengatasi.
Dalam TQM, “T” berarti pelibatan semua komponen organisasi yang berlangsung secara terus menerus. Sedangkan “M” adalah pengelolaan setiap orang yang berada didalam organisasi, apapun status, posisi maupun peranya. Mereka semua adalah manajer dari tanggung jawab yang dimilikinya. Hal ini senada dengan apa yang telah dituturkan Lesley dan Malcolm, bahwa dalam TQM semua fungsionaris organisasi dituntut untuk mempunyai tiga kemampuan, yakni: pertama mengerjakan hal-hal yang benar. Kedua mengerjakan hal-hal dengan benar, dan yang ketiga adalah mengerjakan hal-hal yang benar setiap kali dari awal. Ketiga dasar tersebut juga harus dilandasi dengan dasar pemikiran untuk mencegah kesalahan yang timbul.
Dimasa lalu, manajemen berfokus pada kontrol kelembagaan, termasuk perencanaan, perekrutan staf, pemeberian arahan, penguasaan, strukturisasi dan penyusunan anggaran. Namun seiring dengan kemajuan zaman dan teknologi, menunjukkan bahwa konsep manajemen membuka pada jalan menuju paradigma berpikir baru yang memberi penekanan pada kepuasan pelanggan dan pelayanan bermutu. Perubahan paradigma manajemen ini tidak hanya ditanggapi oleh sektor swasta, tetapi juga pemerintah. Beberapa ide dan program perbaikan layanan seperti mengadakan persaingan diantara penyedia pelayanan, kepuasan pelanggan, dan klien sebagai pelanggan lama, kini juga telah merambah kesektor publik (pemerintah).
Landasan TQM
TQM dapat berdiri kokoh dan kuat dikarenakan adanya sesuatu yang melandasinya, yakni statistical process control, yang telah diperkenalkan oleh Edward Deming dan Joseph Juran untuk membantu memulihkan industri Jepang yang hancur akibat dari Perang Dunia II. Manajemen yang dikembangkan pertama kali adalah manufaktur, yang selanjutnya mengalami evolusi dan dan juga diversifikasi untuk aplikasi dibidang manufaktur, industri jasa, kesehatan, serta bidang pendidikan. Perkembangan TQM juga tidak lepas dari kontribusi bidang manajemen dan efektifitas organisasi dalam membangun TQM. Kontribusi bidang tersebut merupakan satu dimensi tersendiri yang dapat disebut akar dari TQM, yang didalamnya terdapat 10 landasan.
Hal yang harus dipahami dalam TQM adalah bukan hanya persoalan “apa”, tetapi juga menyangkut masalah “bagaimana”. Dalam komponen “bagaimana” ini yang dapat membedakan secara mendasar antara TQM dengan konsep manajemen lainya. Menurut Goetsch dan Davis, komponen memiliki 10 unsur yang meliputi: fokus pada pelanggan, obsesi terhadap kualitas, pendekatan ilmiah, komitmen jangka panjang, kerja sama tim (teamwork), perbaikan sistem secara berkesinambungan, pendidikan dan pelatihan, kebebasan yang terkendali, kesatuan tujuan, dan yang terakhir adalah adanya keterlibatan dan pemberdayaan karyawan.
Manfaat TQM
Globalisasi telah menjangkau berbagai aspek kehidupan. Salah satu cara terbaik dalam persaingan global adalah dengan menghasilkan suatu produk barang atau jasa dengan kualitas sebaik mungkin. Kualitas terbaik akan diperoleh dengan langkah untuk mengupayakan perbaikan secara terus menerus terhadap kemampuan manusia, proses, dan juga lingkungan. Penerapan TQM adalah solusi alternatif untuk mewujudkan perbaikan pada kemampuan unsur-unsur tersebut secara berkesinambungan.
Sebagai konsekuensinya, persaingan bisnis semakin tajam. Dahulu, perusahaan bisnis hanya bersaing ditingkat lokal, tetapi sekarang ini tingkat regionalpun sudah menjadi lahan yang tidak terelakkan lagi. Hanya perusahaan yang mampu mendapatkan barang yang dapat bersaing dalam pasar global sajalah yang masih dapat bertahan. Agar sebuah perusahaan mampu mempunyai keungulan dalam skala global, maka perusahaan tersebut harus mampu melakukan pekerjaan lebih baik dalam rangka melahirkan barang atau jasa yang mempunyai kualitas dan kapasitas yang tinggi. Secara singkat, kunci untuk memenangkan persaingan adalah tidak sekedar terletak pada kuantitas, tetapi yang lebih penting lagi adalah kualitas.
Dengan perbaikan kualitas berkesinambungan, perusahaan akan dapat memperbaiki posisi persaingan. Dengan posisi yang lebih baik akan meningkatkan pangsa pasar dan menjamin harga yang lebih tinggi. Hal ini akan memberikan penghasilan lebih tinggi dan secara otomatis laba yag diperoleh semakin meningkat. Upaya perbaikan kulaitas akan menghasilkan peningkatan keluaran (output) yang bebas dari kerusakan atau mengurangi produk yang cacat. Berkurangnya produk yang cacat berarti berkurang pula biaya operasi yang dikeluarkan perusahaan, sehingga akan diperoleh laba yang semakin besar.
Buku ini kelihatannya memang sangat sempurna dalam mngungkapkan teori-teori yang terkandung didalamnya. Tetapi kita akan menagalami kebingungan jika cara membacanya hanya dengan sekilas saja, karena jika kita tinjau dari segi penyusunan katanya, dapat dikatakan kurang sistematis. Tetapi didalam era sekarang ini, buku ini sangat diperlukan, sebagai upaya untuk mengentas kemiskinan yang diakibatkan oleh dampak krisis global yang kini telah merambah sampai ke pelosok desa.
*)penulis adalah staf pengelola dan pemberdayaan pada Perpustakaan al~Hikmah, Pati.

1 komentar:

  1. Asskum...
    Gimana Kabarnya Pak..
    Saya Al Amin Mahasiswa Bapak di FAI Muhammadiyah.
    Bisa ga Pak Saya Konsultasi Skripsi saya Melalui Blog atau Email Bpak...
    Tapi saya ga ada Alamat Email Bapak.. tolong kirimin ya Pak..
    Terima kasih..
    Wassalam..
    Al Amin

    BalasHapus