<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-9160165760161037566</id><updated>2012-02-16T04:57:59.361-08:00</updated><title type='text'>DRS.HAFULYON MM</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://hafulyon.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9160165760161037566/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hafulyon.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>HAFULYON MM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08733764793398655527</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_T62w1t6xAVs/ShfXK7BkbBI/AAAAAAAAAAM/_Ox51Zx1NBA/S220/100_0587.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>12</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9160165760161037566.post-282426231538547315</id><published>2010-12-12T23:56:00.000-08:00</published><updated>2010-12-12T23:57:53.690-08:00</updated><title type='text'>PTK</title><content type='html'>KONSEP DASAR PTK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(PENELITIAN TINDAKAN KELAS)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh:&lt;br /&gt;Baskoro Adi Prayitno&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENGANTAR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu masalah klasik namun sangat krusial yang dihadapi oleh guru dalam meningkatkan mutu pembelajaran di sekolah adalah masih sulitnya mereka menerapkan produk-produk penelitian dan inovasi-inovasi baru dalam pembelajaran yang direkomendasikan oleh pemerintah. Akibatnya hingga saat ini seringkali kinerja guru masih saja dipersoalkan oleh berbagai pihak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa faktor pemicu munculnya masalah di atas antara lain disebabkan oleh beberapa hal sebagai berikut: (1) produk-produk inovasi pembelajaran dan hasil penelitian yang ditawarkan kepada guru sering kali tidak melibatkan guru dalam pembentukan pengetahuan (knowledge construction) sehingga ada kecenderungan produk-produk inovasi seringkali di luar jangkauan guru. (2) penyebarluasan (dessimination) inovasi pembelajaran dan hasil penelitian kepada kalangan praktisi pendidikan (guru) sering memerlukan jangka waktu yang lama, hal ini disebabkan karena kurang efektifnya pola atau model deseminasi yang dikembangkan selama ini, baik melalui seminar, penataran, maupun publikasi ilmiah akibat dari kurang termonitor dan kurang terencananya tindak lanjut selepas dari penataran atau seminar dan kurang jelasnya sasaran dan materi pembinaan (Tilaar, dkk, 1992). Deseminasi hasil penelitian dan inovasi-inovasi baru pendidikan melalui publikasi ilmiah sering kali membutuhkan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, selain itu ditunjang oleh ‘budaya’ guru untuk membaca dan mencoba hasil penelitian dan inovasi yang didapat dari publikasi llmiah masih sangat rendah. Hal ini membuat ‘wajah’ pendidikan kita tidak pernah berubah mulai dari jaman kolonial sampai jaman global.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian bukan berarti bahwa kualitas kompetensi professional guru tidak dapat ditingkatkan atau persoalan-persoalan yang dihadapi guru tidak dapat dipecahkan. Jalan pertama yang paling bijaksana untuk mengatasi hal ini adalah berusaha memotong jalur deseminasi yang berliku serta membekali dan membudayakan guru cara memecahkan masalah secara mandiri sekaligus dapat meningkatkan mutu pembelajaranya. Kedua menumbuhkan rasa butuh (need oriented) pada guru untuk mampu menafsirkan dan menerapkan hasil-hasil penelitian untuk kepentingan pengajaran. Sehingga dengan demikian penafsiran dan penerapan hasil-hasil penelitian bukanlah menjadi beban ekstra bagi seorang guru, melainkan sudah merupakan suatu kebutuhan mendasar yang melekat dan harus dipenuhi oleh seorang guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu upaya strategis yang dilakukan guna mengatasi permasalahan di atas adalah menggeser paradigma pendidikan dari bersifat top down menuju botom up yang bersifat konstruktivis, realistik pragmatis. Perubahan paradigma ini membawa konsekuensi logis bahwa guru tidak lagi ditempatkan sebagai penerima pembaharuan, namun guru juga turut bertanggungjawab dan berperan aktif dalam melakukan pembaharuan pendidikan serta mengembangkan pengetahuan dan ketrampilannya, khususnya dalam pengelolaan pembelajaranya di dalam kelas. Salah satunya pembekalan ketrampilan penelitian tindakan kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya ini akan memberi dampak positif ganda. Pertama, kemampuan dalam menyelesaikan permasalahan pembelajaran (learning problem) akan semakin meningkat. Kedua, penyelesaian masalah pembelajaran melalui sebuah investigasi terkendali akan dapat meningkatkan kualitas isi (content quality), masukan, proses, sarana dan prasarana, dan hasil belajar. dan ketiga¸ peningkatan kedua kemampuan tadi akan bermuara terhadap peningkatan mutu pendidikan dan kualitas luaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui upaya ini (penelitian tindakan kelas) masalah-masalah pembelajaran dapat dikaji dan dituntaskan secara konstruktivis oleh guru, sehingga proses pembelajaran yang inovatif dan ketercapaian tujuan pembelajaran dapat diaktualisasikan secara sistematis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya apa, mengapa dan bagaimana penelitian tindakan kelas tersebut dapat kita ikuti dalam uraian singkat di bawah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENGERTIAN PTK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep penelitian tindakan bermula dari pandangan seorang ahli psikologi sosial yang bermana Kurt Lewin (1946). Lewin menggunakan pendekatan penelitian tindakan setelah usainya perang dunia ke dua dalam usaha menyelesaikan berbagai masalah sosial. Lewin pada saat itu mengemukakan dua ide pokok penelitian tindakan yaitu; (1) keputusan bersama, dan (2) komitment untuk meningkatkan dan memperbaiki prestasi kerja. Kedua ide pokok tersebut sekarang menjadi karakteristik dasar penelitian tindakan yang menegaskan perlunya usaha kolaboratif atau usaha secara bersama-sama dalam meningkat mutu prestasi kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1953, ide Lewin dikembangkan oleh Stephen Corey di New York sebagai pendekatan penelitian yang diselenggarakan oleh guru-guru sekolah. Pada Tahun 1976 Jhon Elliot menggunakan pendekatan ini untuk membantu guru mengembangkan usaha inkuiri dalam pengajaran dan pembelajaran di dalam kelas yang kemudian dikenal dengan penelitian tindakan kelas (PTK).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak ahli memberikan definisi tentang penelitian tindakan kelas (PTK) berikut ini akan disajikan beberapa definisi PTK yang dikemukakan oleh para ahl tersebut, (1) Standford (1970) mendefinisikan penelitian tindakan adalah ‘analysis, fact finding, conceptualization, planing, execution, more fact finding or evaluation; and then repetition of this whole circle of activities; indeed, a spiral of such circles, (2) Tim proyek PGSM (1999) mendefinisikan penelitian tindakan kelas adalah suatu bentuk kajian yang bersifat reflektif oleh pelaku tindakan yang dilakukan untuk meningkatkan kemantaban rasional dari tindakan mereka dalam melaksanakan tugas, memperdalam pemahaman terhadap tindakan-tindakan yang dilakukan itu, serta memperbaiki kondisi dimana praktik pembelajaran tersebut dilakukan, (3) Mukhlis, Abdul dan Nur, Mohamad (2001) mendefinisikan penelitian tindakan kelas sebagai suatu bentuk kajian yang bersifat sistematis dan siklustis, (4) Kemis, Stephen dalam D. Hopkins (1992) mendefinisikan penelitian tindakan kelas adalah ‘action research is a form of self reflective inquiry undertaken by participants in a social (including educational) situation inorder to improve the rationality and justice of (a) their own social or educational pratices, (b) their understanding of these practices, and (c) the situations in which practices are carried out’ (penelitian tindakan adalah suatu bentuk penelaahan atau inkuri melalui refleksi diri yang dilakukan oleh peserta kegiatan pendidikan tertentu dalam situasi sosial (termasuk pendidikan) untuk memperbaiki rasionalitas dan kebenaran dari (a) praktek-praktek sosial atau kependidikan yang mereka lakukan sendiri, (b) pemahaman mereka terhadap praktek-praktek tersebut, (c) situasi di tempat praktek itu dilaksanakan) Mills (2003) mendefinisikan penelitian tindakan kelas sebagai berikut; ‘Any systematic inquiry conducted by teacher researchers ... to gather information about how their particular schools operate, how they teach, and how well their students learn’. (5) Rapoport (1991) mendefinisikan penelitian tindakan kelas sebagai berikut; ‘Action research aims to contribute both to the practical concerns of people in an immediate problematic situation and to the goals of social science (including education) by joint collaboration within a mutually acceptable ethical framework.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila digabungkan definisi yang dikemukakan oleh para ahli di atas maka diperoleh batasan penelitian tindakan kelas sebagai sebuah proses investigasi terkendali yang berdaur ulang (bersiklus) dan bersifat reflektif mandiri, yang memiliki tujuan untuk melakukan perbaikan-perbaiakan terhadap sistem, cara kerja, proses, isi, kompetensi, atau situasi. Proses daur ulang (siklus) kegiatan dalam penelitian tindakan divisualisasikan pada Gambar 1.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari gambar 1 di atas terlihat dengan jelas daur ulang aktivitas dalam penelitian tindakan diawali dengan perencanaan tindakan (planing)¸ penerapan tindakan (action), mengobservasi dan mengevaluasi proses dan hasil tindakan (observation dan evaluation), dan melakukan refleksi (reflection), dan seterusnya sampai perbaikan atau peningkatan yang diharapkan tercapai. Secara lebih jelas uraian dari siklus tersebut akan diuraikan bagian selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERBEDAAN PTK DAN DAN PENELITIAN FORMAL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian tindakan kelas muncul dari antitesis penelitian formal (empiris) karena penelitian formal dianggap hanya bersifat teoritis akademis. Metode penelitian formal cenderung kaku (rigid) sehingga tidak sesuai dengan setting objek secara alami, dan temuan penelitian yang demikian berupa perevisian, pengembangan, pengguguran, dan penemuan teori baru. Penelitian formal demikian dirasa ‘kurang’ banyak manfaatnya pada tataran perbaikan praktis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian tindakan kelas bertujuan untuk menghasilkan informasi dan pengetahuan yang valid dan memiliki penerapan segera, untuk guru itu sendiri atau siswa-siswa mereka melalui refleksi kritis (critical reflection). Secara lebih jelas keterkaitan antara penelitian tindakan kelas (PTK), penelitian formal (empiris) dan personal reflection dapat dilihat pada gambar 2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Personal reflection: pengkajian kembali terhadap keberhasilan atau kegagalan berbagai tujuan dan untuk menentukan perlu tidaknya tindak lanjut dalam rangka mencapai tujuan akhir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Empirical Research: a formal method of study based on observed and measured phenomena that derives knowledge from actual experience.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CAR/PTK : a method of finding ou what works best in claas in order to improve student learning. CAR is more systematic and data based than personal reflection, but is more informal and personal than formal research.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari gambar 2 di atas diketahui diagram ven posisi penelitian tindakan kelas diantara personal reflection dengan empirical research. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) merupakan perpaduan positif di antara keduanya. Posisi PTK yang demikian tentu saja membawa konsekuensi logis perbedaan dan persamaan prinsip dengan penelitian formal (empiris). Berikut ini disajikan perbedaan di antara keduanya dalam bentuk matrik yang disajikan pada Tabel 1.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PRINSIP-PRINSIP PTK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hopkins (1993) menyebutkan ada 6 (enam) prinsip dasar yang melandasi penelitian tindakan kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prinsip pertama, bahwa tugas guru yang utama adalah menyelenggarakan pembelajaran yang baik dan berkualitas. Untuk itu, guru memilki komitmen dalam mengupayakan perbaikan dan peningkatan kualitas pembelajaran secara terus menerus. Dalam menerapkan suatu tindakan untuk memperbaiki kualitas pembelajaran ada kemungkinan tindakan yang dipilih tidak/kurang berhasil, maka ia harus tetap berusaha mencari alternatif lain. Dosen dan guru harus menggunakan pertimbangan dan tanggungjawab profesionalnya dalam mengupayakan jalan keluar dari permasalahan yang dihadapi dalam pembelajaran. Prinsip pertama ini berimplikasi pada sifat penelitian tindakan sebagai suatu upaya yang berkelanjutan secara siklustis sampai terjadinya peningkatan, perbaikan, atau ‘kesembuhan’ sistem, proses, hasil, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prinsip kedua bahwa meneliti merupakan bagian integral dari pembelajaran, yang tidak menuntut kekhususan waktu maupun metode pengumpulan data. Tahapan-tahapan penelitian tindakan selaras dengan pelaksanaan pembelajaran, yaitu: persiapan (planning), pelaksanaan pembelajaran (action), observasi kegiatan pembelajaran (observation), evaluasi proses dan hasil pembelajaran (evaluation), dan refleksi dari proses dan hasil pembelajaran (reflection). Prinsip kedua ini menginsyaratkan agar proses dan hasil pembelajaran direkam dan dilaporkan secara sistematik dan terkendali menurut kaidah ilmiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prinsip ketiga bahwa kegiatan meneliti, yang merupakan bagian integral dari pembelajaran, harus diselenggarakan dengan tetap bersandar pada alur dan kaidah ilmiah. Alur pikir yang digunakan dimulai dari pendiagnosisan masalah dan faktor penyebab timbulnya masalah, pemilihan tindakan yang sesuai dengan permasalahan dan penyebabnya, merumuskan hipotesis tindakan yang tepat, penetapan skenario tindakan, penetapan prosedur pengumpulan data dan analisis data. Obyektivitas, reliabilitas, dan validitas proses, data, dan hasil tetap dipertahankan selama penelitian berlangsung. Prinsip ketiga ini mempersyaratkan bahwa dalam menyelenggarakan penelitian tindakan agar tetap menggunakan kaidah-kaidah ilmiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prinsip keempat bahwa masalah yang ditangani adalah masalah-masalah pembelajaran yang riil dan merisaukan tanggungjawab profesional dan komitmen terhadap pemerolehan mutu pembelajaran. Prinsip ini menekankan bahwa diagnosis masalah bersandar pada kejadian nyata yang berlangsung dalam konteks pembelajaran yang sesungguhnya. Bila pendiagnosisan masalah berdasar pada kajian akademik atau kajian literatur semata, maka penelitian tersebut dipandang sudah melanggar prinsip ke-otentikan. Jadi masalah harus didiagnosis dari kancah pembelajaran yang sesungguhnya, bukan sesuatu yang dibayangkan akan terjadi secara akademik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prinsip kelima bahwa konsistensi sikap dan kepedulian dalam memperbaiki dan meningkatkan kualitas pembelajaran sangat diperlukan. Hal ini penting karena upaya peningkatan kualitas pembelajaran tidak dapat dilakukan sambil lalu, tetapi menuntut perencanaan dan pelaksanaan yang sungguh-sungguh. Oleh karena itu, motivasi untuk memperbaiki kualitas harus tumbuh dari dalam (motivasi intrinsik), bukan sesuatu yang bersifat instrumental.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prinsip keenam adalah cakupan permasalahan penelitian tindakan tidak seharusnya dibatasi pada masalah pembelajaran di ruang kelas, tetapi dapat diperluas pada tataran di luar ruang kelas, misalnya: tataran sistem atau lembaga. Perspektif yang lebih luas akan memberi sumbangan lebih signifikan terhadap upaya peningkatan kualitas pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KARAKTERISTIK PTK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasar uraian-uraian yang telah dikemukakan sebelumnya di atas, maka dapat dicermati karakteristik penelitian tindakan kelas, yang berbeda dari karakteristik penelitian formal, yaitu bahwa PTK merupakan;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;an inquiry on pratice from within&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karakteristik pertama dari penelitian tindakan kelas bahwa kegiatan tersebut dimulai oleh permasalahan praktis yang dialami oleh guru dalam melaksanakan tugas sehari-harinya sebagai pengelola program pembelajaran di dalam kelas atau sebagai jajaran staf pengajar di sekolah. Dengan kata lain penelitian tindakan kelas bersifat practice driven dan action driven, dalam arti bahwa penelitian tindakan kelas bertujuan memperbaiki praksis secara langsung ‘disini’, ‘sekarang’ sehingga seringkali istilah penelitian tindakan kelas dipertukarkan dengan istilah penelitian praktis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari uraian di atas tersurat dengan jelas bahwa penelitian tindakan kelas menitikberatkan pada permasalahan yang spesifik dan kontekstual, hal ini membawa konsekuensi penelitian tindakan kelas tidak terlalu menghiraukan kerepresentativan sampel seperti pada penelitian formal karena memang tujuan penelitian tindakan kelas bukan untuk menemukan, mengembangkan atau merevisi sebuah teori yang dapat digeneralisasikan secara luas, penelitian tindakan kelas dimaksudkan untuk memperbaiki (improvement) permasalahan praktis dalam pembelajaran ‘disini’ dan ‘sekarang’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian tindakan kelas juga berbeda dengan penelitian formal dalam hal metodologi, metodologi penelitian tindakan kelas tidak kaku seperti penelitian formal, dalam arti tidak terlalu memperhatikan kontrol terhadap perlakuan. Namun demikian sebagai kajian yang taat kaidah pengumpulan data tetap dilakukan dengan menekankan objektivitas. Pengungkapan kebenenaran dilakukan secara cermat dan objektif sehingga memungkinkan terselenggaranya peninjauan ulang oleh sejawat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kata lain, sebagaiman halnya dengan penelitian formal, Penelitian tindakan kelas dimaksudkan bukan untuk mengemukakan pembenaran diri (self justification), melainkan untuk mengemukakan kebenaran, meskipun jangkauanya lebih terbatas (tidak bisa digeneralisasikan ke populasi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu dapatlah dikatakan bahwa penelitian tindakan kelas bepijak pada dua landasan yaitu involvment, keterlibatan langsung guru dalam pelaksanaan penelitian dan improvement, komitmen guru untuk melakukan perbaikan, termasuk perbaikan dalam cara berpikir dan kinerjanya sendiri, kerena itu penelitian tindakan kelas dapat menjadi self reflective inquiry bagi guru, dalam situasi nyata di dalam kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Collaborativ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya perbaikan proses dan hasil pembelajaran tidak dapat dilakukan sendiri oleh guru, tetapi harus berkolaborasi dengan sejawatnya. Penelitian tindakan kelas merupakan upaya bersama dari berbagai pihak untuk mewujudkan perbaikan yang diinginkan. Nuansa kolaborasi ini harus tertampilkan dalam keseluruhan proses mulai dari identifikasi masaah bersama, perencanaan, pelaksanaan penelitian tindakan kelas, observasi dan evaluasi, dan refleksi, sampai dengan penyusunan laporan akhir penelitian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reflective, Practice, Made Public&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian tindakan kelas memiliki ciri khusus, yaitu sikap reflektif yang berkelanjutan untuk perbaikan (improvement) praktis. Berbeda dengan penelitian formal yang lebih mengutamakan pendekatan eksperimental, penelitian tindakan kelas lebih menekankan kepada proses ‘perenungan kembal’i (refleksi) terhadap proses dan hasil penelitian secara berkelanjutan untuk mendapatkan penjelasan dan justifikasi tentang kemajuan, peningkatan, kemunduran, kekurang efektifan, dan sebagaianya dari pelaksanaan sebuah tindakan untuk dapat digunakan memperbaiki proses tindakan pada siklus-siklus selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Every day Pratical Problems , penelitian tindakan kelas lebih memfokuskan permasalahan nyata di dalam kelas yang dihadapi guru sehari-hari, bukan berangkat dari permasalahan yang bersifat teoritis (teoritical problems). Oleh sebab itu penentuan masalah dalam penelitian tindakan kelas harus berawal dari permasalahan nyata di dalam kelas, yang kemudian didiagnosis akar masalah dari permasalahan tersebut sebelum bisa menentukan langkah-langakah tindakan yang paling tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teori menuju aksi, Penelitian tindakan kelas dimaksudkan untuk mengadopsi teori kedalam tindakan nyata untuk merubah situasi yang sulit kedalam permasalahan praktis yang bisa dipecahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TUJUAN DAN MANFAAT PTK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah tujuan kita melakukan penelitian tindakan kelas? Sebagaimana sudah dijelaskan pada paparan sebelumnya, jawaban yang paling mudah terhadap pertanyaan tesebut adalah penelitian tindakan kelas dilaksanakan demi perbaikan (improvement) atau peningkatan kualitas pembelajaran secara berkelanjutan/berkesinambungan. Mc Niff (1992) menegaskan bahwa dasar utama dilaksanakan penelitian tindakan kelas adalah untuk perbaikan, kata perbaikan disini harus dimaknai dalam konteks pembelajaran khususnya dan implementasi program pada umumnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika tujuan utama penelitian tindakan kelas, untuk perbaikan dan peningkatan layanan profesional guru dalam menangani proses belajar mengajar, pertanyaan selanjutnya yang muncul adalah ‘bagaiamana tujuan tersebut itu dapat tercapai?’ tujuan itu dapat tercapai dengan melakukan refleksi untuk mendiagnosis keadaan, kemudian mencobakan berbagai tindakan alaternatif secara sistematis guna memecahkan permasalahan tersebut, dengan kata lain, dilakukan perencanaan tindakan alterfnataif oleh guru, kemudian dicobakan, dan dievaluasi efektifitasnya dalam memecahkan persoalan pembelajaran yang sedang dihadapi oleh guru. Daur tindakan inilah yang digambarkan dalam gambar 1 sebelumnya. Jika perbaikan dan peningkatan layanan profesional guru dalam konteks pembelajaran dapat terwujud akibat adanya PTK, dampak penyerta yang dapat dicapai sekaligus oleh kegiatan penelitian ini adalah tumbuhnya budaya dan produktivitas meneliti di kalangan praktisi pendidikan (guru).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian akibat logis dari uraian di atas maka banyak manfaat yang dapat dipetik, diantaranya yaitu (1) guru semakin diberdayakan (empowered) untuk mengambil berbagai prakarsa profesional secara mandiri, dengan kata lain prakarsa untuk melakukan ‘revolosi inovasi’ dalam pendidikan hanya akan berhasil jika dimulai dari ‘ujung tombak’ pelaksana di lapangan. (2) guru memiliki keberanian mencobakan hal-hal baru yang diduga dapat membawa perbaikan dalam kegiatan pembelajaranya di dalam kelas, keberanian ini berdampak pada munculnya rasa percaya diri dan kemandirian guru dalam memecahkan permasalahan pembelajaranya di dalam kelas. (3) Guru tidak lagi puas dengan rutinitas monoton (complacent), melainkan terpacu untuk selalu berbuat lebih baik dari sekarang yang telah diraihnya sehingga terbuka peluang untuk peningkatan kinerja secara berkesinambingan (continue).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara ringkas, inovasi pembelajaran yang bersifat bottom up (tumbuh dari bawah) dengan sendirinya akan jauh lebih efektif jika dibandingkan dengan yang dilakukan dari ata (top down). Hal ini karena pendekatan inovasi pembelajaran yang bersifat top down tidak jarang berangkat dari teori yang belum tentu sesuai dengan kebutuhan guru secara individual bagi pemecahan permasalahan pembelajaran yang tengah dihadapinya di dalam kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAGAIMANA MEMULAI PTK?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian tindakan kelas bertujuan untuk mengungkap penyebab masalah dan sekaligus memberikan solusi terhadap masalah. Upaya tersebut dilakukan secara terkendali dan kolaboratif. Langkah-langkah pokok yang umumnya ditempuh adalah: 1) penetapan fokus masalah penelitian, 2) perencanaan tindakan perbaikan, 3) pelaksanaan tindakan perbaikan, observasi dan interpretasi, 4) analisis dan refleksi, dan 5) perencanaan tindak lanjut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penetapan fokus masalah penelitian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merasakan Adanya Masalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum ada masalah yang ditetapkan, maka perlu ditumbuhkan sikap dan keberanian untuk mempertanyakan kualitas pembelajaran yang selama ini dilcapai. Sikap demikian sangat diperlukan untuk menumbuhkan kemauan untuk memperbaiki diri. Pertanyaan-pertanyaan dapat diarahkan pada: apakah kualitas siswa sudah cukup baik? Apakah proses pembelajaran yang dilakukan sudah cukup efektif? Apakah sarana pembelajaran cukup memadai? apakah hasil pembelajaran cukup berkualitas? dst. Tahapan ini disebut dengan tahapan merasakan adanya masalah dalam pembelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Identifikasi Masalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya dilakukan identifikasi terhadap masalah yang sangat merisaukan. Pada tahap ini yang paling penting adalah menghasilkan gagasan-gasan awal mengenai permasalahan aktual yang dialami dalam pembelajaran. Tahap ini disebut dengan tahapan mengidentifikasi permasalahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analisis Masalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah memperoleh sederet permasalahan melalui proses identifikasi, maka dilanjutkan dengan analisis masalah untuk menentukan urgensinya. Analisis terhadap masalah juga dimaksudkan untuk mengetahui proses tindak lanjut perbaikan atau solusi (obat) yang akan diambil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merumuskan Masalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, masalah-masalah yang dapat diidentifikasi dan ditetapkan dirumuskan secara jelas, spesifik dan operasional. Perumusan masalah yang jelas akan memungkinkan peluang untuk pemilihan tindakan yang tepat. Contoh rumusan masalah yang mengandung tindakan alternatif yang ditempuh: apakah strategi pembelajaran menulis yang berorientasi pada proses dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perencanaan Tindakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Formulasi Hipotesis Tindakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah masalah dirumuskan secara operasional, maka perlu dirumuskan alternatif tindakan yang akan diambil. Alternatif tindakan yang diambil dapat dirumuskan ke dalam hipotesis tindakan dalam arti dugaan mengenai perubahan yang akan terjadi jika suatu tindakan dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk umum rumusan hipotesis tindakan berbeda dengan hipotesis dalam penelitian formal. Hipotesis tindakan umumnya dirumuskan dalam bentuk keyakinan tindakan yang diambil akan dapat memperbaiki suatu sistem, proses, atau hasil. Contoh: Pembelajaran menulis berpendekatan proses akan berdampak positif terhadap kualitas tulisan siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persiapan Tindakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum pelaksanaan tindakan, maka perlu perencanaan sebagai tindakan persiapan. Beberapa hal perlu direncanakan secara baik, antara lain, (1) Membuat skenario pembelajaran yang berisikan langkah-langkah kegiatan dalam pembelajaran disamping bentuk-bentuk kegiatan yang akan dilakukan, (2) Mempersiapkan sarana pembelajaran yang mendukung terlaksananya tindakan, (3) Mepersiapkan instrumen penelitian, misalnya untuk mengobservasi proses, kegiatan, dan hasil pembelajaran, (4) Melakukan simulasi pelaksanaan tindakan dan menguji keterlaksanaannya di lapangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelaksanaan Tindakan dan Observasi-Interpretasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelaksanaan Tindakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika semua tindakan dipersiapkan, maka skenario tindakan dilaksanakan dalam situasi pembelajaran yang aktual. Kegiatan pelaksanan tindakan perbaikan merupakan tindakan pokok dalam siklus penelitian tindakan. Pada saat pelaksanaan tindakan, kegiatan mengobservasi dan interpretasi dilakukan secara berbarengan dengan kegiatan refleksi. Penggabungan kegiatan tindakan, observasi, interpretasi, dan refleksi merupakan suatu kenyataan proses pembelajaran yang utuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Observasi dan Interpretasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum, observasi merupakan upaya untuk merekam proses yang terjadi selama pembelajaran berlangsung. Mengingat kegiatan observasi menyatu dalam pelaksanaan tindakan, maka perlu dikembangkan sistem dan prosedur observasi yang mudah dan cepat dilakukan. Observasi akan memiliki manfaat apabila dilanjutkan dengan diskusi sebagai balikan. Balikan ini sangat diperlukan untuk dapat memperbaiki proses penyelenggaraan tindakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analisis dan Refleksi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analisis Data.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analisis data dilakukan melalui tiga tahap, yaitu: reduksi data, paparan data, dan penyimpulan hasil analisis, (1) Reduksi Data. Reduksi data adalah proses penyederhanaan data yang dilakukan melalui seleksi, pengelompokkan, dan pengorganisasian data mentah menjadi sebuah informasi bermakna, (2) Paparan Data. Pemaparan data merupakan suatu upaya menampilkan data secara jelas dan mudah dipahami dalam bentuk paparan naratif, grafik, atau perwujudan lainnya, (3) Penyimpulan. Penyimpulan merupakan pengambilan intisari dari sajian data yang telah terorganisasikan dalam bentuk pernyataan atau kalimat yang singkat, padat dan bermakna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Refleksi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Refleksi dimaksudkan sebagai upaya untuk mengkaji apa yang telah dan belum terjadi, apa yang dihasilkan, kenapa hal tersebut terjadi demikian, dan apa yang perlu dilakukan selanjutnya. Hasil refleksi digunakan untuk menetapkan langkah selanjutnya dalam upaya untuk menghasilkan perbaikan. Komponen-komponen refleksi dapat digambarkan sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ANALISIS PEMAKNAAN PENJELASAN PENYIMPULAN TINDAK LANJUT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perencanaan Tindak Lanjut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila hasil perbaikan yang diharapkan belum tercapai pada siklus 1, maka diperlukan langkah lanjutan pada siklus 2. Satu siklus kegiatan merupakan kesatuan dari kegiatan perumusan masalah, perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi dan interpretasi, serta analisis dan refleksi. Banyaknya siklus tidak dapat ditetapkan, dan karenanya perlu dibuatkan semacam kriteria keberhasilan. Kriteria keberhasilan dapat ditetapkan, misalnya dengan menggunakan prinsip belajar tuntas. Apabila tingkat perbaikan yang diharapkan tercapai minimal 75%, maka pencapaian itu dapat dikatakan sudah memenuhi kriteria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;INSTRUMEN-INSTRUMEN DALAM PENELITIAN TINDAKAN KELAS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Instrumen yang diperlukan dalam penelitian tindakan sangat sejalan dengan prosedur dan langkah penelitian tindakan kelas itu sendiri. Ditinjau dari hal tersebut, maka instrumen-instrumen itu dapat dikelompokkan menjadi 3 (tiga), yaitu: instrumen untuk mengobservasi guru (observing teachers), instrumen untuk mengobservasi kelas (observing classroom), dan instrumen untuk mengobservasi perilaku siswa (observing students).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengamatan terhadap Perilaku Guru (Observing Teachers)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Observasi merupakan alat yang efektif untuk mempelajari tentang metode dan strategi yang diimplementasikan di kelas, misalnya, tentang organisasi kelas, respon siswa terhadap lingkungan kelas, dsb. Salah satu bentuk instrumen observasi adalah observasi anekdotal (anecdotal record).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Observasi anekdotal memfokuskan pada hal-hal spesifik yang terjadi di dalam kelas atau catatan tentang aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran. Observasi anekdotal mencatat kejadian di dalam kelas secara informal dalam bentuk naratif. Sejauh mungkin, catatatan itu memuat deskripsi rinci dan lugas peristiwa yang terjadi di kelas. Observasi anekdotal tidak mempersyaratkan pengamat memperoleh latihan secara khusus. Suatu observasi anekdotal yang baik setidaknya memiliki empat ciri, yaitu: 1) pengamat harus mengamati keseluruhan sekuensi peristiwa yang terjadi di kelas, 2) tujuan, batas waktu dan rambu-rambu pengamatan jelas, 3) hasil pengamatan dicatat lengkap dan hati-hati, dan 4) pengamatan harus dilakukan secara obyektif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa model pengamatan anekdotal diusulkan oleh Reed dan Bergermann (1992) yang dapat digunakan dalam PTK, antara lain:a) Catatan Anekdotal Peristiwa dalam Pembelajaran (Anecdotal Record for Observing Instructional Events), b) Observasi Anecdotal Interaksi Guru-Siswa (Anecdotal Teacher-Student Interaction Form), c) Observasi Anekdotal Pola Pengelompokkan Belajar (Anecdotal Record Form for Grouping Patterns), d) Observasi Terstruktur (structured observation), e) Lembar Observasi Model Manajemen Kelas (Checklist for Management Model), f) Lembar Observasi Keterampilan Bertanya (Checklist for Examining Questions), g) Catatan Anekdotal Aktivitas Pembelajaran (Anecdotal Record of Pre-, Whilst-, and Post-Teaching Activities) , h) Catatan Anekdotal Membantu Siswa Berpartisipasi (Checklist for Routine Involving Students), dsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengamatan terhadap Kelas (Observing Classrooms)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengamatan anekdotal dapat dilengkapi sambil melakukan pengamatan terhadap segala kejadian yang terjadi di kelas. Pengamatan ini sangat bermanfaat karena dapat mengungkapkan praktik-praktik pembelajaran yang menarik di kelas. Disamping itu, observasi demikian dapat menunjukkan strategi yang digunakan guru dalam menangani kendala dan hambatan pembelajaran yang terjadi di kelas. Observasi anekdotal kelas meliputi deskripsi tentang lingkungan fisik kelas, tata letaknya, dan manajemen kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa model pengamatan anekdotal kelas diusulkan oleh Reed dan Bergermann (1992) yang dapat digunakan dalam PTK, antara lain: a) Format Anekdotal Organisasi Kelas (Form for Anecdotal Record of Classroom Organization), b) Format Peta Kelas (Form for a Classroom Map), c) Observasi Kelas Terstruktur (Structured Observation of Classrooms), d) Format Skala Pengkodean Lingkungan Sosial Kelas (Form for Coding Scale of Classroom Social Environment), e) Lembar Cek Wawancara Personalia Sekolah (Checklist for School Personnel Interviews), f) Lembar Cek Kompetensi (Checklist of Competencies), dsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengamatan Perilaku Siswa (Observing Students).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Observasi anekdotal terhadap perilaku siswa dapat mengungkapkan berbagai hal yang menarik. Masing-masing individu siswa dapat diamati secara individual atau bekelompok sebelum, saat berlangsung, dan sesudah usai pembelajaran. Perubahan pada setiap individu juga dapat diamati, dalam kurun waktu tertentu, mulai dari sebelum dilakukan tindakan, saat tindakan diimplementasikan, dan seusai tindakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa model pengamatan terhadap perilaku siswa diusulkan oleh Reed dan Bergermann (1992) yang dapat digunakan dalam PTK, antara lain: a) Tes Diagnostik (Diagnostic Test) , b) Catatan Anekdotal Perilaku Siswa (Anecdotal Record for Observing Students), b) Format Bayangan (Shadowing Form), c) Kartu Profil Siswa (Profile Card of Strudents), d) Carta Deskripsi Profil Siswa (Descriptive profile Chart), Sistem Koding Partisipasi Siswa (Coding System to Observe Student Participation in Lessons), e) Inventori Kalimat tak Lengkap (Incomplete Sentence Inventory), f) Pedoman Wawancara untuk Refleksi (Interview Guide for Reflection), g) sosiogram, dsb.&lt;br /&gt;Diposkan oleh Baskoro Adi Prayitno di 09.23&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9160165760161037566-282426231538547315?l=hafulyon.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hafulyon.blogspot.com/feeds/282426231538547315/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hafulyon.blogspot.com/2010/12/ptk_12.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9160165760161037566/posts/default/282426231538547315'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9160165760161037566/posts/default/282426231538547315'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hafulyon.blogspot.com/2010/12/ptk_12.html' title='PTK'/><author><name>HAFULYON MM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08733764793398655527</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_T62w1t6xAVs/ShfXK7BkbBI/AAAAAAAAAAM/_Ox51Zx1NBA/S220/100_0587.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9160165760161037566.post-1434038395066572510</id><published>2010-12-01T00:00:00.000-08:00</published><updated>2010-12-01T00:01:28.208-08:00</updated><title type='text'>PTK</title><content type='html'>LANGKAH-LANGKAH PENELITIAN TINDAKAN KELAS&lt;br /&gt;Posted on 30 June 2010 by imam sumitro &lt;br /&gt;Bagi para pendidik sudah tidak asing lagi dengan satu bentuk penelitian ini Penelitian Tindakan Kelas atau biasa disebut dengan PTK, namun sesuatu yang bukan hal yang tidak asing bagi kita tetapi pada kenyataannya banyak sekali diantara para pendidik yang merasa kebingungan untuk memulai melakukan penelitian dari metode pembelajaran yang tepat Bagi satuan pendidikan ataupun metode pengajaran yang kita terapkan dan kita lakukan di kelas.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;PTK atau Penelitian Tindakan Kelas banyak sekali manfaat yang dapat kita peroleh dimana kita akan mengetahui tingkat keberhasilan dari tekhnik atau metode yang kita gunakan di kelas dalam melakukan KBM atau penyampaian Materi kepada peserta didik. Mengingat begitu besar peranan Penelitian jenis ini maka pemerintah pun mencoba menerapkan prasyarat untuk proses kenaikan Pangkat dan Golongan serta Sertifikasi Profesi Guru. Oleh karena itu disini saya mencoba berbagi sedikit pengetahuan tentang Langkah-langkah dari Penelitian Tindakan Kelas.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Rencana dan Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas&lt;br /&gt;Langkah-langkah dalam PTK merupakan satu daur atau siklus yang terdiri dari:&lt;br /&gt;1.  merencanakan perbaikan,&lt;br /&gt;2.  melaksanakan tindakan,&lt;br /&gt;3.  mengamati, dan&lt;br /&gt;4.  melakukan refleksi.&lt;br /&gt;Untuk merencanakan perbaikan terlebih dahulu perlu dilakukan identifikasi masalah serta analisis dan perumusan masalah. Identifikasi masalah dapat dilakukan dengan mengajukan pertanyaan pada diri sendiri tentang pembelajaran yang dikelola. Setelah masalah teridentifikasi, masalah perlu dianalisis dengan cara melakukan refleksi dan menelaah berbagai dokumen yang terkait. Dari hasil analisis, dipilih dan dirumuskan masalah yang paling mendesak dan mungkin dipecahkan oleh guru. Masalah kemudian dijabarkan secara operasional agar dapat memandu usaha perbaikan.&lt;br /&gt;Setelah masalah dijabarkan, langkah berikutnya adalah mencari/ mengembangkan cara perbaikan, yang dilakukan dengan mengkaji teori dan hasil penelitian yang relevan, berdiskusi dengan teman sejawat dan pakar, serta menggali pengalaman sendiri. Berdasarkan hasil yang dicapai dalam langkah ini, dikembangkan cara perbaikan atau tindakan yang sesuai dengan kemampuan dan komitmen guru, kemampuan siswa, sarana dan fasilitas yang tersedia, serta iklim belajar dan iklim kerja di sekolah.&lt;br /&gt;Pelaksanaan tindakan dimulai dengan mempersiapkan rencana pembelajaran dan skenario tindakan termasuk bahan pelajaran dan tugas-tugas, menyiapkan alat pendukung/sarana lain yang diperlukan, mempersiapkan cara merekam dan menganalisis data, serta melakukan simulasi pelaksanaan jika diperlukan.&lt;br /&gt;Dalam melaksanakan tindakan atau perbaikan, observasi dan interpretasi dilakukan secara simultan. Aktor utama adalah guru, namun guru dapat dibantu oleh alat perekam data atau teman sejawat sebagai pengamat. Agar pelaksanaan tindakan sesuai dengan kaidah PTK, perlu diterapkan enam kriteria berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Metodologi penelitian jangan sampai mengganggu komitmen guru sebagai pengajar&lt;br /&gt;•  Pengumpulan data jangan sampai menyita waktu guru terlampau banyak.&lt;br /&gt;•  Metodologi harus reliabel (handal) hingga guru dapat menerapkan strategi yang sesuai dengan situasi kelasnya.&lt;br /&gt;•  Masalah yang ditangani guru harus sesuai dengan kemampuan dan komitmennya.&lt;br /&gt;•  Guru harus memperhatikan berbagai aturan (etika) yang berkaitan dengan tugasnya.&lt;br /&gt;•  PTK harus mendapat dukungan dari masyarakat sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Observasi, Analisis Data, Tindak Lanjut, dan Laporan Penelitian Tindakan Kelas (PTK)&lt;br /&gt;Pengumpulan data dalam PTK dapat dilakukan dengan berbagai teknik seperti: observasi, catatan harian, rekaman, angket, wawancara, serta analisis dokumen hasil belajar siswa.&lt;br /&gt;Tahap observasi dan interpretasi dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan tindakan perbaikan. Selain untuk menginterpretasikan peristiwa yang muncul sebelum direkam, interpretasi juga membantu guru melakukan penyesuaian. Observasi yang efektif berlandaskan pada lima prinsip dasar yaitu:&lt;br /&gt;(1) harus ada perencanaan bersama antara guru dan pengamat,&lt;br /&gt;(2) fokus observasi harus ditetapkan bersama,&lt;br /&gt;(3) guru dan pengamat harus membangun kriteria observasi bersama-sama,&lt;br /&gt;(4) pengamat harus memiliki keterampilan mengobservasi, dan&lt;br /&gt;(5) observasi akan bermanfaat jika balikan diberikan segera dan mengikuti berbagai aturan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ada empat jenis observasi yang dapat dipilih, yaitu:&lt;br /&gt;Observasi terbuka, observasi terfokus, observasi terstruktur, dan observasi sistematik.&lt;br /&gt;Observasi yang bertujuan memantau proses dan dampak perbaikan dilakukan dengan mengikuti tiga langkah yang merupakan satu siklus yang selalu berulang, yaitu: pertemuan pendahuluan (perencanaan), pelaksanaan observasi, dan diskusi balikan. Agar ketiga tahap ini berlangsung efektif, hubungan guru dan pengamat harus didasari saling mempercayai, fokus kegiatan adalah perbaikan, proses tergantung dari pengumpulan dan pemanfaatan data yang objektif, guru didorong untuk mengambil kesimpulan, setiap tahap observasi merupakan proses yang berkesinambungan, serta guru dan pengamat terlibat dalam perkembangan profesional yang saling menguntungkan.&lt;br /&gt;Selain melalui observasi, data mengenai pembelajaran dapat dikumpulkan melalui catatan/laporan harian guru, catatan harian siswa, wawancara (antara guru dan siswa, pengamat dan siswa, serta pengamat dan guru), angket, dan telaah berbagai dokumen.&lt;br /&gt;Analisis data dilakukan dengan menyeleksi dan mengelompokkan data, memaparkan atau mendeskripsikan data dalam bentuk narasi, tabel, dan/atau grafik, serta menyimpulkan dalam bentuk pernyataan. Berdasarkan hasil analisis dilakukan refleksi, yaitu renungan atau mengingat kembali apa yang sudah berhasil dikerjakan, mengapa berhasil. Berdasarkan hasil refleksi, guru melakukan perencanaan tindak lanjut, yang dapat berupa revisi dari rencana lama, atau baru sama sekali.&lt;br /&gt;Sumber Buku Penelitian Tindakan Kela karya IGAK Wardhani&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9160165760161037566-1434038395066572510?l=hafulyon.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hafulyon.blogspot.com/feeds/1434038395066572510/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hafulyon.blogspot.com/2010/12/ptk.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9160165760161037566/posts/default/1434038395066572510'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9160165760161037566/posts/default/1434038395066572510'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hafulyon.blogspot.com/2010/12/ptk.html' title='PTK'/><author><name>HAFULYON MM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08733764793398655527</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_T62w1t6xAVs/ShfXK7BkbBI/AAAAAAAAAAM/_Ox51Zx1NBA/S220/100_0587.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9160165760161037566.post-7561245763469475348</id><published>2010-11-30T23:59:00.000-08:00</published><updated>2010-12-01T00:00:26.936-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>LANGKAH-LANGKAH PENELITIAN TINDAKAN KELAS&lt;br /&gt;Posted on 30 June 2010 by imam sumitro &lt;br /&gt;Bagi para pendidik sudah tidak asing lagi dengan satu bentuk penelitian ini Penelitian Tindakan Kelas atau biasa disebut dengan PTK, namun sesuatu yang bukan hal yang tidak asing bagi kita tetapi pada kenyataannya banyak sekali diantara para pendidik yang merasa kebingungan untuk memulai melakukan penelitian dari metode pembelajaran yang tepat Bagi satuan pendidikan ataupun metode pengajaran yang kita terapkan dan kita lakukan di kelas.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;PTK atau Penelitian Tindakan Kelas banyak sekali manfaat yang dapat kita peroleh dimana kita akan mengetahui tingkat keberhasilan dari tekhnik atau metode yang kita gunakan di kelas dalam melakukan KBM atau penyampaian Materi kepada peserta didik. Mengingat begitu besar peranan Penelitian jenis ini maka pemerintah pun mencoba menerapkan prasyarat untuk proses kenaikan Pangkat dan Golongan serta Sertifikasi Profesi Guru. Oleh karena itu disini saya mencoba berbagi sedikit pengetahuan tentang Langkah-langkah dari Penelitian Tindakan Kelas.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Rencana dan Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas&lt;br /&gt;Langkah-langkah dalam PTK merupakan satu daur atau siklus yang terdiri dari:&lt;br /&gt;1.  merencanakan perbaikan,&lt;br /&gt;2.  melaksanakan tindakan,&lt;br /&gt;3.  mengamati, dan&lt;br /&gt;4.  melakukan refleksi.&lt;br /&gt;Untuk merencanakan perbaikan terlebih dahulu perlu dilakukan identifikasi masalah serta analisis dan perumusan masalah. Identifikasi masalah dapat dilakukan dengan mengajukan pertanyaan pada diri sendiri tentang pembelajaran yang dikelola. Setelah masalah teridentifikasi, masalah perlu dianalisis dengan cara melakukan refleksi dan menelaah berbagai dokumen yang terkait. Dari hasil analisis, dipilih dan dirumuskan masalah yang paling mendesak dan mungkin dipecahkan oleh guru. Masalah kemudian dijabarkan secara operasional agar dapat memandu usaha perbaikan.&lt;br /&gt;Setelah masalah dijabarkan, langkah berikutnya adalah mencari/ mengembangkan cara perbaikan, yang dilakukan dengan mengkaji teori dan hasil penelitian yang relevan, berdiskusi dengan teman sejawat dan pakar, serta menggali pengalaman sendiri. Berdasarkan hasil yang dicapai dalam langkah ini, dikembangkan cara perbaikan atau tindakan yang sesuai dengan kemampuan dan komitmen guru, kemampuan siswa, sarana dan fasilitas yang tersedia, serta iklim belajar dan iklim kerja di sekolah.&lt;br /&gt;Pelaksanaan tindakan dimulai dengan mempersiapkan rencana pembelajaran dan skenario tindakan termasuk bahan pelajaran dan tugas-tugas, menyiapkan alat pendukung/sarana lain yang diperlukan, mempersiapkan cara merekam dan menganalisis data, serta melakukan simulasi pelaksanaan jika diperlukan.&lt;br /&gt;Dalam melaksanakan tindakan atau perbaikan, observasi dan interpretasi dilakukan secara simultan. Aktor utama adalah guru, namun guru dapat dibantu oleh alat perekam data atau teman sejawat sebagai pengamat. Agar pelaksanaan tindakan sesuai dengan kaidah PTK, perlu diterapkan enam kriteria berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Metodologi penelitian jangan sampai mengganggu komitmen guru sebagai pengajar&lt;br /&gt;•  Pengumpulan data jangan sampai menyita waktu guru terlampau banyak.&lt;br /&gt;•  Metodologi harus reliabel (handal) hingga guru dapat menerapkan strategi yang sesuai dengan situasi kelasnya.&lt;br /&gt;•  Masalah yang ditangani guru harus sesuai dengan kemampuan dan komitmennya.&lt;br /&gt;•  Guru harus memperhatikan berbagai aturan (etika) yang berkaitan dengan tugasnya.&lt;br /&gt;•  PTK harus mendapat dukungan dari masyarakat sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Observasi, Analisis Data, Tindak Lanjut, dan Laporan Penelitian Tindakan Kelas (PTK)&lt;br /&gt;Pengumpulan data dalam PTK dapat dilakukan dengan berbagai teknik seperti: observasi, catatan harian, rekaman, angket, wawancara, serta analisis dokumen hasil belajar siswa.&lt;br /&gt;Tahap observasi dan interpretasi dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan tindakan perbaikan. Selain untuk menginterpretasikan peristiwa yang muncul sebelum direkam, interpretasi juga membantu guru melakukan penyesuaian. Observasi yang efektif berlandaskan pada lima prinsip dasar yaitu:&lt;br /&gt;(1) harus ada perencanaan bersama antara guru dan pengamat,&lt;br /&gt;(2) fokus observasi harus ditetapkan bersama,&lt;br /&gt;(3) guru dan pengamat harus membangun kriteria observasi bersama-sama,&lt;br /&gt;(4) pengamat harus memiliki keterampilan mengobservasi, dan&lt;br /&gt;(5) observasi akan bermanfaat jika balikan diberikan segera dan mengikuti berbagai aturan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ada empat jenis observasi yang dapat dipilih, yaitu:&lt;br /&gt;Observasi terbuka, observasi terfokus, observasi terstruktur, dan observasi sistematik.&lt;br /&gt;Observasi yang bertujuan memantau proses dan dampak perbaikan dilakukan dengan mengikuti tiga langkah yang merupakan satu siklus yang selalu berulang, yaitu: pertemuan pendahuluan (perencanaan), pelaksanaan observasi, dan diskusi balikan. Agar ketiga tahap ini berlangsung efektif, hubungan guru dan pengamat harus didasari saling mempercayai, fokus kegiatan adalah perbaikan, proses tergantung dari pengumpulan dan pemanfaatan data yang objektif, guru didorong untuk mengambil kesimpulan, setiap tahap observasi merupakan proses yang berkesinambungan, serta guru dan pengamat terlibat dalam perkembangan profesional yang saling menguntungkan.&lt;br /&gt;Selain melalui observasi, data mengenai pembelajaran dapat dikumpulkan melalui catatan/laporan harian guru, catatan harian siswa, wawancara (antara guru dan siswa, pengamat dan siswa, serta pengamat dan guru), angket, dan telaah berbagai dokumen.&lt;br /&gt;Analisis data dilakukan dengan menyeleksi dan mengelompokkan data, memaparkan atau mendeskripsikan data dalam bentuk narasi, tabel, dan/atau grafik, serta menyimpulkan dalam bentuk pernyataan. Berdasarkan hasil analisis dilakukan refleksi, yaitu renungan atau mengingat kembali apa yang sudah berhasil dikerjakan, mengapa berhasil. Berdasarkan hasil refleksi, guru melakukan perencanaan tindak lanjut, yang dapat berupa revisi dari rencana lama, atau baru sama sekali.&lt;br /&gt;Sumber Buku Penelitian Tindakan Kela karya IGAK Wardhani&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9160165760161037566-7561245763469475348?l=hafulyon.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hafulyon.blogspot.com/feeds/7561245763469475348/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hafulyon.blogspot.com/2010/11/langkah-langkah-penelitian-tindakan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9160165760161037566/posts/default/7561245763469475348'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9160165760161037566/posts/default/7561245763469475348'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hafulyon.blogspot.com/2010/11/langkah-langkah-penelitian-tindakan.html' title=''/><author><name>HAFULYON MM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08733764793398655527</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_T62w1t6xAVs/ShfXK7BkbBI/AAAAAAAAAAM/_Ox51Zx1NBA/S220/100_0587.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9160165760161037566.post-1606989617343065841</id><published>2010-11-30T23:06:00.000-08:00</published><updated>2010-11-30T23:48:23.770-08:00</updated><title type='text'>PTK</title><content type='html'>Langkah-langkah Penelitian Tindakah Kelas&lt;br /&gt;Untuk menyusun / membuat Penelitian Tindakan Kelas (PTK) seorang guru harus memperhatikan langkah-langkah berikut :&lt;br /&gt;JUDUL :&lt;br /&gt;Judul PTK hendaknya dinyatakan dengan akurat dan padat permasalahan serta bentuk tindakan yang dilakukan peneliti sebagai upaya pemecahan masalah. Formulasi judul hendaknya singkat, jelas, dan sederhana namun secara tersirat telah menampilkan sosok PTK bukan sosok penelitian formal. Judul ditulis di halaman judul yang dilengkapi dengan identitas peneliti (nama dan NIP guru), lembaga/satuan pendidikan tempat guru bekerja, dan bulan serta tahun penulisan PTK.&lt;br /&gt;KATA PENGANTAR&lt;br /&gt;HALAMAN PERSETUJUAN (bila diperlukan, lazimnya diketahui dan ditandatangani oleh pimpinan/kepala sekolah setempat)&lt;br /&gt;DAFTAR ISI&lt;br /&gt;DAFTAR LAMPIRAN&lt;br /&gt;ABSTRAK : (Berisi judul, nama peneliti, uraian singkat PTK. Ditulis satu spasi dengan jumlah kata kurang lebih 250 kata. Disertai kata kunci)&lt;br /&gt;BAB I. PENDAHULUAN&lt;br /&gt;1. Latar Belakang Masalah (Dalam latar belakang permasalahan ini hendaknya diuraikan urgensi penanganan permasalahan yang diajukan itu melalui PTK. Untuk itu, harus ditunjukkan fakta – fakta yang mendukung, baik yang berasal dari observasi seorang guru selama ini maupun dari kajian pustaka. Dukungan berupa hasil penelitian –penelitian terdahulu, apabila ada juga akan lebih mengokohkan argumentasi mengenai urgensi serta signifikansi permasalahan yang akan ditangani melalui PTK yang diusulkan itu. Karakteristik khas PTK yang berbeda dari penelitian formal hendaknya tercermin dalam uraian di bagian ini.) &lt;br /&gt;2. Perumusan Masalah (Permasalahan yang diusulkan untuk ditangani melalui PTK itu dijabarkan secara lebih rinci dalam bagian ini. Masalah hendaknya benar – benar di angkat dari masalah keseharian di sekolah yang memang layak dan perlu diselesaikan melalui PTK. Sebaliknya permasalahan yang dimaksud hendaknya bukan permasalahan yang secara teknis metodologik di luar jangkauan PTK. Uraian permasalahan yang ada hendaknya didahului oleh identifikasi masalah, yang dilanjutkan dengan analisis masalah serta diikuti dengan refleksi awal sehingga gambaran permasalahan yang perlu di tangani itu nampak menjadi perumusan masalah tersebut. Dalam bagian ini dikunci dengan perumusan masalah tersebut. Dalam bagian inipun, sosok PTK harus secara konsisten tertampilkan.) &lt;br /&gt;3. Tujuan Penelitian (Tujuan PTK hendaknya dirumuskan secara jelas.paparkan sasaran antara dan akhir tindakan perbaikan.perumusan tujuan harus konsisten dengan hakekat permasalahan yang dikemukakan dalam bagian – bagian sebelumnya. Dengan sendirinya,artikulasi tujuan PTK berbeda dari tujuan formal. Sebagai contoh dapat dikemukakan PTK di bidang IPA yang bertujuan meningkatkan prestasi siswa dalam mata pelajaran IPA melalaui penerapan strategi PBM yang baru, pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar mengajar dan sebagainya. Pengujian dan/atau pengembangan strategi PBM baru bukan merupakan rumusan tujuan PTK. Selanjutnya ketercapaian tujuan hendaknya dapat diverfikasi secara obyektif. Syukur apabila juga dapat dikuantifikasikan.) Disamping tujuan PTK, juga perlu diuraikan kemungkinan kemanfaatan penelitian. Dalam hubungan ini, perlu dipaparkan secara spesifik keuntungan – keuntungan yang dijanjikan, khususnya bagi siswa sebagai pewaris langsung (direct beneficiaries) hasil PTK, di samping bagi guru pelaksana PTK, bagi rekan – rekan guru lainnya serta bagi para dosen LPTK sebagai pendidik guru. Berbeda dari konteks penelitian formal, kemanfaatan bagi pengembangan ilmu. Teknologi dan seni tidak merupakan prioritas dalam konteks PTK, meskipun kemungkinan kehadirannya tidak ditolak &lt;br /&gt;4. Manfaat Penelitian (Menjelaskan manfaat penelitian ini untuk penambahan/pengembangan wawasan, manfaat aplikasi hasil penelitian bagi keberhasilan pembelajaran siswa, bagi guru, sekolah dan mungkin pihak lain yang relevan dengan pemanfaatan hasil penelitian ini) &lt;br /&gt;BAB II. LANDASAN TEORI DAN PENGAJUAN HIPOTESIS&lt;br /&gt;1. Tinjauan Pustaka (Pada bagian ini diuraikan landasan substantif dalam arti teoritik dan/atau metodologik yang dipergunakan peneliti dalam menentukan alternatif, yang akan diimplementasikan. Untuk keperluan itu, dalam bagian ini diuraikan kajian baik pengalaman peneliti pelaku PTK sendiri yang relevan maupun pelaku – pelaku PTK lain di samping terhadap teori – teori yang lazim termuat dalam berbagai kepustakaan. Argumentasi logic dan teoritik diperlukan guna menyusun kerangka konseptual. Aras kerangka konseptual yang disusun itu, hipotesis tindakan dirumuskan.) &lt;br /&gt;2. Kerangka Pemikiran &lt;br /&gt;3. Hipotesis Tindakan &lt;br /&gt;BAB III METODE PENELITIAN (CARA PENELITIAN)&lt;br /&gt;1. Setting Penelitian Pada bagian ini disebutkan di mana penelitian tersebut dilakukan, di kelas berapa dan bagaimana karakteristik dari kelas tersebut seperti komposisi siswa pria dan wanita, latar belakang kemampuan akademik, kesulitan-kesulitan/kendala-kendala yang dihadapi siswa dalam pembelajaran, latar belakang sosial dan ekonomi yang mungkin relevan dengan permasalahan dan lain sebagainya. Aspek substantif kompetensi dan permasalahan yang dihadapi siswa dalam mata pelajaran pada kelas yang diteliti seperti IPA atau IPS atau Matematika kelas II SMP, juga dikemukakan pada bagian ini. &lt;br /&gt;2. Subjek Penelitian (Pada bagian ini dijelaskan jumlah dan deskripsi siswa) &lt;br /&gt;3. Variabel Penelitian (faktor yang diselidiki) Pada bagian ini ditentukan variabel – variabel penelitian yang dijadikan titik – titik incar untuk menjawab permasalahan yang dihadapi. Variabel tersebut dapat berupa (1) variabel input yang terkait dengan siswa, guru, bahan pelajaran, sumber belajar, prosedur evaluasi, lingkungan belajar, dan lain sebagainya; (2) variabel proses pelanggaran KBM seperti interaksi belajar-mengajar, keterampilan bertanya, guru, gaya mengajar guru, cara belajar siswa, implementasi berbagai metode mengajar di kelas, dan sebagainya, dan (3) varaibel output seperti rasa keingintahuan siswa, kemampuan siswa mengaplikasikan pengetahuan, motivasi siswa, hasil belajar siswa, sikap terhadap pengalaman belajar yang telah digelar melalui tindakan perbaikan dan sebagainya. &lt;br /&gt;4. Teknik pengumpulan data (Data dan Cara Pengambilannya) Pada bagian ini ditunjukkan dengan jelas jenis data yang akan dikumpulkan yang berkenaan dengan baik proses maupun dampak tindakan perbaikan yang di gelar, yang akan digunakan sebagai dasar untuk menilai keberhasilan atau kekurangberhasilan tindakan perbaikan pembelajaran yang dicobakan. Format data dapat bersifat kualitatif, kuantitatif, atau kombinasi keduanya. Di samping itu teknik pengumpilan data yang diperlukan juga harus diuraikan dengan jelas seperti melalui pengamatan partisipatif, pembuatan jurnal harian, observasi aktivitas di kelas (termasuk berbagai kemungkinan format dan alat bantu rekam yang akan digunakan)penggambaran interaksi dalam kelas (analisis sosiometrik), pengukuran hasil belajar dengan berbagai prosedur asesmen dan sebagainya.selanjutnya dalam prosedur pengumpulan data PTK ini tidak boleh dilupakan bahwa sebagai pelaku PTK, para guru juga harus aktif sebagai pengumpul data, bukan semata – mata sebagai sumber data. Akhirnya semua teknologi pengumpulan data yang digunakan harus mendapat penilaian kelaikan yang cermat dalam konteks PTK yang khas itu. Sebab meskipun mungkin saja memang menjanjikan mutu rekaman yang jauh lebih baik. Penggunaan teknologi perekaman data yang canggih dapat saja terganjal keras pada tahap tayang ulang dalam rangka analisis dan interpretasi data. &lt;br /&gt;5. Indikator Kinerja (Pada bagian ini tolak ukur keberhasilan tindakan perbaikan ditetapkan secara eksplisit sehingga memudahkan verifikasinya untuk tindak perbaikan melalui PTK yang bertujuan mengurangi kesalahan konsep siswa misalnya perlu ditetapkan kriteria keberhasilan dalam bentuk pengurangan (jumlah, jenis dan atau tingkat kegawatan) miskonsepsi yang tertampilkan yang patut diduga sebagai dampak dari implementasi tindakan perbaikan yang dimaksud.) &lt;br /&gt;6. Analisis Data (Pada bagian ini menjelaskan teknik, tata cara/prosedur dalam menganalisis data, baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Bentuk/jenis data dan uji statistik yang digunakan juga dijelaskan, misalnya rumus uji statistik dan lain-lainnya) &lt;br /&gt;7. Prosedur Penelitian (langkah-langkah PTK) Pada bagian ini digambarkan rencana tindakan untuk meningkatkan pembelajaran, seperti : (1) Perencanaan, yaitu persiapan yang dilakukan sehubungan dengan PTK yang diprakarsai seperti penetapan entry behavior. Pelancaran tes diagnostik untuk menspesifikasi masalah. Pembuatan scenario pembelajaran, pengadaan alat–alat dalam rangka implementasi PTK, dan lain–lain yang terkait dengan pelaksanaan tindakan perbaikan yang telah ditetapkan sebelumnya. Di samping itu juga diuraikan alternatif solusi yang akan dicobakan dalam rangka perbaikan masalah, (2) Implementasi Tindakan yaitu deskripsi tindakan yang akan di gelar. Scenario kerja tindakan perbaikan dan prosedur tindakan yang akan diterapkan, (3) Observasi dan Interpretasi yaitu uraian tentang prosedur perekaman dan penafsiran data mengenai proses dan produk dari implementasi tindakan perbaikan yang dirancang, dan (4) Analisis dan Refleksi yaitu uraian tentang prosedur analisis terhadap hasil pemantauan dan refleksi berkenaan dengan proses dan dampak tindakan perbaikan yang akan digelar, personel yang akan dilibatkan serta kriteria dan rencana bagi tindakan siklus/daur berikutnya. &lt;br /&gt;BAB IV HASIL PENELITIAN&lt;br /&gt;1. Siklus I &lt;br /&gt;2. Siklus II &lt;br /&gt;3. Siklus III &lt;br /&gt;4. Siklus berikutnya (jika ada) &lt;br /&gt;5. Pembahasan antar siklus &lt;br /&gt;Uraian tiap siklus meliputi: (a) Perencanaan tindakan (Skenario pembelajaran), (b) Pelaksanaan tindakan (deskripsi proses pembelajaran), (c) Pelaksanaan observasi (sajian hasil analisis data), dan (d) Refleksi (kajian terhadap indikator kinerja terhadap hasil dan proses pembelajaran dan analisis kritis hasil tiap siklus).&lt;br /&gt;BAB V SIMPULAN DAN SARAN&lt;br /&gt;1. Simpulan &lt;br /&gt;2. Saran &lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA &lt;br /&gt;LAMPIRAN-LAMPIRAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Posted by Hasan at 03.55&lt;br /&gt;Labels: PTK&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9160165760161037566-1606989617343065841?l=hafulyon.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hafulyon.blogspot.com/feeds/1606989617343065841/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hafulyon.blogspot.com/2010/11/ptk.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9160165760161037566/posts/default/1606989617343065841'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9160165760161037566/posts/default/1606989617343065841'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hafulyon.blogspot.com/2010/11/ptk.html' title='PTK'/><author><name>HAFULYON MM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08733764793398655527</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_T62w1t6xAVs/ShfXK7BkbBI/AAAAAAAAAAM/_Ox51Zx1NBA/S220/100_0587.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9160165760161037566.post-3675747238794328323</id><published>2010-11-26T00:22:00.000-08:00</published><updated>2010-11-26T00:52:37.941-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;object classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id="ieooui"&gt;&lt;/object&gt; &lt;style&gt; st1\:*{behavior:url(#ieooui) } &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;  mso-para-margin:0cm;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-ansi-language:#0400;  mso-fareast-language:#0400;  mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 13.5pt;"&gt;Penelitian Tindakan Kelas – Definisi &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="margin-bottom: 12pt; text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;Penelitian Tindakan Kelas – Definisi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammad Faiq Dzaki&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian tindakan kelas berasal dari istilah bahasa Inggris Classroom Action Research, yang berarti penelitian yang dilakukan pada sebuah kelas untuk mengetahui akibat tindakan yang diterapkan pada suatu subyek penelitian di kelas tersebut. Pertama kali penelitian tindakan kelas diperkenalkan oleh Kurt Lewin pada tahun 1946, yang selanjutnya dikembangkan oleh Stephen Kemmis, Robin Mc Taggart, John Elliot, Dave Ebbutt dan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada awalnya penelitian tindakan menjadi salah satu model penelitian yang dilakukan pada bidang pekerjaan tertentu dimana peneliti melakukan pekerjaannya, baik di bidang pendidikan, kesehatan maupun pengelolaan sumber daya manusia. Salah satu contoh pekerjaan utama dalam bidang pendidikan adalah mengajar di kelas, menangani bimbingan dan konseling, dan mengelola sekolah. Dengan demikian yang menjadi subyek penelitian adalah situasi di kelas, individu siswa atau di sekolah. Para guru atau kepala sekolah dapat melakukan kegiatan penelitiannya tanpa harus pergi ke tempat lain seperti para peneliti konvensional pada umumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara lebih luas penelitian tindakan diartikan sebagai penelitian yang berorientasi pada penerapan tindakan dengan tujuan peningkatan mutu atau pemecahan masalah pada sekelompok subyek yang diteliti dan mengamati tingkat keberhasilan atau akibat tindakannya, untuk kemudian diberikan tindakan lanjutan yang bersifat penyempurnaan tindakan atau penyesuaian dengan kondisi dan situasi sehingga diperoleh hasil yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks pekerjaan guru maka penelitian tindakan yang dilakukannya disebut Penelitian Tindakan Kelas, dengan demikian Penelitian Tindakan Kelas adalah suatu kegiatan penelitian dengan mencermati sebuah kegiatan belajar yang diberikan tindakan, yang secara sengaja dimunculkan dalam sebuah kelas, yang bertujuan memecahkan masalah atau meningkatkan mutu pembelajaran di kelas tersebut. Tindakan yang secara sengaja dimunculkan tersebut diberikan oleh guru atau berdasarkan arahan guru yang kemudian dilakukan oleh siswa. Dalam hal ini arti Kelas tidak terikat pada pengertian ruang kelas, tetapi dalam pengertian yang lebih spesifik, yaitu kelas adalah sekelompok siswa yang dalam waktu yang sama, menerima pelajaran yang sama dari guru yang sama juga (Suharsimi: 2005).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Penelitian Tindakan Kelas, DR. Sulipan, M.Pd.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 13.5pt;"&gt;Penelitian Tindakan Kelas – Beberapa Kriteria yang Biasanya Dinilai &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: red;" lang="SV"&gt;Penelitian Tindakan Kelas – Beberapa Kriteria yang Biasanya Dinilai&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="color: red;" lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Peenelitian tindakan kelas yang baik biasanya akan memenuhi berbagai kriteria, sehingga apabila dilaksanakan akan memperoleh hasil sesuai yang diharapkan: yaitu peningkatan mutu pembelajaran. Beberapa kriteria yang merujuk pada penelitian tindakan kelas yang baik antara lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Perumusan Masalah (terutama: asal, relevansi, dan cakupan permasalahan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Cara Pemecahan Masalah (terutama: rancangan tindakan, dan kontekstualitas tindakan, kriteria keberhasilan sebuah tindakan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Kemanfaatan Hasil Penelitian (terutama: potensi untuk memperbaiki atau meningkatkan kualitas isi, proses, masukan, atau hasil pembelajaran dan/atau pendidikan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Prosedur Penelitian (terutama: prosedur diagnosis masalah, perencanaan tindakan, prosedur pelaksanaan tindakan, prosedur observasi dan evaluasi, prosedur refleksi hasil penelitian).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Kegiatan Pendukung (terutama: jadwal penelitian, sarana pendukung pembelajaran masing-masing anggota penelitian dalam setiap kegiatan penelitian, dan kelayakan pembiayaan).&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 13.5pt;"&gt;Penelitian Tindakan Kelas - Tahapan PTK &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="margin-bottom: 12pt; text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;Penelitian Tindakan Kelas - Tahapan PTK&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammad Faiq Dzaki&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa ahli yang mengemukakan model penelitian tindakan kelas seperti dinyatakan sebelumnya, namun secara garis besar terdapat empat tahapan yang lazim dilalui, yaitu tahap: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) pengamatan, dan (4) refleksi. Namun perlu diketahui bahwa tahapan pelaksanaan dan pengamatan sesungguhnya dilakukan secara bersamaan. Adapun model dan penjelasan untuk masing-masing tahap adalah sebagai berikut.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;Tahap 1: Perencanaan tindakan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="margin-bottom: 12pt; text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Dalam tahap ini peneliti menjelaskan tentang apa, mengapa, kapan, di mana, oleh siapa, dan bagaimana tindakan tersebut dilakukan. Penelitian tindakan yang ideal sebetulnya dilakukan secara berpasangan antara pihak yang melakukan tindakan dan pihak yang mengamati proses jalannya tindakan (apabaila dilaksanakan secara kolaboratif). Cara ini dikatakan ideal karena adanya upaya untuk mengurangi unsur subjektivitas pengamat serta mutu kecermatan amatan yang dilakukan. Bila dilaksanakan sendiri oleh guru sebagai peneliti maka instrumen pengamatan harus disiapkan disertai lembar catatan lapangan. Yang perlu diingat bahwa pengamatan yang diarahkan pada diri sendiri biasanya kurang teliti dibanding dengan pengamatan yang dilakukan terhadap hal-hal yang berada di luar diri, karena adanya unsur subjektivitas yang berpengaruh, yaitu cenderung mengunggulkan dirinya. Dalam pelaksanaan pembelajaran rencana tindakan dalam rangka penelitian dituangkan dalam bentuk Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;Tahap 2: Pelaksanaan Tindakan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="margin-bottom: 12pt; text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Adalah pelaksanaan, yaitu implementasi atau penerapan isi rencana tindakan di kelas yang diteliti. Hal yang perlu diingat adalah bahwa dalam tahap 2 ini pelaksana guru harus ingat dan berusaha mentaati apa yang sudah dirumuskan dalam rencana tindakan, tetapi harus pula berlaku wajar, tidak kaku dan tidak dibuat-buat. Dalam refleksi, keterkaitan antara pelaksanaan dengan perencanaan perlu diperhatikan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;Tahap 3: Pengamatan terhadap tindakan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Yaitu kegiatan pengamatan yang dilakukan oleh pengamat (baik oleh orang lain maupun guru sendiri). Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa kegiatan pengamatan ini tidak terpisah dengan pelaksanaan tindakan karena pengamatan dilakukan pada waktu tindakan sedang dilakukan. Jadi keduanya berlangsung dalam waktu yang sama. Sebutan tahap 2 dan 3 dimaksudkan untuk memberikan peluang kepada guru pelaksana yang berstatus juga sebagai pengamat, yang mana ketika guru tersebut sedang melakukan tindakan tentu tidak sempat menganalisis peristiwanya ketika sedang terjadi. Oleh karena itu kepada guru pelaksana yang berstatus sebagai pengamat ini untuk melakukan "pengamatan balik" terhadap apa yang terjadi ketika tindakan berlangsung. Sambil melakukan pengamatan balik ini guru pelaksana mencatat sedikit demi sedikit apa yang terjadi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="color: red;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;Tahap 4: Refleksi terhadap tindakan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Merupakan kegiatan untuk mengemukakan kembali apa yang sudah dilakukan. Istilah "refleksi" dari kata bahasa Inggris reflection, yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia pemantulan. Kegiatan refleksi ini sebetulnya lebih tepat dikenakan ketika guru pelaksana sudah selesai melakukan tindakan, kemudian berhadapan dengan peneliti untuk mendiskusikan implementasi rancangan tindakan. Inilah inti dari penelitian tindakan, yaitu ketika guru pelaku tindakan mengatakan kepada peneliti pengamat tentang hal-hal yang dirasakan sudah berjalan baik dn bagian mana yang belum. &lt;span style="" lang="SV"&gt;Apabila guru pelaksana juga berstatus sebagai pengamat, maka refleksi dilakukan terhadap diri sendiri. Dengan kata lain guru tersebut melihat dirinya kembali, melakukan "dialog" untuk menemukan hal-hal yang sudah dirasakan memuaskan hati karena sudah sesuai dengan rancangan dan mengenali hal-hal yang masih perlu diperbaiki. Dalam hal seperti ini maka guru melakukan ”self evaluation” yang diharapkan dilakukan secara obyektif. Untuk menjaga obyektifitas tersebut seringkali hasil refleksi ini diperiksa ulang atau divalidasi oleh orang lain, misalnya guru/teman sejawat yang diminta mengamati, ketua jurusan, kepala sekolah atau nara sumber yang menguasai bidang tersebut. Jadi pada intinya kegiatan refleksi adalah kegiatan evaluasi, analisis, pemaknaan, penjelasan, penyimpulan dan identifikasi tindak lanjut dalam perencanaan siklus selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat tahap dalam penelitian tindakan tersebut adalah unsur untuk membentuk sebuah siklus, yaitu satu putaran kegiatan beruntun, dari tahap penyusunan rancangan sampai dengan refleksi, yang tidak lain adalah evaluasi. Apabila dikaitkan dengan "bentuk tindakan" sebagaimana disebutkan dalam uraian ini, maka yang dimaksud dengan bentuk tindakan adalah siklus tersebut. Jadi bentuk penelitian tindakan tidak pernah merupakan kegiatan tunggal tetapi selalu berupa rangkaian kegiatan yang akan kembali ke asal, yaitu dalam bentuk siklus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Penelitian Tindakan Kelas, DR. Sulipan, M.Pd.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 13.5pt;" lang="SV"&gt;Penelitian Tindakan Kelas – Jenis-Jenis PTK &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="margin-bottom: 12pt; text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Penelitian Tindakan Kelas – Jenis-Jenis PTK&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammad Faiq Dzaki&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdapat empat jenis Penelitian Tindakan Kelas, yaitu :&lt;br /&gt;¨ &lt;b&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;Jenis Diagnostik&lt;/span&gt;&lt;/b&gt; maksudnya penelitian dilakukan untuk menuntun peneliti ke arah suatu tindakan karena suatu masalah yang terjadi, misalnya adanya konflik antar siswa di kelas, adanya pertengkaran di antara siswa dan sejenisnya.&lt;br /&gt;¨ Jenis Partisipan maksudnya penelitian dilakukan dengan keterlibatan langsung peneliti dari awal sampai akhir proses.&lt;br /&gt;¨&lt;b&gt;&lt;span style="color: red;"&gt; Jenis Empirik&lt;/span&gt;&lt;/b&gt; maksudnya penelitian dilakukan dengan cara merencanakan, mencatat pelaksanaan dan mengevaluasi pelaksanaan dari luar arena kelas, jadi dalam penelitian jenis ini peneliti harus berkolaborasi dengan guru yang melaksanakan tindakan di kelas.&lt;br /&gt;¨ &lt;b&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;Jenis Eksperimental &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;maksudnya penelitian dilakukan sebagai upaya menerapkan berbagai teknik, metode atau strategi dalam pembelajaran secara efektif dan efisien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Penelitian Tindakan Kelas, DR. Sulipan, M.Pd.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 13.5pt;" lang="SV"&gt;Penelitian Tindakan Kelas – Hasil Penelitian dan Pembahasan &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;Penelitian Tindakan Kelas – Hasil Penelitian dan Pembahasan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammad Faiq Dzaki&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam sebuah laporan penelitian, maka bagian yang memaparkan tentang hasil penelitian merupakan inti dari laporan tersebut. Untuk itu dalam penelitian tindakan kelas bagian tersebut harus menjadi perhatian utama karena sederet apapun latar belakang masalah, berbaris-baris landasan teori dan uraian metodologi penelitian, tidak akan ada artinya tanpa paparan hasil&lt;br /&gt;penelitian yang kemudian dibahas atau dianalisis untuk selanjutnya disimpulan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat memberikan paparan hasil penelitian, pertama kali harus diuraikan tentang latar penelitian yang meliputi di mana dan kapan penelitian dilakukan, sehingga pembaca dibawa ke suasana di mana penelitian dilakukan. Kalau perlu bagian ini dilengkapi dengan foto sekolah dan kelas di mana penelitian di lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, laporkan langkah-langkah demi langkah yang dilakukan tiap siklus mulai dari perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, bagaimana pengamatan dilakukan dan hasil refleksi yang telah dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula halnya, urutan kegiatan sebagaimana telah dituliskan dalam tabel kisi-kisi indikator proses harus diuraikan sehingga jelas apa tindakannya dan bagaimana tindakan itu dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam laporan, dengan berdasarkan refleksi siklus pertama, maka harus jelas pula upaya apa yang dilakukan untuk memperbaiki tindakan yang akan dilaksanakan pada siklus ke dua dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi harus jelas perbedaan urutan kegiatan pada siklus pertama dan kedua sebagai wujud ”perbaikan tindakan pertama”, kalau perlu uraikan keunggulan dari tindakan yang dilakukan pada siklus kedua dibandingkan dengan tindakan pada siklus pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Penelitian Tindakan Kelas, DR. Sulipan, M.Pd.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 13.5pt;"&gt;Penelitian Tindakan Kelas – Karakteristik PTK &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;Penelitian Tindakan Kelas – Karakteristik PTK&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;br /&gt;Muhammad Faiq Dzaki&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa pakar mengemukakan karakteristik penelitian tindakan kelas sebagai berikut :&lt;br /&gt;¨ didasarkan atas masalah yang dihadapi guru dalam pembelajaran;&lt;br /&gt;¨ dilakukan secara kolaboratif melalui kerja sama dengan pihak lain;&lt;br /&gt;¨ peneliti sekaligus sebagai praktisi yang melakukan refleksi;&lt;br /&gt;¨ bertujuan memecahkan masalah atau meningkatkan mutu pembelajaran; dan&lt;br /&gt;¨ dilaksanakan dalam rangkaian langkah yang terdiri dari beberapa siklus;&lt;br /&gt;¨ yang diteliti adalah tindakan yang dilakukan, meliputi efektifitas metode, teknik, atau proses pembelajaran (termasuk perencanaan, pelaksanaan dan penilaian);&lt;br /&gt;¨ tindakan yang dilakukan adalah tindakan yang diberikan oleh guru kepada peserta didik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pakar yang lain menyebutkan ada enam karakteristik penelitian tindakan kelas (Winter: 1996), yaitu :&lt;br /&gt;¨ kritik refleksi, yaitu adanya refleksi yang bersifat evaluasi pelaksanaan pembelajaran;&lt;br /&gt;¨ kritik dialektis, yaitu adanya pandangan kritis dan obyektif terhadap kelemahan atau hambatan dalam pelaksanaan;&lt;br /&gt;¨ kolaboratif, yaitu adanya kerjasama dengan pihak lain untuk mengamati atau sumber data atas masalah yang dihadapi dalam pembelajaran;&lt;br /&gt;¨ resiko, berarti peneliti atau guru sendiri harus berani mengambil resiko bahwa hipotesisnya meleset atau beresiko untuk melakukan perubahan yang bersifat perbaikan;&lt;br /&gt;¨ susunan jamak, yaitu bersifat reflektif, dialektis, partisipatif dan kolaboratif; dan&lt;br /&gt;¨ intenalisasi teori dan praktik, artinya teori dan praktik bukanlah hal yang terpisah, tetapi hanya merupakan satu hal yang memiliki tahapan berbeda, yang saling bergantung satu sama lain, dengan demikian pengembangan teori akan berakibat pada praktik demikian juga pengembangan praktik yang berdampak pada teori.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Penelitian Tindakan Kelas, DR. Sulipan, M.Pd.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 13.5pt;"&gt;Penelitian Tindakan Kelas – Persiapan dan Pelaksanaan PTK &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;Penelitian Tindakan Kelas – Persiapan dan Pelaksanaan PTK&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammad Faiq Dzaki&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum melakukan penelitian tindakan kelas, perjelas lebih dulu latar belakang masalah, rumusan masalah dan tujuan penelitian. Yang perlu dilakukan adalah adanya kesinkronan antara masalah dan tujuan penelitian. Karena tujuan penelitian adalah memecahkan masalah maka apabila rumusan masalah berbunyi :”Apakah penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT dalam pembelajaran mampu meningkatkan aktifitas siswa pada pembelajaran Fisika kelas IX SMPN 105 Palangkaraya Tahun Ajaran 2008/2009?”,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, tujuan penelitian yang sesuai adalah :”Untuk mengetahui keberhasilan penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT dalam pembelajaran guna meningkatkan aktifitas siswa pada pembelajaran Fisika kelas IX SMPN 105 Palangkaraya Tahun Ajaran 2008/2009”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah jelas masalah dan tujuannya maka ditentukan Indikator Keberhasilan penerapan Metode Pemberian Tugas Proyek, yang selanjutnya juga dibuat Indikator Proses dan Urutan Kegiatan sesuai tabel kisi-kisi di atas. &lt;span style="" lang="SV"&gt;Urutan kegiatan itulah yang dituangkan dalam bentuk Rencana Pelaksanaan Pembelajaran. Berdasarkan urutan kegiatan tes, catatan lapangan, atau hasil angket bila ada. Yang perlu diingat adalah, sejauh mana penerapan tindakan tersebut telah mencapai keberhasilan sebagaimana ditunjukkan dalam Indikator Keberhasilan dan sejauh mana prosesnya telah sesuai dengan Indikator Proses yang direncanakan. Dari hasil refleksi yang berupa evaluasi pelaksanaan pembelajaran ini maka guru merencanakan tindakan lanjutan yang berupa perbaikan atas kekurangan yang terjadi dalam pelaksanaan pembelajaran sesuai dengan pemberian tindakan yang telah direncanakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian seterusnya proses berjalan siklus demi siklus sampai dirasakan bahwa tindakan yang diterapkan telah berhasil meningkatkan mutu pembelajaran. tersebut dapat ditentukan instrumen yang diperlukan yakni berupa lembar pengematan (untuk mengamati tingkah laku siswa, guru, dan penggunaan sarana pembelajaran). Apabila dirasakan perlu mengorek keterangan lebih jauh maka dapat disiapkan pedoman wawancara atau bahkan disiapkan angket bagi siswa sekolah menengah (bagi siswa SD tentunya tidak cocok bila menggunakan angket). Setelah instrumen penelitian disiapkan maka disiapkan segala keperluan yang akan digunakan dalam pembelajaran, misalnya lembar materi, lembar tes, alat peraga dan sebagainya. Apabila sudah siap maka dimulailah penerapan tindakan dalam kelas yang diajar oleh guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Penerapan tindakan mungkin saja dilakukan dalam beberapa kali tatap muka. Setiap kali tatap muka maka sekaligus dilakukan pengamatan oleh rekan mitra kerja atau oleh guru sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai satu tindakan, selanjutnya guru melakukan refleksi pelaksanaan pembelajaran atas dasar pengamatan yang sudah dilakukan. Dalam hal ini guru mengkaji isi lembar observasi, hasil tes, catatan lapangan, atau hasil angket bila ada. Yang perlu diingat adalah, sejauh mana penerapan tindakan tersebut telah mencapai keberhasilan sebagaimana ditunjukkan dalam Indikator Keberhasilan dan sejauh mana prosesnya telah sesuai dengan Indikator Proses yang direncanakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari hasil refleksi yang berupa evaluasi pelaksanaan pembelajaran ini maka guru merencanakan tindakan lanjutan yang berupa perbaikan atas kekurangan yang terjadi dalam pelaksanaan pembelajaran sesuai dengan pemberian tindakan yang telah direncanakan. Demikian seterusnya proses berjalan siklus demi siklus sampai dirasakan bahwa tindakan yang diterapkan telah berhasil meningkatkan mutu pembelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Penelitian Tindakan Kelas, DR. Sulipan, M.Pd.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 13.5pt;" lang="FI"&gt;Penelitian Tindakan Kelas – Persyaratan Terkait Kegiatan Pengembangan Profesi &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="margin-bottom: 12pt; text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Penelitian Tindakan Kelas – Persyaratan Terkait Kegiatan Pengembangan Profesi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammad Faiq Dzaki&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hal di bawah ini antara lain merupakan persyaratan untuk diterimanya laporan penelitian tindakan yang dilakukan oleh guru dalam kaitannya dengan penilaian prestasi kerja (angka kredit) guru dalam unsur Kegiatan Pengembangan Profesi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;¨ Penelitian tindakan kelas harus tertuju atau mengenai hal-hal yang terjadi di dalam pembelajaran, dan berguna untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;¨ Penelitian tindakan kelas oleh guru menuntut dilakukannya pencermatan secara terus-menerus, objektif, dan sistematis, artinya dicatat atau direkam dengan baik sehingga diketahui dengan pasti tingkat keberhasilan yang diperoleh peneliti serta penyimpangan yang terjadi; hasil pencermatan tersebut akan menetukan tindak lanjut yang harus diambil segera oleh peneliti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;¨ Penelitian tindakan harus dilakukan sekurang- kurangnya dalam dua siklus tindakan yang berurutan; informasi dari siklus yang terdahulu sangat menentukan bentuk siklus berikutnya. Oleh karena itu siklus yang kedua, ketiga dan seterusnya tidak dapat dirancang sebelum siklus pertama terjadi. Hasil refleksi harus tampak digunakan sebagai bahan masukan untuk perencanaan siklus berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;¨ Penelitian tindakan kelas terjadi secara wajar, tidak mengubah aturan yang sudah ditentukan, dalam arti tidak mengubah jadwal yang berlaku. Tindakan yang dilakukan tidak boleh merugikan siswa, baik yang dikenai atau siswa lain. Makna darim kalimat ini adalah bahwa tindakan yang dilakukan guru tidak hanya memilih anak-anak tertentu, tetapi harus semua siswa dalam kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;¨ Penelitian tindakan kelas disadari betul oleh pelakunya, sehingga yang bersangkutan dapat mengemukakan kembali apa yang dilakukan, baik mengenai tindakan, suasana ketika terjadi, reaksi siswa, urutan peristiwa, hal-hal yang dirasakan sebagai kelebihan dan kekurangan dibandingkan dengan rencana yang sudah dibuat sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Penelitian Tindakan Kelas, DR. Sulipan, M.Pd.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 13.5pt;" lang="FI"&gt;Penelitian Tindakan Kelas – Unsur Pembelajaran Yang Dikaji dalam PTK &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;Penelitian Tindakan Kelas – Unsur Pembelajaran Yang Dikaji dalam PTK&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammad Faiq Dzaki&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal-hal yang dapat diamati sehubungan dengan setiap unsur pembelajaran yang diamati dalam penelitian tindakan kelas antara lain adalah sebagaimana disajikan dalam bagian berikut. Sesuai dengan prinsip bahwa ada tindakan dirancang sebelumnya maka objek penelitian tindakan kelas harus merupakan sesuatu yang aktif dan dapat dikenai aktivitas, bukan objek yang sedang diam dan tanpa gerak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;¨ Unsur siswa, dapat dicermati objeknya ketika siswa yang bersangkutan sedang asyik mengikuti proses pembelajaran di kelas/lapangan/ laboratorium atau bengkel, maupun ketika sedang asyik mengerjakan pekerjaan rumah di dalam hati, atau ketika mereka sedang mengikuti kerja bhakti di luar sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;¨ Unsur guru, dapat dicermati ketika yang bersangkutan sedang mengajar di kelas, sedang membimbing siswa-siswa yang sedang berdarmawisata., atau ketika guru sedang mengadakan kunjungan ke rumah siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;¨ Unsur materi pelajaran, dapat dicermati urutan materi tersebut ketika disajikan kepada siswa, meliputi pengorganisasiannya, cara penyajiannya, atau pengaturannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;¨ Unsur peralatan atau sarana pendidikan, meliputi peralatan, baik yang dimiliki oleh siswa secara perorangan, peralatan yang disediakan oleh sekolah, ataupun peralatan yang disediakan dan digunakan di kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;¨ Unsur hasil pembelajaran, yang ditinjau dari tiga ranah yang dijadikan titik tujuan yang harus di capai melalui pembelajaran, baik susunan maupun tingkat pencapaian. Oleh karena hasil belajar merupakan produk yang harus ditingkatkan, pasti terkait dengan tindakan unsur lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;¨ Unsur lingkungan, baik lingkungan siswa di kelas, sekolah, maupun yang melingkungi siswa dirumahnya. Informasi tentang lingkungan ini dikaji bukan untuk dilakukan camput tangan, tetapi digunakan sebagai pertimbangan dan bahan untuk pembahasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;¨ Unsur pengelolaan, yang jelas-jelas merupakan gerak kegiatan sehingga mudah diatur dan direkayasa dalam bentuk tindakan. Yang digolongkan sebagai kegiatan pengelolaan misalnya cara mengelompokkan siswa ketika guru memberikan tugas, pengaturan urutan jadwal, pengaturan, tempat duduk siswa, penempatan papan tulis, penataan peralatan milik siswa dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Penelitian Tindakan Kelas, DR. Sulipan, M.Pd.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 13.5pt;"&gt;Penelitian Tindakan Kelas – Prinsip-Prinsip Dasar &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;Penelitian Tindakan Kelas – Prinsip-Prinsip Dasar&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="margin-bottom: 12pt; text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;br /&gt;Muhammad Faiq Dzaki&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar peneliti memperoleh informasi atau kejelasan tetapi tidak menyalahi kaidah yang ditentukan, perlu kiranya difahami bersama prinsip-prinsip yang harus dipenuhi apabila sedang melakukan penelitian tindakan kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum prinsip-prinsip tersebut adalah :&lt;br /&gt;¨ tidak mengganggu komitmen guru sebagai pengajar;&lt;br /&gt;¨ metode pengumpulan data tidak menuntut waktu yang berlebihan;&lt;br /&gt;¨ metodologi yang digunakan harus reliable sehingga memungkinkan guru mengidentifikasi serta merumuskan hipotesis secara meyakinkan;&lt;br /&gt;¨ masalah berawal dari kondisi nyata di kelas yang dihadapi guru;&lt;br /&gt;¨ dalam penyelenggaraan penelitian, guru harus memperhatikan etika profesionalitas guru;&lt;br /&gt;¨ meskipun yang dilakukan adalah di kelas, tetapi harus dilihat dalam konteks sekolah secara menyeluruh;&lt;br /&gt;¨ tidak mengenal populasi dan sampel;&lt;br /&gt;¨ tidak mengenal kelompok eksperimen dan control; dan&lt;br /&gt;¨ tidak untuk digeneralisasikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pakar lain menyebutkan prinsip-prinsip penelitian tindakan kelas adalah sebagai berikut.&lt;br /&gt;¨ Situasi biasa. Penelitian tindakan dilakukan oleh peneliti tanpa mengubah situasi yang biasa terjadi, karena kalau penelitian dilakukan dalam situasi yang berbeda dari biasanya, maka hasilnya mungkin berbeda jika dilaksanakan lagi dalam situasi aslinya. Oleh karena itu penelitian tindakan tidak perlu mengadakan waktu khusus untuk diamati, jadi harus dibiarkan apa adanya namun yang berbeda adalah adanya tindakan untuk meningkatkan mutu pembelajaran.&lt;br /&gt;¨ Kegiatan nyata/empirik. Penelitian tindakan dilakukan oleh peneliti dalam kaitannya dengan tugasnya sebagai guru atau kepala sekolah. Jadi tindakan yang dilakukan merupakan tindakan nyata yang dilakukan dalam tugasnya sehari-hari dan secara empirik memang terjadi di lapangan.&lt;br /&gt;¨ Peningkatan mutu atau pemecahan masalah. Penelitian tindakan merupakan sebuah upaya untuk meningkatkan mutu sesuatu yang sudah ada dan biasa menjadi lebih baik lagi atau merupakan sebuah upaya untuk memecahkan masalah yang terjadi di kelas atau di sekolahnya.&lt;br /&gt;¨ Sukarela. Penelitian tindakan dilakukan bukan karena ada paksaan atau permintaan dari pihak lain, tetapi atas dasar sukarela, karena mengharapkan hasil yang lebih baik.&lt;br /&gt;¨ Sistemik. Berarti penelitian harus dilakukan secara terencana, terarah, dan teratur berdasarkan sebuah mekanisme tertentu. Jadi, jika guru mengupayakan cara mengajar yang baru, maka harus juga memikirkan tentang langkah-langkahnya, bahan ajarnya, sarana pendukung dan hal-hal yang terkait dengan cara baru tersebut. Jika kepala sekolah akan melakukan upaya manajemen yang baru maka harus dipersiapkan prosedurnya, kebijakan pendukungnya serta sosialisasi implementasinya.&lt;br /&gt;¨ Tindakan berbeda. Penelitian tindakan harus dapat menunjukkan bahwa tindakan yang diberikan kepada siswa memang berbeda dari apa yang sudah biasa dilakukan. karena yang biasa sudah jelas menunjukkan hasil yang kurang memuaskan. Oleh karena itu guru melakukan tindakan yang diperkirakan dapat memberikan hasil yang lebih baik.&lt;br /&gt;¨ Terpusat pada proses, bukan semata-mata hasil. Penelitian tindakan merupakan kegiatan yang dilakukan oleh guru atau peneliti untuk memperbaiki atau meningkatkan hasil , dengan mengubah cara, metode, pendekatan atau strategi yang berbeda dari biasanya. Cara, metode, pendekatan atau strategi tersebut berupa proses yang harus diamati secara cermat, dilihat kelancarannya, kesesuaian dengan dan penyimpangannya dari rencana, kesulitan atau hambatan yang dijumpai, dan lain-lain aspek yang berkaitan dengan proses. Sejauh mana proses ini sudah memenuhi harapan, lalu dikaitkan dengan hasil setelah satu atau dua kali tindakan berakhir. Dengan kata lain, dalam melaksanakan penelitian, peneliti tidak harus selalu berpikir dan mengejar hasil, tetapi mengamati proses yang terjadi. Hasil yang diperoleh merupakan dampak dari prosesnya. Jadi dalam penelitian tindakan harus ada indikator proses dan indikator keberhasilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdapat kesalahan yang umum terjadi pada penelitian tindakan kelas adalah penonjolan tindakan yang dilakukan oleh guru, misalnya guru memberikan tes kepada siswa, guru memberikan tugas proyek kepada siswa atau yang sejenisnya. Pernyataan seperti itu kurang tepat, karena seharusnya yang ditonjolkan adalah kegiatan siswa, misalnya siswa mengamati proses tumbuhnya kecambah, siswa membandingkan dan mencatat hasilnya. Jadi guru harus melaporkan berlangsungnya proses belajar yang dialami oleh siswa, perilakunya, perhatian mereka pada proses yang terjadi, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Penelitian Tindakan Kelas, DR. Sulipan, M.Pd.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 13.5pt;"&gt;Penelitian Tindakan Kelas – Inovasi Pembelajaran Di Sekolah &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: red;" lang="FI"&gt;Penelitian Tindakan Kelas – Inovasi Pembelajaran Di Sekolah&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="color: red;" lang="FI"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Muhammad Faiq Dzaki&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian tindakan kelas sebenarnya merupakan ajang bagi guru untuk berpikir kreatif guna memecahkan masalah di kelasnya. Kreatifitas dalam membelajarkan siswa, itulah hakikat dari tindakan yang dilakukan guru dalam proses pembelajaran di kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tindakan yang dirancang guru kebanyakan berdasarkan atas sebuah teori yang diambil dari buku tertentu. Namun sebenarnya apabila tindakan tersebut dikembangkan dan disempurnakan maka lama kelamaan akan menjadi sebuah tindakan yang berbeda dari wujud awalnya. Inilah hasil kreatifitas itu, yang mana kreativitas biasanya diartikan sebagai kemampuan untuk menciptakan suatu produk baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciptaan itu, walaupun tidak perlu seluruh produknya harus baru, mungkin saja gabungannya atau kombinasinya, sedangkan unsur-unsurnya sudah ada sebelumnya. Demikian juga dalam Inovasi Pembelajaran, tidak seluruhnya harus baru, namun harus ada bukti bahwa hasil inovasi tersebut memiliki kelebihan dengan model sebelumnya. Jadi disini dibutuhkan kreativitas guru, dalam hal ini kreatifitas guru adalah kemampuan untuk membuat kombinasi-kombinasi baru, atau melihat hubungan-hubungan baru antara unsur, data, atau hal-hal yang sudah ada sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kreativitas dapat pula kita lihat sebagai suatu proses dan hal ini mungkin akan lebih esensial. Dengan demikian proses tindakan dalam penelitian tindakan kelas bisa menjadi hasil inovasi baru yang berupa sebuah model proses pembelajaran, yang memiliki ciri khas tertentu yang berbeda dengan model pembelajaran sebelumnya serta memiliki kelebihan-kelebihan tertentu yang belum dimiliki model pembelajaran sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Penelitian Tindakan Kelas, DR. Sulipan, M.Pd.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 13.5pt;"&gt;Penelitian Tindakan Kelas – Upaya peningkatan Mutu Pendidikan &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: red;" lang="FI"&gt;Penelitian Tindakan Kelas – &lt;/span&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;&lt;a href="http://penelitiantindakankelas.blogspot.com/2009/02/penelitian-tindakan-kelas-tujuan-ptk.html"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Upaya peningkatan Mutu Pendidikan &lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="color: red;" lang="FI"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="margin-bottom: 12pt; text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Muhammad Faiq Dzaki&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peningkatan mutu pendidikan dapat dicapai melalui berbagai cara, antara lain: melalui peningkatan kualitas pendidik dan tenaga kependidikan lainnya, pelatihan dan pendidikan, atau dengan memberikan kesempatan untuk menyelesaikan masalah-masalah pembelajaran dan nonpembelajaran secara profesional lewat penelitian tindakan secara terkendali. Upaya&lt;br /&gt;meningkatkan kualitas pendidik dan tenaga kependidikan lainnya untuk menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi saat menjalankan tugasnya akan memberi dampak positif ganda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: red;" lang="SV"&gt;Pertama&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;, peningkatan kemampuan dalam menyelesaikan masalah pendidikan dan pembelajaran yang nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;Kedua&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;, peningkatan kualitas isi, masukan, proses, dan hasil belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;Ketiga&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;, peningkatan keprofesionalan pendidik dan tenaga kependidikan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;Keempat&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;, penerapan prinsip pembelajaran berbasis penelitian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya peningkatan kemampuan meneliti di masa lalu cenderung dirancang dengan pendekatan research-development-dissemination (RDD). Pendekatan ini lebih menekankan perencanaan penelitian yang bersifat topdown dan bersifat kuat orientasi teoritiknya. Paradigma demikian dirasakan tidak sesuai dengan perkembangan pemikiran baru, khususnya Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). Pendekatan MPMBS&lt;br /&gt;menitikberatkan pada upaya perbaikan mutu yang inisiatifnya berasal dari motivasi internal pendidik dan tenaga kependidikan itu sendiri (an effort to internally initiate endeavor for quality improvement), dan bersifat pragmatis naturalistik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MPMBS mengisyaratkan pula adanya kemitraan antar jenjang dan jenis pendidikan, baik yang bersifat praktis maupun dalam tataran konsep. Kebutuhan akan kemitraan yang sehat dan produktif, yang dikembangkan atas prinsip kesetaraan sudah sangat mendesak. Kemitraan yang sehat antara LPTK dan sekolah adalah sesuatu yang penting, lebih-lebih lagi dalam era otonomi daerah dan desentralisasi pendidikan. Penelitianpun hendaknya dikelola berdasarkan atas dasar kemitraan yang sehat (kolaboratif), sehingga kedua belah pihak dapat memetik manfaat secara timbal balik (reciprocity of benefits).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui &lt;/span&gt;&lt;a href="http://http/penelitiantindakankelas.blogspot.com/2009/02/penelitian-tindakan-kelas-aneka-teknik.html"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Penelitian Tindakan Kelas (PTK) &lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;masalah-masalah pendidikan dan pembelajaran dapat dikaji, ditingkatkan dan dituntaskan, sehingga proses pendidikan dan pembelajaran yang inovatif dan hasil belajar yang lebih baik, dapat diwujudkan secara sistematis. Upaya PTK diharapkan dapat menciptakan sebuah budaya belajar (learning culture) di kalangan dosen di LPTK, dan guru-siswa di sekolah. PTK menawarkan peluang sebagai strategi pengembangan kinerja, sebab pendekatan penelitian ini menempatkan pendidik dan tenaga kependidikan lainnya sebagai peneliti, sebagai agen perubahan yang &lt;/span&gt;&lt;a href="http://penelitiantindakankelas.blogspot.com/2009/02/penelitian-tindakan-kelas-kolaborasi.html"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;pola kerjanya bersifat kolaboratif&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 13.5pt;" lang="SV"&gt;Penelitian Tindakan Kelas – Tujuan PTK &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Penelitian Tindakan Kelas – Tujuan PTK&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammad Faiq Dzaki&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak tujuan penelitian tindakan kelas (classroom action research/PTK) yang dapat diraih jika guru melakukannya, misalnya seperti yang didaftar di bawah ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meningkatkan mutu isi, masukan, proses, dan hasil pendidikan dan pembelajaran di sekolah (SD, SMP, SMA dan SMK).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membantu guru dan tenaga kependidikan lainnya mengatasi masalah pembelajaran dan pendidikan di dalam dan luar kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meningkatkan sikap profesional pendidik dan tenaga kependidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menumbuh-kembangkan budaya akademik di lingkungan sekolah dan LPTK, sehingga tercipta sikap proaktif di dalam melakukan perbaikan mutu pendidikan dan pembelajaran secara berkelanjutan (sustainable).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meningkatkan keterampilan pendidik dan tenaga kependidikan khususnya di sekolah dalam melakukan PTK.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meningkatkan kerjasama profesional di antara pendidik dan tenaga kependidikan di sekolah dan LPTK.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="color: red;" lang="SV"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 13.5pt;" lang="SV"&gt;Penelitian Tindakan Kelas – Beberapa Kriteria yang Biasanya Dinilai &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: red;" lang="SV"&gt;Penelitian Tindakan Kelas – Beberapa Kriteria yang Biasanya Dinilai&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="color: red;" lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Peenelitian tindakan kelas yang baik biasanya akan memenuhi berbagai kriteria, sehingga apabila dilaksanakan akan memperoleh hasil sesuai yang diharapkan: yaitu peningkatan mutu pembelajaran. Beberapa kriteria yang merujuk pada penelitian tindakan kelas yang baik antara lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Perumusan Masalah (terutama: asal, relevansi, dan cakupan permasalahan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Cara Pemecahan Masalah (terutama: rancangan tindakan, dan kontekstualitas tindakan, kriteria keberhasilan sebuah tindakan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Kemanfaatan Hasil Penelitian (terutama: potensi untuk memperbaiki atau meningkatkan kualitas isi, proses, masukan, atau hasil pembelajaran dan/atau pendidikan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Prosedur Penelitian (terutama: prosedur diagnosis masalah, perencanaan tindakan, prosedur pelaksanaan tindakan, prosedur observasi dan evaluasi, prosedur refleksi hasil penelitian).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Kegiatan Pendukung (terutama: jadwal penelitian, sarana pendukung pembelajaran masing-masing anggota penelitian dalam setiap kegiatan penelitian, dan kelayakan pembiayaan).&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 13.5pt;" lang="FI"&gt;Penelitian Tindakan Kelas - Kolaborasi Pelaksanaan PTK &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;Penelitian Tindakan Kelas - Kolaborasi Pelaksanaan PTK&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammad Faiq Dzaki&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian tindakan kelas atau lazim disingkat PTK, sebaiknya dilakukan secara kolaboratif antar sesama guru dan-atau dapat melibatkan dosen/universitas/LPTK. Melalui kolaborasi Penelitian tindakan kelas yang dilakukan dapat lebih obyektif serta memanfaatkan saran-saran orang lain/ahli. Berikut beberapa hal yang berkaitan dengan penelitian tindakan kelas yang kolaboratif:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permasalahan penelitian tindakan kelas harus digali atau didiagnosis secara kolaboratif dan sistematis oleh dosen dan guru dari masalah yang nyata dihadapi guru dan/atau siswa di sekolah. Masalah penelitian bukan dihasilkan dari kajian teoretik atau dari hasil penelitian terdahulu, tetapi masalah lebih ditekankan pada permasalahan aktual pembelajaran di kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian ini bersifat kolaboratif, dalam pengertian usulan harus secara jelas menggambarkan peranan dan intensitas masing-masing anggota pada setiap kegiatan penelitian yang dilakukan, yaitu: pada saat mendiagnosis masalah, menyusun usulan, melaksanakan penelitian (melaksanakan tindakan, observasi, merekam data, evaluasi, dan refleksi), menganalisis data, menyeminarkan hasil, dan menyusun laporan akhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam PTK, kedudukan dosen setara dengan guru, dalam arti masing-masing mempunyai peran dan tanggungjawab yang saling membutuhkan dan saling melengkapi untuk mencapai tujuan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 13.5pt;"&gt;Penelitian Tindakan Kelas – Hasil yang Diharapkan &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;Penelitian Tindakan Kelas – Hasil yang Diharapkan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;br /&gt;Secara umum, hasil yang diharapkan bila guru telah melakukan penelitian tindakan kelas (PTK/classroom action research) adalah sebuah peningkatan atau perbaikan improvement and theraphy), antara lain sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Peningkatan atau perbaikan terhadap kinerja belajar siswa di sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Peningkatan atau perbaikan terhadap mutu proses pembelajaran di kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Peningkatan atau perbaikan terhadap kualitas penggunaan media, alat bantu belajar, dan sumber belajar lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Peningkatan atau perbaikan terhadap kualitas prosedur dan alat evaluasi yang digunakan untuk mengukur proses dan hasil belajar siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Peningkatan atau perbaikan terhadap masalah-masalah pendidikan anak di sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;f. Peningkatan dan perbaikan terhadap kualitas penerapan kurikulum dan pengembangan kompetensi siswa di sekolah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 13.5pt;"&gt;Penelitian Tindakan Kelas – Bidang Kajian &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;Penelitian Tindakan Kelas – Bidang Kajian&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammad Faiq Dzaki&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa bidang kajian yang dapat dilakukan oleh guru sebagai peneliti dalam &lt;a href="http://penelitiantindakankelas.blogspot.com/2009/02/penelitian-tindakan-kelas-contoh.html"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;penelitian tindakan kelas&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/a&gt; (PTK guru), yaitu sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;Masalah belajar siswa&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; di sekolah (termasuk di dalam tema ini, antara lain: masalah belajar di kelas, kesalahan-kesalahan pembelajaran, miskonsepsi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;Desain dan strategi pembelajaran&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; di kelas (termasuk dalam tema ini, antara lain: masalah pengelolaan dan prosedur pembelajaran, implementasi dan inovasi dalam metode pembelajaran, interaksi di dalam kelas, partisipasi orangtua dalam proses belajar siswa).&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="color: red;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;Alat bantu, media dan sumber belajar&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; (termasuk dalam tema ini, antara lain: masalah penggunaan media, perpustakaan, dan sumber belajar di dalam/luar kelas, peningkatan hubungan antara sekolah dan masyarakat).&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="color: red;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="color: red;" lang="ES"&gt;Sistem asesmen dan evaluasi proses dan hasil pembelajaran&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt; (termasuk dalam tema ini, antara lain: masalah evaluasi awal dan hasil pembelajaran, pengembangan instrumen asesmen berbasis kompetensi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;Pengembangan pribadi peserta didik, pendidik, dan tenaga kependidikan&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; lainnya (termasuk dalam tema ini antara lain: peningkatan kemandirian dan tanggungjawab peserta didik, peningkatan keefektifan hubungan antara pendidik- peserta didik dan orangtua dalam PBM, peningkatan konsep diri peserta didik).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;Masalah kurikulum&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; (termasuk dalam tema ini antara lain: implementasi KBK, KTSP, urutan penyajian materi pokok, interaksi guru-siswa, siswa-materi ajar, dan siswa-lingkungan belajar).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="RTL"&gt;&lt;span style="" lang="AR-EG"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9160165760161037566-3675747238794328323?l=hafulyon.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hafulyon.blogspot.com/feeds/3675747238794328323/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hafulyon.blogspot.com/2010/11/normal-0-false-false-false.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9160165760161037566/posts/default/3675747238794328323'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9160165760161037566/posts/default/3675747238794328323'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hafulyon.blogspot.com/2010/11/normal-0-false-false-false.html' title=''/><author><name>HAFULYON MM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08733764793398655527</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_T62w1t6xAVs/ShfXK7BkbBI/AAAAAAAAAAM/_Ox51Zx1NBA/S220/100_0587.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9160165760161037566.post-4340892246310641496</id><published>2010-11-25T22:52:00.000-08:00</published><updated>2010-11-25T22:58:08.396-08:00</updated><title type='text'>metodologi peneletian pendidikan</title><content type='html'>&lt;!--[if !mso]&gt; &lt;style&gt; v\:* {behavior:url(#default#VML);} o\:* {behavior:url(#default#VML);} w\:* {behavior:url(#default#VML);} .shape {behavior:url(#default#VML);} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;object classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id="ieooui"&gt;&lt;/object&gt; &lt;style&gt; st1\:*{behavior:url(#ieooui) } &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;  mso-para-margin:0cm;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-ansi-language:#0400;  mso-fareast-language:#0400;  mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 13.5pt; font-family: Arial;"&gt;PENELITIAN TINDAKAN KELAS&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;a name="_ftnref1"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 13.5pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 13.5pt; font-family: Arial;"&gt;(&lt;i&gt;Classroom Action Research&lt;/i&gt;)&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 13.5pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Oleh. Dr. H. Karwono, M.Pd &lt;a name="_ftnref2"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: left; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;PENGERTIAN DAN KARAKTERISTIK PENELITIAN TINDAKAN KELAS&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="margin-left: 36pt; text-align: left; text-indent: -36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;1.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 7pt; line-height: 150%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Pengertian Penelitian Tindakan Kelas (PTK)&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: justify; text-indent: 35.45pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;PTK atau &lt;i&gt;action research &lt;/i&gt;mulai berkembang sejak perang dunia ke dua, saat ini PTK sedang berkembang dengan pesatnya di negara-negara maju seperti Inggris, Amerika, Australia, dan Canada. Para ahli penelitian pendidikan akhir-akhir ini menaruh perhatian yang cukup besar terhadap PTK. Menurut Stephen Kemmis seperti dikutip D. Hopkins dalam bukunya yang berjudul &lt;i&gt;A Teacher’s Guide to Classroom Research,&lt;/i&gt; menyatakan bahwa &lt;i&gt;action research&lt;/i&gt; adalah: &lt;i&gt;a from of self-reflektif inquiry undertaken by participants in a social (including education) situation in order to improve the rationality and of (a) their own social or educational practices justice (b) their understanding of these practices, and (c) the situastions in which practices are carried out.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: justify; text-indent: 35.45pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Secara singkat PTK adalah suatu bentuk kajian yang bersifat reflektif oleh pelaku tindakan, untuk meningkatkan kemantapan rasional dari tindakan-tinakan mereka dalam melaksanakan tugas, memperdalam pemahaman terhadap tindakan-tindakan yang dilakukan, serta memperbaiki dimana praktek-praktek pembelajaran dilaksanakan.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: justify; text-indent: 35.45pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Untuk mewujudkan tujuan-tujuan tersebut PTK melaksanakan proses pengkajian berdaur (&lt;i&gt;cyclical&lt;/i&gt;) yang terdiri 4 tahapan sebagai berikut:&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: justify; text-indent: 35.45pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;a href="http://karwono.files.wordpress.com/2008/02/merencanakan.jpg" title="merencanakan.jpg"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/Tekhnis/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image001.jpg" alt="merencanakan.jpg" width="578" border="0" height="126" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: justify; text-indent: 35.45pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: justify; text-indent: 35.45pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Keempat fase dari suatu siklus dalam sebuah PTK bisa digambarkan dengan sebuah spiral PTK seperti sebagai berikut:&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: center; text-indent: 35.45pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Plan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: center; text-indent: 35.45pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Reflektif&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: center; text-indent: 35.45pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Action/Observation&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: center; text-indent: 35.45pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Reflective&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: center; text-indent: 35.45pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Action/Observation&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: center; text-indent: 35.45pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Reflective&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: center; text-indent: 35.45pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Action/Observation&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: justify; text-indent: 35.45pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Sesuai dengan hakekat yang dicerminkan oleh namanya yaitu &lt;i&gt;action research spiral, &lt;/i&gt;penelitian tindakan kelas dapat dimulai darimana saja dari keempat fase yaitu: perencanaan (&lt;i&gt;planning&lt;/i&gt;), tindakan (&lt;i&gt;action&lt;/i&gt;), pengamatan (&lt;i&gt;observation&lt;/i&gt;), dan refleksi (&lt;i&gt;reflection&lt;/i&gt;).&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: justify; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;2. Karakteristik Penelitian Tindakan Kelas&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: justify; text-indent: 35.45pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Karakteristik penelitian tindakan kelas antara lain: &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: justify; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;(a) an inquiry on practice from within &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: justify; text-indent: 35.45pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Karakteristik pertama dari PTK adalah bahwa kegiatannya dipicu oleh permasalahan praktis yang dihayati guru dalam pembelajaran di kelas. Oleh sebab itu PTK bersifat &lt;i&gt;practice driven dan Action driven, &lt;/i&gt;dalam arti PTK berujuan memperbaiki scara praktis, langsung – disini, sekarang atau sering disebut dengan penelitian praktis (&lt;i&gt;practical inquiry&lt;/i&gt;). Hal ini berarti PTK memusatkan perhatian pada permasalahan spesifik konstekstual.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: justify; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Peran dosen LPTK pada tahap awal adalah menjadi &lt;i&gt;sounding board&lt;/i&gt; (pemantul gagasan) bagi guru yang menghadapi permasalahan dalam pelaksanaan tugasnya sehari-hari. &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: justify; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;(b) a collaborative effort between school teachers and teacher educators.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: justify; text-indent: 35.45pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Karena dosen LPTK tidak memiliki akses langsung, maka PTK diselenggarakan secara &lt;i&gt;colaboratif&lt;/i&gt; dengan guru yang kelasnya menjadi kancah PTK. Karena yang memiliki kancah adalah guru sehingga para dosen LPTK yang berminat melakukan PTK tidak memiliki akses kepada kancah dalam peran sebagai praktisi. Oleh sebab itu ciri kolaboratif harus secara konsisten tertampilkan sebagai kerja sama kesejawatan dalam keseluruhan tahapan penyelenggaraan PTK, mulai dari identifikasi permasalahan, serta diagnosis keadaan, perancangan tindakan perbaikan, sampai dengan pengumpulan dan analisis data serta reflektisi mengenai temuan di samping dalam penyusunan laporan. &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: justify; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;(c) reflective practice made public.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: justify; text-indent: 35.45pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Keterlibatan dosen LPTK dalam PTK &lt;u&gt;bukanlah&lt;/u&gt; sebagai ahli pendidikan yang tengah mengemban fungsi sebagai pembina guru sekolah menengah atau sebagai pengembang pendidikan (&lt;i&gt;missionary approach&lt;/i&gt;), melainkan sebagai &lt;i&gt;sejawat&lt;/i&gt;, di samping sebagai pendidik calon guru yang seyogyanya memiliki kebutuhan untuk belajar dalam rangka mengakrabi lapangan demi peningkatan mutu kinerjanya sendiri. Dalam hubungan ini guru yang berkolaborasi dalam PTK harus mengemban peran ganda sebagai praktisi yang dalam pelaksanaan penuh keseharian tugas-tugasnya juga sekaligus secara sistematis meneliti praksisnya sendiri. Apabila ini terlksana dengan baik maka akan terbina kultur meneliti dikalangan guru, dan merupakan suatu langkah strategis dalam profisionalisme jabatan guru. Hal ini pelecehan profesi dalam bentuk penyedia jasa borongan utuk membuatkan daftar angka kridit dalam proses kenaikan pangkat fungsional guru yang menggejala akhir-akhir ini dapat diakhiri.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: justify; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="FI"&gt;PROSEDUR PELAKSANAAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK) &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: justify; text-indent: 35.45pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="FI"&gt;Prosedur penelitian tindakan kelas merupakan proses pengkajian melalui sistem berdaur dari berbagai kegiatan pembelajaran, menurut Raka Joni (1988) terdapat lima tahapan yaitu:&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol start="1" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" dir="LTR" style="margin-right: 0cm; margin-left: 36pt; text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Pengembangan fokus masalah      penelitian&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" dir="LTR" style="margin-right: 0cm; margin-left: 36pt; text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Perencanaan tindakan perbaikan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" dir="LTR" style="margin-right: 0cm; margin-left: 36pt; text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="FI"&gt;Pelaksanaan      tindakan perbaikan, observasi dan interpretasi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" dir="LTR" style="margin-right: 0cm; margin-left: 36pt; text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Analisis dan refleksi &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" dir="LTR" style="margin-right: 0cm; margin-left: 36pt; text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Perencanaan tindak lanjut (lihat      gambar 1 dan 2).&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: justify; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Secara lebih rinci, prosedur pelaksanaan LPTK dapat digambarkan sebagai berikut:&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: justify; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;a href="http://karwono.files.wordpress.com/2008/02/siklus.jpg" title="siklus.jpg"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/Tekhnis/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image002.jpg" alt="siklus.jpg" width="579" border="0" height="386" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: justify; text-indent: 35.45pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Dalam pelaksanaannya, PTK diawali dengan kesadaran akan adanya permasalahan yang dirasakan mengganggu, yang dianggap menghalangi pencapaian tujuan pendidikan sehingga ditengarai telah berdampak kurang baik terhadap proses dan atau hasil belajar pserta didik, dan atau implementasi sesuatu program sekolah. Bertolak dari kesadaran mengenai adanya permasalahan tersebut, yang besar kemungkian masih tergambarkan secara kabur, guru – baik sendiri maupun dalam kolaborasi dengan dosen LPTK yang menjadi mitranya kemudian menetapkan fokus permasalahan secara lebih tajam kalau perlu dengan mengumpulkan tambahan data lapangan secara lebih sistematis dan atau melakukan kajian pustaka yang relevan. &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: justify; text-indent: 35.45pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Pada gilirannya, dengan perumusan permasalahan yang lebih tajam itu dapat dilakukan diagnosis kemungkinan-kemungkinan penyebab permasalahan secara lebih cermat, sehingga terbuka peluang untuk menjajagi alternatif-alternatif tindakan perbaikan yang diperlukan. Alternatif mengatasi permasalahan yang dinilai terbaik, kemudian diterjemahkan menjadi program tindakan perbaikan yang akan dicobakan. Hasil percobaan tindakan perbaikan yang dinilai dan direfleksikan dengan mengacu kepada kreteria-kreteria perbaikan yang dikehendaki, yang telah ditetapkan sebelumnya. &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="FI"&gt;1.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 7pt; line-height: 150%;" lang="FI"&gt; &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="FI"&gt;Penetapan Fokus/Masalah Penelitian, yang meliputi:&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; text-indent: -50.7pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="FI"&gt;a.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 7pt; line-height: 150%;" lang="FI"&gt; &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="FI"&gt;Merasakan adanya masalah&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; text-indent: -50.7pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="FI"&gt;b.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 7pt; line-height: 150%;" lang="FI"&gt; &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="FI"&gt;Identifikasi Masalah PTK&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; text-indent: -50.7pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="FI"&gt;c.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 7pt; line-height: 150%;" lang="FI"&gt; &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="FI"&gt;Analisis Masalah&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; text-indent: -50.7pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="FI"&gt;d.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 7pt; line-height: 150%;" lang="FI"&gt; &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="FI"&gt;Perumusan masalah&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="FI"&gt;2.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 7pt; line-height: 150%;" lang="FI"&gt; &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="FI"&gt;Perencanaan Tindakan, yang meliputi:&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; text-indent: -50.7pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="FI"&gt;a.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 7pt; line-height: 150%;" lang="FI"&gt; &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="FI"&gt;Formulasi solusi dalam bentuk hipotesis tindakan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; text-indent: -50.7pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="FI"&gt;b.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 7pt; line-height: 150%;" lang="FI"&gt; &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="FI"&gt;Analisis Kelaikan Hipotesis Tindakan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; text-indent: -50.7pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="FI"&gt;c.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 7pt; line-height: 150%;" lang="FI"&gt; &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="FI"&gt;Persiapan Tindakan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="FI"&gt;3.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 7pt; line-height: 150%;" lang="FI"&gt; &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="FI"&gt;Pelaksanaan Tindakan dan Observasi-Interpretasi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; text-indent: -50.7pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="FI"&gt;a.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 7pt; line-height: 150%;" lang="FI"&gt; &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="FI"&gt;Pelaksanaan Tindakan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; text-indent: -50.7pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="IT"&gt;b.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 7pt; line-height: 150%;" lang="IT"&gt; &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="IT"&gt;Observasi dan Interpretasi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; text-indent: -50.7pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="IT"&gt;c.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 7pt; line-height: 150%;" lang="IT"&gt; &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="IT"&gt;Diskusi balikan (&lt;i&gt;review discussion&lt;/i&gt;)&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="ES"&gt;4.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 7pt; line-height: 150%;" lang="ES"&gt; &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="ES"&gt;Analisis dan Refleksi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; text-indent: -50.7pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="ES"&gt;a.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 7pt; line-height: 150%;" lang="ES"&gt; &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="ES"&gt;Analisis Data&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; text-indent: -50.7pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="ES"&gt;b.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 7pt; line-height: 150%;" lang="ES"&gt; &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="ES"&gt;Refleksi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="ES"&gt;5.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 7pt; line-height: 150%;" lang="ES"&gt; &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="ES"&gt;Perencanaan Tindak lanjut&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; text-indent: -50.7pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="ES"&gt;a.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 7pt; line-height: 150%;" lang="ES"&gt; &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="ES"&gt;Prosedur Observasi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; text-indent: -50.7pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="ES"&gt;b.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 7pt; line-height: 150%;" lang="ES"&gt; &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="ES"&gt;Beberapa Tindakan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: justify; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="ES"&gt;FORMAT USULAN PTK&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="ES"&gt;1.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 7pt; line-height: 150%;" lang="ES"&gt; &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="ES"&gt;JUDUL&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: justify; text-indent: 17.45pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="ES"&gt;Judul PTK hendaknya menyatakan dengan akurat dan padat permasalahan serta bentuk tindakan yang dilakukan peneliti sebagai upaya pemecahan masalah. Formulasi Judul hendaknya singkat, jelas, dan sederhana namun secara tersirat telah menampilkan sosok PTK, bukan sosok penelitian formal.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="ES"&gt;2.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 7pt; line-height: 150%;" lang="ES"&gt; &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="ES"&gt;LATAR BELAKANG&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: justify; text-indent: 1cm; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="ES"&gt;Dalam latar belakang permasalahan hendaknya diuraikan urgensi penanganan permasalahan yang diajukan melalui PTK. Untuk itu harus ditunjukkan fakta-fakta yang mendukung, baik yang berasal dari pengamatan guru selama ini maupun dari kajian pustaka. Dukungan berupa hasil penelitian terdahulu, apabila ada, akan lebih baik mengokohkan argumentasi mengenai urgensi serta signifikansi permasalahan yang akan ditangani melalui PTK yang diusulkan. Karakteristik khas PTK yang berbeda dari penelitian formal hendaknya tercermin dalam uraian bagian ini.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: justify; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="ES"&gt;3. PERMASALAHAN&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: justify; text-indent: 35.45pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="ES"&gt;Permasalahan yang diusulkan untuk ditangani melalui PTK dijabarkan secara lebih rinci dalam bagian ini. Masalah hendaknya benar-benar diangkat dari masalah keseharian di sekolah yang memang layak dan perlu diselesaikan melalui PTK. Sebaliknya, permasalahan yang secara teknis-metodologik di luar jangkauan PTK. Uraian permasalahan yang ada hendaknya didahului oleh identifikasi masalah, yang dilanjutkan dengan analisis masalah diikuti refleksi awal sehingga permasalahan yang perlu ditangani itu nampak menjadi lebih jelas. Dengan kata lain, bagian ino dikunci dengan perumusan masalah tersebut. &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Dalam bagian ini, sosok PTK harus secara konsisten tertampilkan.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="margin-left: 32.2pt; text-align: justify; text-indent: -36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt;4.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 7pt; line-height: 150%;" lang="SV"&gt; &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt;CARA PEMECAHAN MASALAH&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: justify; text-indent: 17.45pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Dalam bagian ini dikemukakan cara yang diajukan untuk emecahkn masalah yang dihadapi. Alternatif pemecahan yang diajukan hendaknya mempunyai landasan konseptual yang mantap yang bertolak hasil analisis masalah. Di samping itu, harus terbayangkan kemungkinan kemanfaatan hasil pemecahan masalah dalam rangka pembenahan/atau peningkatan implementasi pembelajaran/atau berbagai program sekolah lainnya. Juga harus dicermati bahwa artikulasi kemanfaatan PTK berbeda dari kemanfaatan penelitian formal.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="margin-left: 32.2pt; text-align: justify; text-indent: -36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt;5.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 7pt; line-height: 150%;" lang="SV"&gt; &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt;TUJUAN PENELITIAN DAN PEMANFAATAN PENELITIAN&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: justify; text-indent: 21.3pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Tujuan PTK hendaknya dirumuskan secara jelas. Paparkan sasaran antara dan akhir tindakan perbaikan. Perumusan tujuan harus konsisiten dengan hakekat permasalahan yang dikemukakan dalam baian-bagian sebelumnya. Dengan sendirinya artikulasi tujuan PTK berbeda dari tujuan formal. Pencapaian tujuan hendakya dapat diverifikasikan secara obyektif, sedapat mungkin bisa dikwantifikasikan. Di samping tujuan PTK, juga perlu diuraikan kemungkinan kemanfaatan penelitian. Dalam hubungan ini, perlu dipaparkan secara spesifik keuntungan-keuntungan yang dijanjikan, khususnya bagi peserta didik sebagai pewaris langsung hasil PTK, di samping bagi guru pelaksana PTK, rekan guru lainnya serta bagi dosen LPTK. &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="margin-left: 32.2pt; text-align: justify; text-indent: -36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt;6.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 7pt; line-height: 150%;" lang="SV"&gt; &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt;KERAGKA TEORI DAN HIPOTESIS TINDAKAN&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: justify; text-indent: 35.45pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Pada bagian ini diuraikan landasan substantif dalam arti teoritik dan/atau metodologik yang dipergunakan peneliti dalam menentukan alternatif tindakan yang akan diimplementasikan. Untuk keperluan itu, dalam bagian ini diuraikan kajian terhadap baik pengalaman peneliti pelaku PTK sendiri yang relevan maupun pelaku PTK lain. Argumentasi logik dan teoritik diperlukan guna menyusun kerangka konseptual. Atas dasar kerangka konseptual yang disusun itu hipotesis tindakan dirumuskan.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="margin-left: 32.2pt; text-align: justify; text-indent: -36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt;7.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 7pt; line-height: 150%;" lang="SV"&gt; &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt;RENCANA PENELITIAN&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt;a. Setting Penelitian dan karakteristik Subyek Penelitian &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: justify; text-indent: 35.45pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Pada bagian ini disebutkan dimana penelitian tersebut dilakukan, di kelas berapa dan bagamana karakteristik kelas tersebut. Misalnya komposisi pria wanita, latar belakang sosial ekonomi yang mungkin relevan dengan permasalahan, tingkat kemampuan dsb. Aspek substantif permasalahan seperti Matematika SMP, Bahasa Inggris SMA.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="margin-left: 32.2pt; text-align: justify; text-indent: -32.2pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt;b.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 7pt; line-height: 150%;" lang="SV"&gt; &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Variabel yang diselidiki&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: justify; text-indent: 35.45pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Pada bagian ini ditentukan variabel-variabel penelitian yang dijadikan titik incar untuk menjawab permasalahan yang dihadapi. Variabel tersebut dapat berupa (1) variabel input yang terkait dengan peserta didik, guru, bahan ajar, prosedur evaluasi, lingkungan belajar dsb. (2) variabel proses penyelenggaraan pembelajaran seperti interaksi pembelajaran, keterampilan bertanya guru, cara belajar peserta didik, implementasi berbagai metode pembelajaran dikelas dsb. (3) variabel output, seperti rasa keingintahuan peserta didik, kemampuan peserta didik mengaplikasikan pengetahuan, motivasi belajar peserta didik dsb.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="margin-left: 21.3pt; text-align: justify; text-indent: -21.3pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt;c.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 7pt; line-height: 150%;" lang="SV"&gt; &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Rencana Tindakan&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: justify; text-indent: 35.45pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Pada bagian ini digambarkan rencana tindakan untuk meningkatkan mutu pembelajaran, seperti:&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: justify; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;(1)&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 7pt; line-height: 150%;" lang="SV"&gt; &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Perencanaan, yaitu persiapan yang dilakukan sehubungan dengan PTK yang diprakarsai seperti, penetapan &lt;i&gt;entry behavior,&lt;/i&gt; pelancaran tes diagnostik untuk menspesifikasi masalah, pembuatan skenario pembelajaran, pengadaan alat-alat dalam rangka implementasi PTK, dan lain-lain yang terkait degan pelaksanaan tindakan perbaikan yang telah ditetapkan sebelumnya. Di samping itu juga diuraikan alternatif-aternatif solusi yang akan dicobakan dalam rangka perbaikan masalah.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: justify; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;(2)&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 7pt; line-height: 150%;" lang="SV"&gt; &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Implementasi Tindakan, yaitu deskripsi tindakan yang akan digelar, skenario kerja perbaikan dan prosedur tindakan yang akan diterapkan.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: justify; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;(3)&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 7pt; line-height: 150%;" lang="SV"&gt; &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Observasi dan Interpretasi, yaitu uraian tentang prosedur perekaman dan penafsiran data mengenai proses dan produk dari implementasi tindakan perbaikan yang dirancang.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: justify; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;(4)&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 7pt; line-height: 150%;" lang="SV"&gt; &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Analisis dan Refleksi, yaitu uraian tentang prosedur analisis terhadap hasil pemantauan dan refleksi berkenaan dengan proses dan dampak tindakan perbaikan yang akan digelar, personil yang akan dilibatkan, serta kreteria dan rencana bagi tindakan daur berikutnya.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="margin-left: 32.2pt; text-align: justify; text-indent: -32.2pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt;d.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 7pt; line-height: 150%;" lang="SV"&gt; &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Data dan Cara Pengumpulannya&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: justify; text-indent: 35.45pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Pada bagian ini ditunjkan dengan jelas jenis data yang akan dikumpulkan yang berkenaan baik proses maupun dampak tindakan perbaikan yang digelar, yang akan digunakan sebagai dasar untuk menilai keberhasilan atau kekurang berhasilan tindakan perbaikan pembelajaran yang dicobakan. Format data dapat bersifat kualitatif, kuantitatif, atau kombinasi keduanya. Di sampig itu teknik pengumpuan data yang diperlukan juga harus diuraikan dengan jelas seperti melalui pengamatan partisipatif, pembuatan jurnal harian, observasi aktivitas dikelas, penggambaran interaksi dalam kelas, pengukuran hasil belajar dengan berbagai prosedur pengukuran, dan sebagainya. Selanjutnya dalam prosedur pengumpulan data PTK, para guru juga harus aktif sebagai pengumpul data, bukan semata-mata sebagai sumber data. Akhirnya, semua teknologi pengumpulan data yang digunakan harus mendapat penilaian kelaikan yang cermat dalam konteks PTK yang khas itu. Sebab meskipun mungkin saja menyajikan mutu rekaman yang jauh lebih baik , penggunaan teknologi perekaman data yang canggih dapat saja terganjal keras pada tahap tayang uang dalam rangka analisis dan interpretasi data.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="margin-left: 21.3pt; text-align: justify; text-indent: -21.3pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt;e.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 7pt; line-height: 150%;" lang="SV"&gt; &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Indikator Kinerja &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: justify; text-indent: 35.45pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Pada bagian ini tolok ukur keberhasilan tindakan perbaikan ditetapkan secara eksplisit sehingga memudahkan verifikasinya. Untuk tindakan perbaikan melalui PTK yang bertujuan mengurangi kesalahan konsep peserta didik misalnya perlu ditetapkan kreteria keberhasilan.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="margin-left: 21.3pt; text-align: justify; text-indent: -21.3pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt;f.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 7pt; line-height: 150%;" lang="SV"&gt; &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Tim Peneliti dan Tugasnya&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: justify; text-indent: 35.45pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Dalam bagian ini hendaknya dicantumkan nama-nama anggota peneliti dan uraian tugasnya/peran setiap aggota tim peneliti, serta jam kerja yang dialokasikan setiap minggu untuk kegiatan penelitian.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="margin-left: 21.3pt; text-align: justify; text-indent: -21.3pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt;8.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 7pt; line-height: 150%;" lang="SV"&gt; &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt;JADWAL PENELITIAN&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: justify; text-indent: 35.45pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Jadwal penelitian disusun dalam metriks yang menggambarkan urutan kegiatan dari awal sampai akhir.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="margin-left: 32.2pt; text-align: justify; text-indent: -36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;9.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 7pt; line-height: 150%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;RENCANA ANGGARAN&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="text-align: justify; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Daftar Rujukkan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="margin-left: 42.55pt; text-align: justify; text-indent: -42.55pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Arends, Richard. 19997. &lt;i&gt;Classroom Instruction and Management&lt;/i&gt;. Toronto. McGrew-Hill.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="LTR" style="margin-left: 42.55pt; text-align: justify; text-indent: -42.55pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Ditjen Dikti, Proyek Pengembangan Guru Sekolah Menengah.&lt;i&gt; Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action research). &lt;/i&gt;IBRD OAN No 3979 – IND&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="RTL"&gt;&lt;b&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: Arial;"&gt;Hopkins, David. 1992. &lt;i&gt;A Teacher’s Guide to Classroom Research. 2&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="LTR" style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9160165760161037566-4340892246310641496?l=hafulyon.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hafulyon.blogspot.com/feeds/4340892246310641496/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hafulyon.blogspot.com/2010/11/metodologi-peneletian-pendidikan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9160165760161037566/posts/default/4340892246310641496'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9160165760161037566/posts/default/4340892246310641496'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hafulyon.blogspot.com/2010/11/metodologi-peneletian-pendidikan.html' title='metodologi peneletian pendidikan'/><author><name>HAFULYON MM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08733764793398655527</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_T62w1t6xAVs/ShfXK7BkbBI/AAAAAAAAAAM/_Ox51Zx1NBA/S220/100_0587.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9160165760161037566.post-3329593340919586596</id><published>2010-02-01T19:35:00.000-08:00</published><updated>2010-02-01T19:37:34.265-08:00</updated><title type='text'>Manajemen lembaga Pendidikan</title><content type='html'>Ujian Semester Mhs.Smt.V&lt;br /&gt;Jurusan PAI FAI-UMSB Padang Panjang&lt;br /&gt;Hari/tanggal : Rabu / 3 Pebruari 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan :&lt;br /&gt;1.Konsep dasar manajemen lembaga pendidikan&lt;br /&gt;1.1. Sebutkan ruang lingkup dan pendekatan-pendekatan dalam manajemen lembaga pendidikan&lt;br /&gt;1.2. Jelaskan fungsi dan prinsip-prinsip manajemen dalam lembaga pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.Strategi Lembaga Pendidikan untuk menghadap era globalisasi dan masa krisis.&lt;br /&gt;2.1. Jelaskan profesionalisme lembaga pendidikan untuk menghadapi tantangan era globalisasi dan masa krisis.&lt;br /&gt;2.2. Jelaskan dengan memakai analisis SWOT - TOWS terhadap lembaga pendidikan dalam menghadapi era global.&lt;br /&gt;2.3. Buatlah SPM dan SOP dalam mengelola lembaga pendidikan dan beri contoh selengkapnya.&lt;br /&gt;= Semoga Berhasil =&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9160165760161037566-3329593340919586596?l=hafulyon.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hafulyon.blogspot.com/feeds/3329593340919586596/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hafulyon.blogspot.com/2010/02/manajemen-lembaga-pendidikan.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9160165760161037566/posts/default/3329593340919586596'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9160165760161037566/posts/default/3329593340919586596'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hafulyon.blogspot.com/2010/02/manajemen-lembaga-pendidikan.html' title='Manajemen lembaga Pendidikan'/><author><name>HAFULYON MM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08733764793398655527</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_T62w1t6xAVs/ShfXK7BkbBI/AAAAAAAAAAM/_Ox51Zx1NBA/S220/100_0587.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9160165760161037566.post-2504053717777943423</id><published>2009-11-04T23:46:00.000-08:00</published><updated>2009-11-04T23:50:43.096-08:00</updated><title type='text'>Manajemen Perusahaan Islam :Perspektif Manajemen Strategis</title><content type='html'>Oleh : Agustianto1. Pendahuluan Manajemen merupakan  kebutuhan penting untuk memudahkan pencapaian tujuan manusia dalam organisasi. Manajemen diperlukan untuk mengelola berbagai sumberdaya organisasi, seperti sarana, prasarana, waktu, SDM, metode dan lainnya. Manajemen juga menunjukkan cara-cara yang lebih efektif dan efisien dalam pelaksanaan suatu pekerjaan. Manajemen telah memungkinkan kita untuk mengurangi hambatan-hambatan  dalam rangka pencapaian suatu tujuan. Manajemen memberikan prediksi  dan imajinasi agar kita dapat mengantisipasi perubahan lingkungan yang serba cepat. Untuk mempermudah dan mendapatkan kepastian akan tercapainya tujuan tersebut, maka para ilmuwan berusaha mencari metode, sistem, teori untuk mencapai tujuan tersebut dan akhirnya dikenallah ilmu manajemen. Para ahli mendefenisikan manajemen dari berbagai segi. Dalam tulisan ini hanya diambil satu defenisi saja, yaitu : ”Proses tertentu yang dilakukan untuk menentukan dan mencapai tujuan tertentu yang sudah ditetapkan dengan menggunakan manusia dan sumber-sumber  daya lainnya”. Defenisi tersebut menjelaskan bahwa dalam manajemen  ada unsur tujuan, ada unsur orang dan ada unsur sumber-sumber alam. Faktor inilah yang dikelola secara efisien dan efektif untuk mencapai tujuan.   Dalam ilmu manajemen dikenal beberapa fungsi seperti perencanaan, perorganisasian, staffing, pengarahan dan pengawasan. Tulisan ini akan membahas  salah satu aspek penting dalam manajemen organisasi bisnis (perusahaan), yaitu manajemen straregis yang dibahas   menurut perspektif Islam. Jadi  karena fokus bahasan makalah ini adalah pada organisasi perusahaan, maka aspek pembahasannya tidak lagi melulu pada manajemen operasional yang bersifat jangka pendek, fungsional dan rutin, namun lebih pada ”manajemen strategis”.&lt;br /&gt;Manajemen IslamiSebagaimana dimaklumi, bahwa manajemen dalam organisasi bisnis (perusahaan) merupakan suatu proses aktivitas penentuan dan pencapaian tujuan bisnis melalui pelaksanaan empat fungsi dasar ; planning, organizing, actuating dan controling dalam penggunaan sumberdaya organisasi. Karena itu aplikasi manajemen organisasi perusahaan hakikatnya adalah juga amal perbuatan SDM organisasi perusahaan  yang bersangkutan.Dalam konteks ini, Islam telah menggariskan bahwa hakekat amal perbuatan manusia harus berorientasi pada pencapaian ridha Allah. Hal ini seperti dinyatakan  oleh Imam Fudhail bin Iyadh, salah seorang guru Imam Syafi’iy dan perawi hadits yang tsiqah dalam menafsirkan surah al-Muluk ayat 2 : ”Dia yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kamu siapa yang paling baik amalnya. Dialah Maha Perkasa dan Pengampun.”&lt;br /&gt; Ia mensyaratkan dipenuhinya dua syarat sekaligus, yaitu niat yang ikhlas dan cara yang harus sesuai dengan syariat Islam. Bila perbuatan manusia memenuhi dua syarat itu sekaligus, maka amal itu tergolong ahsan (ahsanul amal), yaitu amal terbaik di sisi Allah Swt. Dengan demikian, keberadaan manajemen organisasi harus dipandang  pula sebagai suatu sarana untuk memudahkan implementasi Islam dalam kegiatan organisasi tersebut. Implementasi nilai-nilai Islam berwujud pada difungsikannya  Islam sebagai kaedah berfikir dan kaedah amal ( tolak ukur perbuatan ) dalam seluruh kegiatan organisasi. Nilai-nilai Islam inilah sesungguhnya yang menjadi nilai-nilai utama organisasi. Dalam implementasi selanjutnya, nilai-nilai Islam ini akan menjadi payung strategis hingga taktis seluruh aktivitas organisasi (lihat gambar 1) Sebagai kaedah berfikir, aqidah dan syari’ah difungsikan sebagai asas atau landasan pola pikir dan beraktifitas, sedangkan sebagai kaedah amal, syari’ah difungsikan sebagai tolak ukur kegiatan organisasi. Tolak ukur syari’ah digunakan untuk membedakan aktivitas yang halal dan haram. Hanya kegiatan yang halal saja yang dilakukan oleh seorang muslim. Sementara yang haram akan ditinggalkan semata-mata untuk menggapai keridhaan Allah Swt. Atas dasar nilai-nilai utama itu pula tolak ukur strategis bagi aktivitas perusahaan adalah adalah syari’ah Islam itu sendiri. Aktivitas perusahaan apapun bentuknya, pada hakikatnya adalah aktivitas manusia dalam memenuhi kebutuhan  hidupnya yang akan selalu terikat dengan syari’ah. Hal ini sesuai dengan kaedah, ”Al-Ashlu fil Af’al, at-taqayyudu bil hukm asy-syar’iy”. (Hukum asal setiap perbuatan adalah terikat dengan syari’ah). Syari’ah adalah aturan yang diturunkan Allah untuk manusia melalui lisan para RasulNya. Syari’ah tersebut harus menjadi pedoman dalam setiap aktivitas manusia, termasuk dalam aktivitas organisasi bisnis. Banyak sekali ayat Alquran yang menegaskan hal tersebut. ”Kemudian kami jadikan bagi kamu syari’ah, maka ikutilah syari’ah itu, jangan ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. (Al-Jatsiyah : 18)&lt;br /&gt;”Maka demi Rabbmu, mereka  pada hakekatnya tidak beriman, hingga mereka menjadikan kamu sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan kemudian mereka tidak merasa keberatan terhadap keputusan yang kamu berikan dan mereka menerima dengan sepenuhnya”. (QS.An-Nisak (4) : 65)&lt;br /&gt; ”Apa saja yang dibawa dan diperintahkan oleh Rasul (berupa syari’ah, maka ambillah) dan apa yang dilarangnya maka tinggalkanlah”. (QS.Al-Hasyar : 7)&lt;br /&gt; Dengan demikian, orang yang mendambakan keselamatan hidup yang hakiki, akan senantiasa terikat  dengan aturan syari’ah tersebut. Karena syari’ah mengikat setiap SDM perusahaan, maka aktivitas perusahaan  yang dilakukan SDMnya tidak boleh lepas dari koridor syari’ah. Manajemen Strategis   Thomas L.Wheelen dan J.David Hunger mendefenisikan manajemen strategis sbb: ”Strategic management is that set of managerial decisions and actions that determine the long-run performance of corporation, it includes strategy formulation, strategy implementation dan evaluation”. (Manajemen strategis adalah serangkaian keputusan manajerial  dan kegiatan-kegiatan yang menentukan keberhasilan perusahaan dalam jangka panjang. Kegiatan tersebut terdiri dari formulasi strategi, implementasi strategi dan evaluasi strategi)&lt;br /&gt;Menurut Gregory G. Dees dan Alex Miller :Strategic management is a process that combines three major interrelated acitivities : strategic analysis, strategic formulation and strategic implementation.&lt;br /&gt;(Manajemen strategi adalah suatu proses kombinasi antara tiga aktivitas, yaitu analisis strategi, perumusan strategi dan implementasi strategi)&lt;br /&gt;Sedangkan William F.Glueck – Lawrance R.Jauch mendefenisikan managemen strategis sbb  :&lt;br /&gt;Strategic management is a stream of the decisions and action which leads to the development of an effective strategy or strategies to have achieve objectives, the strategy management process is the way in which strategic determine objectives and make strategic decisions.(Manajemen strategi merupakan arus keputusan dan tindakan yang mengarah kepada perkembangan suatu strategi-strategi yang efektif untuk membantu mencapai sasaran perusahaan. Proses manajemen strategi ialah suatu cara dengan jalan bagaimana para perencana strategi menentukan sasaran untuk membuat kesimpulan strategi).  Jika merujuk kepada defenisi-defenisi di atas, maka dapat dirumuskan bahwa defenisi manajemen strategis dalam perspektif Islam ialah rangkaian proses aktivitas manajemen Islami yang mencakup ; 1.Tahapan analisis lingkungan organisasi, 2. Formulasi Strategi, 3.  implementasi strategi dan 4. Evaluasi dan kontrol terhadap keputusan-keputusan strategis organisasi yang memungkinkan pencapaian tujuannya di masa depan.Menurut Faulker dan Johnson, manajemen strategis menekankan perhatiannya pada penempatan organisasi dalam kaitannya dengan lingkungan yang sedang berubah dan harapan-harapan yang akan dicapai. Ia mengatur dan menangani kerumitan dalam jangka lebih panjang dengan pokok masalah yang dapat dilihat dari segi organisasi secara menyeluruh dan mendasar demi kelangsungan hidup organisasi bisnis.Sebagaimana dimaklumi bahwa dalam perspektif manajemen strategis, manajemen organisasi bisnis pada hakikatnya mengandung pengertian sebagai proses penetapan struktur peran melalui penentuan kegiatan yang harus ditempuh untuk mencapai visi, misi dan tujuan organisasi serta bagian-bagiannya, pengelompokan aktivitas, penugasan kelompok-kelompok aktivitas, pendelegasian wewenang, pengkordinasian hubungan-hubungan wewenang dan informasi baik horizontal maupun vertikal dalam struktur organisasiSelanjutnya perlu dikemukakan juga di sini model proses manajemen strategi yang dirumuskan oleh Thomas L.Wheelen dan J. David Hunger.Tahapan pertama dalam manajemen strategis adalah analisis lingkungan, yaitu tahapan yang berintikan pada analisis lingkungan eksternal dan internal organisasi. Aktivitas analisis ini kerap digabung dalam suatu kesatuan aktivitas yang lebih dikenal sebagai analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunity dan Threat). Hasil analisis SWOT akan menunjukkan kualitas dan kuantitas posisi organisasi yang kemudian memberikan rekomendasi berupa pilihan strategi generik serta kebutuhan  atau modofikasi sumberdaya organisasi. Dengan demikian analisis lingkungan eksternal mencakup analisis lingkungan mkro dan lingkungan industri.Dengan demikian analisis lingkungan menjadi tiga level ditambah analisis internal tadi, yaitu analisis internal organisasi perusahaan. Tahapan kedua adalah melakukan formulasi strategi. Formulasi ini ditujukan untuk menghasilkan nilai-nilai utama dan orientasi suatu strategi organisasi, strategi induk di tingkat korporasi (corporate strategy formulation) dan strategi fungsional (functional strategy formulation)  Strategi induk perusahaan merupakan strategi jangka panjang yang spesifik yang berisi rumusan holistik yaitu  1. Visi dan  misi 2. Tujuan, 3. Sasaran dan  4. Strategi. Keempat unsur strategi induk ini merupakan pilar dalam formulasi strategi.  Strategi merupakan rencana komprehensif untuk mencapai visi dan misi, tujuan dan sasaran. Keempat unsur strategi induk tersebut akan menjadi program bagi suatu perusahaan dalam mengembangkan misinya. Secacara visual unsur stratregi induk tersebut dapat digambarkan sebaga berikut :&lt;br /&gt;Tahapan ketiga, implementasi strategi, Tahapan ini bertumpu pada 1. alokasi dan organisasi SDM 2. Kepemimpinan,budaya organisasi, hingga prosedur dan program. Aktivitas pertama mencakup distribusi kerja di antara individu dan kelompok kerja dengan mempertimbangkan tingkatan manajemen, tipe pekerjaan, pengelomp[okan bagian pekerjaan serta mengusahakan agar unit-unit itu menyatu seluruhnya dalam sebuah tim sehingga mereka dapat bekerja secara efektif dan efisien. Aktivitas kedua meliputi aspek-aspek kepemimpinan efektif berikut pengambilan keputusan, kewenangan dan tanggung jawabnya serta budaya organisasi. Aktivitas tersebut menjadi penting kaitannya dengan pembuatan prosedur dan program.Tahadapan paling akhir dari proses manajemen strategis adalah evaluasi dan pengawasan, yakni penilaian kinerja dan pengawasan yang berlanjut dengan berjalannya proses umpan balik. Penilaian kinerja dilakukan  sesuai dengan prosedur organisasi yang dikembangkan, yakni dengahn mengacu pada tolak ukur dan operasional. Hal ini guna mendapatkan kepastian akan ketepatan pencapaian strategi induk organisasi. Apapun hasiulnya, akana menjadi rekomendasi masukan bagi perbaikan dan penyempurnaan stratregi dan implementasi berikutnya.Proses manajemen strategi yang dirumuskan oleh dapat diterima dan diadopsi oleh Islam. Namun dalam prinsip dan karakter terdapat perbedaan mendasar dengan syari’ah Islam, sehingga dalam aplikasinya juga terdapat perbedaan. Aplikasi manajemen strategis Islami yang dikendalikan oleh nilai-nilai syari’ah sama sekali berbeda dengan  aplikasi manajemen strategis konvensional yang non Islami, Perbedaan itu ialah pada cara pengambilan keputusannya, hingga pelaksanaannya (strategi-strategi fungsional). Dengan berlandaskan sekulerisme yang bersendikan pada nilai-nilai material, aplikasi strategis non Islami tidak memperhatikan aturan halal-haram dalam setiap perencanaan, pelaksanaan dan segala usaha yang dilakukan dalam mencapai tujuan-tujuan organisasi. Dari asas sekularismen inilah, seluruh bangunan bisnis, kegiatan dan pemanfaatan sumberdaya organisasi diarahkan pada hal-hal yang bersifat bendawi dan menafikan nilai ruhiyah serta keterikatan SDM organisasi pada aturan yang lahir dari nilai-pnilai syari’ah. Kalaupun ada aturan, tetapi semata-mata bersifat etik yang tidak ada hubungannya dengan konsekunesi pahala dan dosa. Berikut ini akan dikemukakan perbedaan bisnis Islami dan non Islami  (konvensional). Pada tabel tersebut manajemen strategis perspektif syari’ah memiliki 14 karakter khas yang membedakannya dengan manajemen strategis konvensional, yaitu :  1. Asas, 2. motivasi, 3 orientasi, 4. stratregi induk, 5.  strategi fungsional operasi, 6stratregi fungsional keuangan, 7 strategi fungsional pemasaran. 8 strategi fungsional SDM dan 9. sumberdaya. 10. Manajemen Strategis, 11. Manajemen operasi, 12. manajemen keuangan, 13. Manajemen Pemasaran, dan 14. Manajemen SDM.Implementasi manajemen stratregis dengan kendali syari’ah akan membawa organisasi bisnis berorientasi pada pencapai empat hal utama, yakni :1. Target hasil : profit materi dan benefit non-materi2. Pertumbuhan : artinya terus meningkat3. Keberlangsungan, dalam kurun waktu selam mungkin4. Keberkahan atau keridhaan Allah&lt;br /&gt;Dari keempat hal tersebut, hal yang membedakan orientasi manajemen strategis persepektif syari’ah dengan konvensional adalah pada orientasi pertama, target hasil dan orientasi ke empat, keberkahan dan keridhaan Allah. Hal ini menjadikan orientasi stratregis perusahaan melulu mengejar keuntungan duniawi saja, dan mengabaikan  aspek keridhaan Allah Swt.Membangun Perusahaan bernuansa Islami     Strategi induk perusahaan  merupakan strategi jangka panjang yang spesifik. Ia berisi rumusan holistik : visi, misi, tujuan dan sasaran yang menerjemahkan orientasi perusahaan. Strategi induk pada dasarnya rencana strategis untuk melihat sisi organisasi 5,10 atau 20 tahun mendatang. Berfikir startegis akan membawa cakrawala jauh ke depan dan tidak terjebak pada suasana hari ini atau kemarin. Rencana jangka panjang ini sangat diperlukan sebagai barometer atau petunjuk arah aksi organisasi yang dikaitkan dengan kemampuan dan peluang yang ada. Itulah juga sebabnya penerapan syari’ah dalam manajemen strategis nampak jelas pada isi strategi induk yang mencakup visi, misi dan tujuan.Visi adalah cara pandang yang menyeluruh dan futuristik terhadap keberadaan organisasi. Visi memberikan suatu deskripsi  atau uraian mengenai apa yang akan dicapai (tujuan) perusahaan di masa depan. Pernyataan visi menjawab pertanyaan, akan menjadi sosok perusahaan seperti apa dalam lima tahun mendatang. Visi tidak harus diuraikan secara teknis keuangan atau pemasaran. Visi dimaksudkan untuk  memberikan suatu deskripsi yang luas  mengenai perusahaan akan menjadi seperti apa di masa depan. Visi bukan sekedar impian semata, bukan suatu harapan yang tidak berdasarkan apa yang diinginkan, tetapi merupakan suatu gambaran yang realistik tentang apa yang akan terjadi di masa depan. Visi  menyatakan organisasi ingin menjadi seperti apa dan kemana harus diarahkan. Arah ini mungkin didasarkan atas data masa lampau berupa kecendrungan (trend) atau tentang apa yang dicapai oleh pihak lain dan apa yang mungkin dicapai oleh organisasi yang telah didirikan.Untuk membentuk dan membangun visi perlu diperhatikan tiga hal yang mungkin bisa menggagalkan :1. Gagal mempunyai visi yang asli (genuine vision), bersifat menantang (challenge) dan sekaligus realistik.2. Gagal mengkomunikasikan visi3. Gagal menyatukan dukungan setiap orang Untuk membantu menyukseskan pencapaian visi, perhatikan contoh berikut dan delapan ciri pernyataan visi yang efektif dari Tom Peters.1. As we accompolish our mission, CanadianNasional Rail will be a long term business success by being : Close the our customer, First in service, firt in quality, first in qualiality, first in safety, environmentally respondensible, cost competitive and financially sound, and challenging place to work.2. In order position them selves to be more competitive and more focused on customer’s needs Florida &amp;amp; Power &amp;amp; Light Company Sharpen theit vision 1991, to be more specific and more tangible. We will be the preferred provider of safe, reliable, and cost effective products and services that satisty the electricity relateds needs of all curtomer segmens. Adapun delapan ciri pernyataan visi ialah :1. Effective visions are inspiring2.   Effective visions are clear and challenging and exellence3.   Effective visions are make sence in the market place and by      stressing flexibility and execution, stand the test time.4.  Effective visions  must be stable but constanly challenge and change     at the margin. The vision must act as a compass in a wild and     stormy sea and like a compass it loss it value if it’is not adjusted to     take account of its surroundings5.  Effective visions are baecons, and controls when all else is up for     graps.6.  Effective visions are airmed at empoering  our own people first,     customer second7.  Effective visions prepare for the future but honor the past8. Effective visions are lived in  details not broad strokes. A Vision is                 concise, en compasing, a picture of sustaining axellencee in major     market.&lt;br /&gt; Dalam pencapaian suatu visi, pimpinan sangat berperan dan benar-benar menjadi panutan dari segala perilaku dan tindakannya, khususnya untuk pencapaian tujuan suatu organisasi (perusahaan) harus konsisten sepanjang masa.Misi merupakan yang menjelaskan alasan pokok berdirinya organisasi  dan membantu mengesahkan fungsinya dalam masayarakat atau lingkungan. Dalam bentuk yang sederhana pertanyaan misi menjawab, aktivitas apa yang akan dilakukan organisasi agar sosok yang diharapkan tadi (dalam visi) dapat terwujud.Dalam membuat dan melaksanakan pernyataan misi, setidaknya ada enam poin aturan yang harus diperhatikan :1. Jagalah agar pernyataan tetap sederhana, tidak harus pendek tetapi sederhana2. Memungkinkan masukan dari seluruh SDM (kru) perusahaan3. Orang luar bisa mendatangkan kejelasan  dan perspektif yang segar ke dalam proses penulisan pernyataan misi4. Susunan  kata-kata seharusnya mencerminkan  kepribadian perusahaan atau ingin menjadi apa perusahaan ini5. Berbagilah cara pernyataan misi secara kreatif sebanyak mungin. Jagalah agar pernyataan misi berada di hadapan setiap orang6. Mengandalkan pernyataan misi sebagi bimbingan. Tantanglah pernyataan misi terus menerus dan nilailah karyawan dengan sebaik apa mereka mematuhi prinsip-prinsipnya. Manajemen harus mengatakan dan menghayatinya.&lt;br /&gt;Sementara tujuan adalah akhir perjalanan yang dicari organisasi untuk dicapai melalui eksistensi operasinya serta merupakan sasaran yang lebih nyata dari pernyataan misi. Sebagai konsekuensi ditetapkannya visi, misi dan tujuan, maka dalam strategi induk juga ditetapkan kebijakan berupa acuan standar atau tolak ukur strategis dan operasional bagi perjalanan organisasi. Tolak ukur strategis lebih bersifat kualitatif dan bersandarkan pada nilai-nilai yang dianut organisasi. Sementara tolak ukur operasional lebih bersifat kuantitatif dan didasarkan atas kesepakatan hasil perhitungan atau analisa bersama dalam menjalankan aktivitas organisasi. Berdasarkan nilai-nilai utama, maka visi, misi dan tujuan suatu perusahaan, baik secara eksplisit maupun implisit hendaknya menggambarkan orientasi strategis perusahaan. Dengan demikian, visi yang diusung adalah menjadikan perusahaan sebagai wahana para pengeloalanya dalam melaksanakan suatu kegiatan bisnis tertentu yang selaras dengan tuntutan ajaran agama Islam dalam rangka meraih keridhaan Allah Swt. Misi dan tujuannya adalah bahwa keberadaan  perusahaan pada hakikatnya adalah untuk mewujudkan kegiatan bisnis yang memberikan keuntungan secara halal dan thayyib. Dalam hal pembinaan  SDM perusahaan, bagaimana mewujudkan SDM yang memiliki kepribadi melalui pola fikir dan pola sikap yang Islami serta profesional, yakni kafa’ah,n himmaltyul a’mal (beretos kerja tinggi) serta amanah. Dengan demikian, orang yang mendambakan keselamatan hidup yang hakiki, akan senantiasa terikat  dengan aturan syari’ah tersebut. Karena syari’ah mengikat setiap SDM perusahaan, maka aktivitas perusahaan  yang dilakukan SDMnya tidak boleh lepas dari koridor syari’ah. Visi, misi dan tujuan serta kedua tolak ukur di atas  akan tampak pada corporate culture dan implementasi  strategi berikutnya. Syari’ah sebagai tolak ukur strategis akan menjadi koridor bagi seluruh aktivitas keorganisasian segenap SDM perusahaan. Adapun tolak ukur operasional, sesuai dengan sifatnya, maka disepakati berdasarkan kebutuhan yang berkaitan dengan teknis penyelenggaraan kegiatan perusahaan. Tolak ukur tersebut dapat diformulasikan sebagai SMART, yakni :Specifik ; sesuartu yang unik, khasMeasurable ; sesuatu yang dapat diukur, kuantitatifAttainable ; sesuatu yang dapat dicapaiRealistic ; sesuatu yang raelistisTimely basic ; berorientasi waktu.&lt;br /&gt; Bila strategi induk telah berhasil ditetapkan, gambar 4 yang berisi enam sebab mengapa visi dan visi sebagian organisasi menjadi tidak efektif seperti yang ditulis oleh Faisol, penting untuk diperhatikan.&lt;br /&gt;     Menurut Jones dan Kahaner, ada enam peraturan untuk menulis dan melaksanakan pernyataan misi.1. Jagalah agar pernyataan tetap sederhana. Tidak harus pwendek, tetapi      sederhana2. Memungkin masukan dari seluruh SDM perusahaan3. Orang luar biasa mendatanhgkan kejel;asan dan perspektif yanag segar ke    dalam proses penulisan pernyataan misi4. Susunan kata-kata seharusnya mencerminkan keprobadian perusahaan atau    mencerminkan ingin jadi apa perusahaan itu.5. Berbagilah pernyataan misi dengan cara krteatif sebanyak mungkin dan dalam    bahasa sebanyak yang diperlukan. Jagalah pernyataan misis agar tetap berada     di hadapan setiap orang.6. Mengandalkan pernyataan misi sebagai bimbingan. Tantanglah pernyataan misi    terus menerus dan nilailah karyawan dengan sebaik apa mereka mematuhi    prinsip-prinsipnya. Manajemen harus mengatakan dan menghayatinya.&lt;br /&gt;Berikut ini dikemukakan contoh-contoh pernyataan misi dari berbagai perusahaan :&lt;br /&gt;Implementasi  Strategis Implementasi strategi merupakan realisasi dari strategi yang telah dipilih. Strategi yang telah dipilih harus  dapat dilaksanakan secara konsisten dan untuk  itu perlu dibangun  suatu struktur organisasi yang relevan, anggaran yang memadai, sistem yang jelas dan kemampuan para pengelolanya. Pelaksanaan strategi akan mencapai sukses apabila :1. Adanya kemampuan manager untuk menggerakkan orang secara simultan2. Pengorganisasian perusahaan harus mencerminkan strategi dan tujuan perusahaan3. Adanya motivasi yang tinggi4. Terciptanya budaya yang menggambarkan rasa kesetiakawanan positif yang berkesinambungan5. Adanya suatu sistem yang jelas untuk mengubungkan stratregi-strategi dengan rencana-rencana implementasi, sehingga strategi yang telah dipiliuh itu tidak tinggalk di atas kertas saja, tapi dilaksanakan.&lt;br /&gt;Keberhasilan McKinsey dalam mengelola perusahaanya dalah karena usahanya dalam mengembangkan konsep ”The 7-S Framework”. Kerangka dasar tesisnya ini adalah bahwa  manajer yang berhasil itu harus mengakui  bahwa implementasi yang efektif mencakup hubungan yang konsisten dari 7 faktor, yaitu struktur, style, staff, system, skills, strategy dan superordinate goals.  Secara visual dapat digambarkan sebagai berikut :&lt;br /&gt;Gambar ”The 7-S Framework&lt;br /&gt;Keterangan :Share value    : adalah nilai-nilai etik yang menjadi bagian terpenting yangmewarnai nilai-nilai yang lain. Nilai-nilai ini disebar luaskan kepada para kru (orang orang yang bekerja) di perusahaan. Penerapan nilai-nilai (moralitas dan kebaikan) dipercaya menjadi perekat keselarasan sdan keharmonisan bukan saja bagi share holder tetapi juga stakeholder&lt;br /&gt;Strategy : Seperangkat kegiatan  (aktivitas) untuk mencapai tujuan (goal).&lt;br /&gt;Structure : Suatu kerangka organisasi dan oragnisasi dan informasi yangmenunjukan tentang laporan-laporan dan tugas-tugas danbagaimana keduanya dapat berintegrasi&lt;br /&gt;System : Suatu proses  tentang bagaimana suatu organisasi beroperasi setiap   harinya, misalnya  tentang sistem informasi , sistem anggaran belanja,   proses produksi, sistem kontrol untuk kualitas dan sistem pekerjaan   atau penampilan perusahaan.&lt;br /&gt;Style  : Bagaimana para manejer mengalokasikan waktu dan perhatiannya serta                           bagaimana mereka bertingkah laku untuk lebih mementingkan                            menjalankan manajemen daripada mengatur manajemen (lebih penting                           bekerja daripada cuma bicara)&lt;br /&gt;Staff  : Bagaimana proses para manajer membantu  mengembangkan perusahaan                          dan membentuk  suatu manajemen dasar yang bernilaiSkills  :  Keterampilan yang dimiliki oleh para personil perusahaan.&lt;br /&gt; Sistem 7-S ini memberikan 4 gagasan penting :1. Faktor yang beraneka ragam akan mempengaruhi kemampuan organisasi dalam melakukan perubahan.2.  Ke 7 variabel itu saling berhubungan/terkait satu sama lain dan suatu hal yang mustahil akan mencapai kemajuan jika tidak terkait satu sama lainnya3. Banyak strategi yang telah dirancang rapi, tapi mengalami kegagalan. Ini disebabkan karena manajer-manajer yang burang memperhatikan 7 variabel S tersebut.4. Hal ini tidaklah berarti bahwa hanya 7 faktor tersebut yang dipentingkan, karena pada suatu  waktu tertentu bisa saja terdapat faktor lainnya.&lt;br /&gt;Dapat dikatakan bahwa ke 7 S di atas tidaklah mutlak, amat tergantung pada organisasi perusahaan dan tergantung pada siatuasi-sotuasi yang kadang sering berubah. Perlu diketahui bahwa keberhasilan di dalam melaksanakan  strategi  tidak sekedar merubah struktur, melainkan akan ada kemajuan-kemajuan dari variabel  sentral yang fungsional kepada struktur desentral yang divisional.  Prinsip-prinsip  Implementasi Strategis. Agar suatu oraganisasi bisnis dapat berjalan sesuai dengan visi, misi dan tujuan yang telah ditetapkan, diperlukan sejumlah prinsip sebagai pedoman pelaksanaan. Terdapat tujuh prinsip organiasasi yang dianggap penting, yaitu :1. Perumusan tujuan. Organisasi  haruslah memiliki tujuan yang jelas. Kejelasan tujuan yang terakhir dari visi dan misi yang gamblang serta berada dalam kendali nilai utama organisasi, akan menjadi pedoman yang mantap bagi anggota, terutama dalam menentukan langkah-lankah rasional yang harus ditempuh.2. Kesatuan Arah. Dalam setiap struktur organisasi pasti terdapat pemimpin atasan dan anggota/bawahan. Setiap bawahan hanya akan memiliki satu atasan. Bawahan hanya menerima perintah dan bertangung jawab kepada atasannya. Kesatuan arah yang berpangkal dari kesatuan visi organisasi akan membawa seluruh SDM organisasi kepada kesatuan langkah guna mewujudkan tujuan organisasi.3. Pembagian kerja. Langkah-langkah konkrit yang telah ditetapkan untuk mencapai tujuan organisasi selanjutnya perlu dibagi dalam beberapa kelompok aktivitas. Sehingga setiap bagian atau unit kerja mengetahui secara jelas wewenang dan tanggung jawab yang diembannya. Agar berjalan dengan baik, pembagian kerja harus  memenuhi syarat, the right man on the right place. Melalui penempatan sumberdaya manusia yang sesuai  dengan bidang dan keahlian masing-masing akan mendorong  tercapainya efisisensi kerja.4. Pendelegasian wewenang dan tanggung jawab. Pendelegasian wewenang dan tanggung jawab adalah prinsip berikutnya yang harus dilakukan setelah pembagian kerja. Hal ini dimaksudkan agar setiap bagian dapat menjalankan semua kewenangan dan tanggung jawabnya. Tentu Saja dalam pelaksanaan pendegasian ini perlu memperhatikan aspek keseimbangan antara kewenangan dan tanggung jawab pekerjaan agar tercipta mekanisme kerja yang sehat. Pada gilirannya pendelegasian wewenang yang baik juga akan memotivasi bahwahan untuk lebih percaya diri, bekerja lebih baik, kreatif dan bertanggung jawab.5. Kordinasi. Pelaksanaan wewenang setiap bagian tentu akan terkait dan memperngarui bagian yang lain. Karena itu diperlukan kordinasi antar bagian. Prinsip ini menjadi penting, mengingat dalam prakteknya, kerap ditemukan kasus di mana suatu bagian tanpa sadar menjadi lebih mementingkan bagiannya sendiri.6. Tingkat pengawasan. Guna memudahkan pengawasan, penyusunan struktur organisasi harus dilakukan dengan memperhatikan tingkat-tingkat pengawasan secara struktural.7. Rentang Manajemen. Efektivitas dan efisiensi pengemndalian bawahan dipengaruhi oleh rentang manajemen (rentang kendali), yakni beberapa bawahan langsung yag dapat diawasi secara efektif dan efisien yang jumlahnya bertgantung pada kondisi yangdihadapi. Di samping itu juga terdapat rantai komando, yaitu level  hirarki pembuatrahna keputusan. Ada sejumlah pendapat berkaitahn dengan span of control atau kemampuan seorang pemimpin untuk mengawasai bawahannya secara efektif. Hardjio berpendapat hanya 5-10 orang bawahan, sedangkan Handoko (1984) menyatakan 3 – 8 orang bawahan.5. Jenis-jenis Organisasi Bisnis Islam  Jenis-jenis organisasi bisnis Islam, dapat dirujuk  konsep syirkah sebagai usaha bersama (perseroan) berikut macam-macamnya dalam perspektif Islam. Hal ini sangat dibutuhkan dalam aplikasi bisnis Islami. Juga mengingat seluruh jenis perseroan konvensional yang ada sekarang ini tidak ada satupun yang luput dari pengaruh faham  kapitalisme-sekulerisme. Pembahasan detail tentang  ini dapat dilihat selanjutnya dalam Wahbah Az-Zuhaily  (1997), an-Nabhani  (1996), dan Shiddiqi  (1996).dan Afzalur Rahman&lt;br /&gt;Syirkah ada dua macam :1. Syirkah Amlak ; yaitu  dua orang atau lebih memiliki benda/harta, yang bukan disebabkan akad syirkah. Perkongsian pemilikan ini tercipta karena warisan, wasiat, membeli bersama atau kondisi lainnya yang berakibat pemilikan satu asset oleh dua orang atau lebih. 2. Syirkah ’Ukud, yaitu transaksi yang dilakukan oleh dua orang atau lebih untuk berserikat dalam permodalan dan keuntungan . Syirkah (’ukud) adalah akad kerjasama antara dua pihak atau lebih dimana masing-masing pihak menyetorkan modal dalam jumlah yang sama atau berbeda sesuai kesepakatan. Pencampuran modal tersebut digunakan untuk pengelolaan proyek/usaha yang layak usaha dan sesuai dengan prinsip syariah. Pembagian keuntungan akan dibagihasilkan berdasarkan nisbah yang telah disetujui dalam akad. Dalam bisnis syari’ah terdapat lima jenis syirkah yang berkembang dalam praktek bisnis Islam.1. Syirkah MudharabahMudharabah adalah pemilik modal menyerahkan hartanya kepada pekerja (amil) untuk diperdagangkan dan mereka berkongsi keuntungan, dengan syarat-syarat yang telah mereka sepakati bersama. Adapun kerugian ditanggung oleh  pemilik modal  saja. Sedangkan mudharib tidak menanggung kerugian, tetapi ia rugi tenaga dan pikiran saja. Shahibul Kanzi mendefinisikan mudharabah sebagai perkongsian di bidang harta dan tenaga&lt;br /&gt;2. Syirkah ‘Inan, Adalah kontrak antara dua orang atau lebih. Setiap pihak memberikan suatu porsi dari keseluruhan dana dan berpartisipasi dalam kerja. Kedua pihak berbagi dalam keuntungan dan kerugian sebagaimana disepakati di antara mereka. Namun porsi masing-masing pihak, baik dalam dana, hasil kerja maupun bagi hasil berbeda, sesuai dengan kesepakatan mereka.&lt;br /&gt;3. Syirkah Mufawadhah Adalah dua orang atau lebih melakukan serikat bisnis dengan syarat adanya kesamaan dalam permodalan, pembagian keuntungan dan kerugian, kesamaan kerja, tangunggung jawab dan beban hutang.  Satu pihak tidak dibenarkan memiliki saham (modal)  lebih banyak dari partnernya. Apabila  satu pihak memiliki saham modal  sebasar 1000 dinar, sedangkan pihak lainnya 500 dinar, maka ini bukan syirkah mufawadhah, tapi menjadi syirkah inan.  Demikian pula aspek-aspek lainnya, harus memiliki kesamaan.&lt;br /&gt;4.  Syirkah ’Amal/abdan Adalah kontrak kerkasama dua orang atau lebih untuk menerima pekerjaan secara bersama dan berbagi keuntungan dari pekerjaan itu, seperti tukang jahit, tukang besi, tukang kayu, arsirtek, dsb.  Misalknya, dua pihak sepakat dan berkata, ” Kita berserikat untuk bekerja dan keuntungannya kita bagi  berdua”. Syirkah ini sering disebut juga syirkah abdan atau shana’iy.&lt;br /&gt;5.Syirkah Wujuh Adalah kontrak biusnis antara dua orang atau lebih  yanag memiliki reputasi dan prestise baik, di mana mereka dipercaya untuk mengembangkan suatu  bisnis tanpa adanya modal. Misalnya, mereka dipercaya untuk membawa bartang daganagan tanpa pembayaran cash. Artinya mereka dipercaya untuk membeli barang-barang itu secara kredit dan selanjutnya memperdagangankan barang tersebut untuk mendapatkan keuntungan. Mereka berbagi dalam keuntugan dan kerugian  berdasarkan jaminan supplyer kepada masing-masing mereka. Oleh karena bisnis ini tidak membutuhkan modal, maka  kontralkini biasa disebut sebagai syirkah piutang.&lt;br /&gt;Struktur Organisasi Bisnis Struktur organisasi merupakan alat manajemen untuk mencapai suksesnya pelaksanaan strategi. Struktur organisasi dapat menggambarkan :1. Aktivitas kerja masing-masing unit dalam organisasi2. Hubungan di antara masing-masing unit aktivitas3. Jenis-jenis job masing-masing kelompok4. Menentukan wewenang dan tanggung jawab masing-masing unit5. Memperoleh koordinasi antara masing-masing unit.&lt;br /&gt;Dalam bahasan bentuk dan struktur organisasi perlu dipahami konsep line authority (wewenang lini), staff authority (wewenang staf) dan functional authority (wewenang fungsional). Wewenang lini adalah wewenang yang menimbulkan tanggung jawab atas tercapainya tujuan organisasi. Wewenang staf merupakan wewenang untuk membantu agar orang yang memiliki wewenang lini bekerja secara efektif dalam mencapai tujuan organisasi. Wewenang fungsional ialah wewenang  yang diberikan kepada  seseorang atau departemen untuk dapat mengemabil keputusan mengenai hal-hal yang berada di departemen lain. Wewenang-wewenang tersebut membentuk hubungan-hubungan yang akan membedakan apakah organisasi tersebut akan menjadi organisasi lini, lini dan staf dan fungsional serta matriks. Penjelasan-penjelasan berikut akan memaparkan bentuk-bentuk organisasi tersebut.&lt;br /&gt;1. Line Organization Bentuk organisasi lini dicirikan oleh skala organisasi yang masih kecil, jumlah personil yang terlibat masih sedikit, spesialisasi belum ada atau masih sedikit, pemilik biasanya menjadi pimpinan tertinggi dan hubungan antara pimpinan dan bawahan bersifat langsung. Inilah bentuk organisasi tertua yang disesain oleh Henry Fayol. Bentuk organisasi ini dinilai memiliki sejumlah keunggulan dan kelemahan. Keunggulannya antara lain, 1. Kesatuan komando terjamin amat baik, 2. Proses penga,bilan keputusan erlangsung sangat cepat, karena jumlah SDM masih sedikit dan terbatas, 3. Rasa solidaritas di antara karyawan umumnya tinggi, karena mereka biasanya saling kenal. Sedangkan kelemahannya. 1.Maju mundurnya organisasi cenderung tergantung pada satu orang, 2. Kesempatan karyawan untuk berkembang sangat terbatas, 3. Pemimpin cendrung dan berpeluang untuk otoriter.&lt;br /&gt;2.Line and Staff Organization. Selanjutnya  bentuk organisasi yang kedua ialah organisasi lini dan staf (line and staff organization). Bentuk ini biasanya untuk organisasi yang berskala  besar, jumlah SDM yang banyak dan spesialisasi kru sudah ada. Bentuk ini didesain oleh Harrington Emerson. SDM/unit kerja yang ada terbagi dua kelompok :1. Kelompok orang (unit kerja ) yang melaksanakan tugas organisasi disertai dengan wewenang dan berhak memberi perintah dan mengambil keputusan akhir2. Kelompok staf atau pembantu, yaitu unit kerja yang berfungsi sebagai penunjang. Contoh kelompok staf adalah orang-orang pada sekretariat, bagian perlengkapan atau departemen penjualan pada saat diminta pendapatnya mengenai pengepakan oleh Departemen produksi, maka pada saat itu dep[artemen penjualan berfungsi sebagai staf. Bentuk organisasi ini memiliki sejumlah keuanggulan dan kelemahan. Adapun keunggulannya adalah, 1. Adanya job description yang jelas, 2. Spesialisasi pekerjaan dapat berkembang dan memberi kesempatan bagi pengembangan kru (karyawan),3. Disiplin kerja cukup tinggi. Sedangkan kelemahannya adalah, 1.Pelauang potensi konflik dalam pekerjaan karena adanya dua kelompok karyawan yang berbeda kewenangannya.&lt;br /&gt;3.Line and function organizationBentuk organisasi ini adalah seperti gambar berikut :   Dalam struktur organisasi ini, terdapat hubungan wewenang lini dan fungsional. Struktur fungsionalnya banyak dijumpai pada perusahaan yang memiliki produk tunggal atau lini produk terbatas. Cirinya adalah skala organisasi yang besar, jumlah kru yang besar, aktivitas sudah sangat terspesialisasi. Misalnya departemen keuangan dengan kewenangan menetapkan prosedur keuangan, juga terdapat pada departemen-departemen lainnya. Dalam struktur ini, departemen keuangan melakukan wewenang fungsionalnya, yakni melaksanakan fungsi keuangan melalui prosedur yang telah ditetapkannya itu pada semua departemen. Sementara secara internal, kepala de[artemen keuangan juga memiliki hubungan lini dengan seluruh stafnya. Dalam interaksi kesehariannya, keseluruhan hubungan wewenang, baik lini, fungsional maupun staf, umunya dijalankan oleh perusahaan-perusahaan besar, sehingga kadang sulit untuk membedakan secara tegas penggunaan bentuk organisasi secara konsisten. Semua itu tergantung pada wewenang yang dijalankan. Sebagaimana dalam bentuk-bentuk organisasi yang lain, bentuk organisasi ini, juga memiliki keuanggulan dan kelemahan. Keunggulannya adalah, 1.Adanya pembagian tugas yang jelas, 2. Spesialisasi dalam pekerjaan dapat berkembang pada tahap berikutnya memberi kesempatan bagi pengembangan karyawan (kru),3.Disiplin kerja cukup tingi. Sedangkan kelamahannya adalah  membawa potensi konflek dalam pekerjaan karena adanya dua kelompok karyawan yang berbeda kewenangannya.&lt;br /&gt;Kepemimpinan Menurut Goetsch dan Davis (1994, p.192), kepemimpinan merupakan kemampuan untuk membangkitkan motivasi dan semangat orang lain (anak buahnya) agar bersedia dan memiliki tanggung jawab terhadap usaha mencapai tujuan organisasi. Menurut Drucker (1992, p.122) , ciri-ciri pemimpin sebagai berikut :1. Pemimpin menentukan dan mengungkapkan misi organisasi secara jelas2. Pemimpin menetapkan tujuan, prioritas dan standar3. Pemimpin lebih memandang kepemimpinan sebagai tanggung jawab daripada suatu hak istimewa dalam kedudukannya sebagai pemimpin.4. Pemimpin bekerjasama dengan orang-orang yang berpengatahuan dan tangguh sereta dapat memberikan konstribusi pada organisasi5. Pemimpin memperoleh kepercayaan, respek dan integrasi.&lt;br /&gt;Dalam perspektif Islam, kepemimpinan sangat terkait kuat dengan masuliyah, yakni tanggung jawab, tidak saja tanggung jawab kepada manusia tetapi juga akepada Allah Swt. Dalam hal ini Nabi Muhammad Saw bersabda,”Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap memimpin bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Setiap kepala negara adalah pemimpin dan ia bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Seorang wanita (ibu ) adalah pemimpin dalam rumah tangga suaminya dan anak-anaknya, ia bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Seorang hamba adalah pemimpin atas harta tuannya dab ia akan berttanggung jawab atas kepemimpinannya itu. Ketahuilah bahwa setiap kamu adalah pemimpin dan masing-masing kamu akan mempertanggung jawabkan atas kepemimpinannya”  (H.R.Bukhari, Muslim, Abu Daud, Rtarmizi dari Ibnu Umar)  Implementasi dari fungsi kepemimpinan di atas dapat dijabarkan dalam dua fungsi utama, yakni fungsi pemecahan masalah (pemberi solusi) dan fungsi sosial (fasilatator). Fungsi pemecahan  masalah meliputi pemberian pendapat, informasi dan solusi dari suatu problem yang selalu didasarkan pada syari’ah yang didasarkan pada dalil (hujjah) yang kuat. Fungsi ini diarahkan juga untuk memberikan motivasi ruhiyah kepada para SDM organisasi. Sedangkan fungsi sosial berhubungan dengan interaksi antar anggota komunitas dalam menjaga suasana kebersamaan tim agar tetap sebagai team. Interaksi dalam tim ini berada dalam korodor amar  (fasilatator). Fungsi pemecahan  masalah meliputi pemberian pendapat, informasi dan solusi dari suatu problem yang selalu didasarkan pada syari’ah yang didasarkan pada dalil (hujjah) yang kuat. Fungsi ini diarahkan juga untuk memberikan motivasi ruhiyah kepada para SDM organisasi. Sedangkan fungsi sosial berhubungan dengan interaksi antar anggota komunitas dalam menjaga suasana kebersamaan tim agar tetap sebagai team. Interaksi dalam tim ini berada dalam korodor amar ma’ruf nahi munkar.&lt;br /&gt;Prosedur, Program  dan Anggaran Menurut Waller, tugas prosedur adalah memastikan bahwa di seluruh organisasi semua orang mengerjakan sesuatu dengan cara yang sama dan bekerja sebagaimana semua orang bekerja.  Namun harus dicatat, bahwa prosedur juga bukanlah uraian pekerjaan. Prosedur harus mengungkapkan :-Bagaimana semua aktivitas manajemen dilaksanakan-Siapa yang akan melaksanakan aktivitas-Bagaimana aktivitas didokumentasikan-Instruksi tempat kerja  yang diperlukan untuk referensi.&lt;br /&gt;Di berbagai perusahaan banyak contoh prosedur yang biasa digunakan diantaranya :- Prosedur manajemen Kerja- Prosedur pengeluaran dana- Prosedur evaluasi kegiatahn manajemen- Prosedur rekruitmen SDM- Prosedur pendidikan pelatihan- Prosedur penelitian dan pengembangan- Prosedur pengadaan barang dan jasa- Prosedur pelayanan pelanggan- Prosedur kerjasama dan kemitraan- Prosedur pembuatan rencana kerja- Prosedur pembuatan anggaran- Prosedur  evaluasi program kerja- Prosedur pengukuran dan pemantauan hasil kerja- Prosedur pengelolaan arsip- Prosedur audit internal- Prosedur pengendalian dokumen dan data- Prosedur pembuatan program baru Pembuatan prosedur yang baik tentu membutuhkan waktu dan usaha, guna memenuhi ruang lingkup yang dikehendaki layaknya sebuah prosedur. Untuk memperjelas ruang lingkup tersebut, dapat dilihat gambar berikut.&lt;br /&gt;Berdasarkan prosedur yang ditetapkan, disusunlah program. Secara sederhana program yanag dimaksud adalah program yang memenuhi tolak ukur SMART (Specifik, Measurable, Attainable, Realistic, dan Timely Basis). Dalam perencanaan program perlu diperhatikan poin berikut :1. Penanggung jawab dan personil yang terlibat dalam pembuatan program baru harus ditentukan.2. Fungsi-fungsi yang terlibat dalam program harus dipastikan memahami perannya. Fungsi-fungsi lain bila dilibatkan harus dikordinasikan secara tertib dan tercatat3. Perencanaan program harus diawali dengan menetapkan tujuan dan persayaratan atau kriterianya. Persyaratan dapat berasal dari hasil evaliuasi sebel;umnya. Masukan dari konsumen (customer), tinjauan hukum daan persayatan lain yang relevan4. Perlu ditentukan pula tata cara verifikasi dan evaluasi terhadap nilai pelaksanaan program5. Perlu perencanaan anggaran biaya. Aktivitas penyusunan anggaran ini merupakan bagian penyusunan perencanaan jangka pendek (tahunan) dalam bidang biaya. Dengan menetapkan anggaran dapat diketahui sasaran profit juga pertumbuhannya. Penyusunan anggaran juga merupakan bentuk nyata komitmen perusahaan dalam mengimplementasikan strategi yang telah diformulasikan sebelumnya. Dapat dipahami, jika strategi tidak didukung anggaran yang memadai, strategi tersebut besar kemungkinan akan berubah menjadi seonggok dokumen sejarah belaka. Semua hal di atas dilakukan dengan prosedur yang telah ditetapkan. Selanjutnya dalam sub kajian ini kita membicarakan penganggaran. Penganggaran adalah perumusan rencana dalam angka-angka untuk periode tertentu di masa depan. Dengan demikian, anggaran adalah laporan tentang hasil-hasil yang diantisipasikan dalam angka keuangan-seperti dalam anggaran penghasilan dan pengeluaran serta anggaran modal atau dalam istilah yang non keuangan-seperti dalam anggaran jam tenaga kerja langsung, bahan baku, volume penjualan fisik atau produksi unit. Dengan menyatakan perencanaan dalam angka-angka dan memecahkannya dalam komponen-komponen yang cocok dengan struktur organisasi, anggaran menghubungkan perencanaan dan membolehkan pendelegasian kekuasaan dan wewenang tanpa hilangnya pengasawan.&lt;br /&gt;Pengendalian Strategi Tahapan keempat kerangka manajemen strategis adalah pengendalian strategi yang terdiri dari evaluasi dan pengawasan (pengendalian). Menurut Stoner    pengawasan atau pengendalian adalah suatu upaya sistimatis untuk menetapkan standar prestasi kerja dengan tujuan perencanaan untuk mendesain sistem  umpan balik informasi, untuk membandingkan prestasi sesungguhnya  dengan target yang telah ditetapkan, menentukan apakah ada penyimpangan dan mengukur penyimpangan tersebut dan mengambil tindakan perbaikan yang diperlukan untuk menjamin bahwa semua sumberdaya perusahaan telah digunakan dengan cara yang paling efektif dan efisisen guna tercapainya tujuan perusahaan. Pengendalian strategi merupakan suatu upaya sistimatis dalam mengukur tingkat keberhasilan atau pencapaian target baik kualitatif maupun kuantitatif. Pengendalian strategi ini terdiri atas langkah-langkah sebagaimana dalam gambar berikut. Langkah pertama adalah menetapkan standar dan metode pengukuran prestasi kerja, agar manejer mengetahui perkembangan yang terjadi dalam perusahaan, tanpa perlu mengawasi setiap langkah untuk proses pelaksanaan rencana yang telah ditetapkan. Langkah kedua adalah mengukur dan mengevaluasi prestasi kerja terhadap standar yang telah ditentukan. Pengukuran prestasi kerja hendaknya dilakukan dengan pandangan jauh ke depan, sehingga penyimpangan-penyimpangan yang mungkin terjadi dapat diketahui lebih dahulu( sedini mungkin)Langkah ketiga adalah membandingkan hasil pengukuran dengan target atau standar yang telah ditetapkan. Bila prestasi sesuai dengan standar, manajer menilai bahwa segala sesuatunya berada dalam kendali.Langkah keempat adalah mengambil tindakan koreksi. Proses pengendalian tidak sempurna, jika tidak diambil tindakan untuk membetulkan penyimpangan yang terjadi. Jika standar ditetapkan untuk mencerminkan struktur organisasi dan  prestasi diukur dengan standar ini, maka pembetulan terhadap penyimpangan dapat dipercepat, karena manajer mengetahui dengan cepat aspek  mana yang harus dikoreksi.Di bawah ini bagan standar pengukuran prestasi kru perusahaan :&lt;br /&gt;Dalam perspektif syari’ah, Islam merupakan asas kendali yang utama, baik organisasi, kelompok maupun individu. Ini dikarenakan, penetapan Islam sebagai nilai utama merupakan kebijakan utama pimpinan organisasi untuk menjamin keberkahan organisasi bagi seluruh SDMnya yang dilakukan sebelum penetapan orientasi stratregis berikut strategi derivasinya. Ukuran perestasinya adalah ketaatan kepada syariat Islam. Maksudnya semua aktivitas SDM organisasi harus dijalankan dalam koridor ketaatan kepada syari’ah Islam. Sebaliknya  bila aktivitas SDM menyimpang dari syari’ah Islam, maka aktivitas tersebut dikategorikan sebagai kemaksiatan dan pelanggaran terhadap syari’at. Imbalan tertinggi  prestasi SDM organisasi jika melakukan ketaatan terhadap syariat Islam dalam konteks organisasi, kelompok maupun individu, tiada lain adalah pahala  keberkahan. Sejalan dengan tujuan sbelumnya, implementansi ketaatan pada konteks organisasi tercermin dari semua kebijakan organisasi yang dibangun dari nilai utama organisasi, yakni Islam. Kebijakan organisasi yang menjaga setiap masukan, proses manajemen dan out put agar terhindar dari tindakan kezaliman, bebas dari barang dan jasa yang haram, bebas dari korupsi, peniupuan, riba, judi, pemberian hadiah (komisi) yang dilarang merupakan sejumlah contoh implemnetasi ketaatan. Begitu juga dengan kebijakan perusahaan untuk mengedepankan profesionalisme kerja, yakni agar setiap SDM memiliki ciri-ciri kafaah, himmatul amal dan amanah.&lt;br /&gt;Pengawasan bertujuan untuk mengukur aktivitas dan mengambil tindakan guna menjamin bahwa rencana sedang dilaksanakan. Untuk itu harus diketahui orang yang bertanggung jawab atas terjadinya penyimpangan rencana dan yang harus mengambil tindakan untuk membetulkannya. Pengawasan aktifitas dilaksanakan melalui orang-orang, akan tetapi tidak dapat diketahui siapakah yang harus bertanggung jawab atas terjadinya penyimpangan dan tindakan koreksi yang perlu diambil, kecuali apabila tanggung jawab dalam organisasi dinyatakan dengan jelas dan teririnci. Oleh karena itu prasyarat yang penting dalam efektifitas pengawasan ialah struktur oraganisasi yang jelas, lengkap dan menyatu.&lt;br /&gt;Teknik Pengawasan Meskipun sifat dasar dan tujuan pengawasan manajemen tidak berubah, namun selama bertahun-tahun telah dipergunakan berbagai alat dan teknik untuk membantu manajer dalam melaksanakan tugasnya. Seperti yang akan terlihat dalam teknik-teknik ini, mereka pertama-tama adalah alat-alat untuk perencanaan. Teknik tersebut menunjukkan kebenaran mutlak, bahwa tugas pengawasan ialah untuk mensukseskan perencanaan dan dalam berbuat demikian, dengan sendirinya pengawasan harus mencerminkan perencanaan dan perencanaan harus mendahului pengawasan.&lt;br /&gt;Penutup1. Manajemen organisasi harus dipandang  sebagai suatu sarana untuk memudahkan implementasi Islam dalam kegiatan organisasi. Implementasi nilai-nilai Islam berwujud pada difungsikannya  Islam sebagai kaedah berfikir dan kaedah amal ( tolak ukur perbuatan ) dalam seluruh kegiatan organisasi. Nilai-nilai Islam inilah sesungguhnya yang menjadi nilai-nilai utama organisasi. Dalam implementasi selanjutnya, nilai-nilai Islam ini akan menjadi payung strategis hingga taktis seluruh aktivitas organisasi.2. Manajemen strategis dalam perspektif Islam ialah rangkaian proses aktivitas manajemen Islami yang mencakup ; 1.Tahapan analisis lingkungan organisasi, 2. Formulasi Strategi, 3.  implementasi strategi dan 4. Evaluasi dan kontrol terhadap keputusan-keputusan strategis organisasi yang memungkinkan pencapaian tujuannya di masa depan. Semuanya dibingkai dalam koridor syari’at Islam.Manajemen Stratregis merupakan  proses penetapan struktur peran melalui penentuan kegiatan yang harus ditempuh untuk mencapai visi, misi dan tujuan organisasi serta bagian-bagiannya, pengelompokan aktivitas, penugasan kelompok-kelompok aktivitas, pendelegasian wewenang, pengkordinasian hubungan-hubungan wewenang dan informasi baik horizontal maupun vertikal dalam struktur organisasi3. Aplikasi manajemen strategis Islami yang dikendalikan oleh nilai-nilai syari’ah sama sekali berbeda dengan  aplikasi manajemen strategis konvensional yang non Islami, Perbedaan itu ialah pada cara pengambilan keputusannya, hingga pelaksanaannya (strategi-strategi fungsional). Dengan berlandaskan sekulerisme yang bersendikan pada nilai-nilai material, aplikasi strategis non Islami tidak memperhatikan aturan halal-haram dalam setiap perencanaan, pelaksanaan dan segala usaha yang dilakukan dalam mencapai tujuan-tujuan organisasi.Manajemen strategis perspektif syari’ah memiliki 14 karakter khas yang membedakannya dengan manajemen strategis konvensional, yaitu :  1. Asas, 2. motivasi, 3 orientasi, 4. stratregi induk, 5.  strategi fungsional operasi, 6stratregi fungsional keuangan, 7 strategi fungsional pemasaran. 8 strategi fungsional SDM dan 9. sumberdaya. 10. Manajemen Strategis, 11. Manajemen operasi, 12. manajemen keuangan, 13. Manajemen Pemasaran, dan 14. Manajemen SDM. Implementasi manajemen stratregis dengan kendali syari’ah akan membawa organisasi bisnis berorientasi pada pencapai empat hal utama, yakni :1. Target hasil : profit materi dan benefit non-materi, 2. Pertumbuhan : artinya terus meningkat 3. Keberlangsungan, dalam kurun waktu selam mungkin, DAN 4. Keberkahan atau keridhaan Allah&lt;br /&gt;DAFTAR KEPUSTAKAANAfzalur Rahman,  Economic Doctrines of Islam,  Edisi Indonesia,  Doktrin Ekonomi Islam, jilid 4 Terj. Suroyo Nastangin, Dana Bhakti Wakaf Yogyakarta, 1996.&lt;br /&gt; Diwan Parag, Strategic Management, New Delhi, A Pantagon Press Publication, 1997&lt;br /&gt;Faulkner, D and G.Johnson, The Challenge of Strategic Manajement, terj. Strategi Manajemen, Jakarta,, Elex Media Komputindo, 1995&lt;br /&gt;Follet dalam Kadarman, AL. et.el, Pengantar Ilmu Manajemen, Jakarta, Gramedia, 1996.&lt;br /&gt;Gregory G.Des and Miller Alex, Strategic Management, International Edition, 1993&lt;br /&gt;Handoko, H, Manajemen Strategik dalam Dekade 2000-an : Tantangan Pengembangan Teori dan Aplikasi, Makalah dalam Seminar Internasional, Strategi  Pembangunan Ekonomi dan Bisnis di Indonesia, Refleksi dan Aktualisasi,UGM, Yogyakarta, 1995&lt;br /&gt;Harahap, Sofyan Syafri, Akuntansi, Pengawasan &amp;amp; Manajemen dalam Perspektif Islam, Jakarta, FE Trisakti, 1992&lt;br /&gt;Hardjito, D. Teori Organisasi dan Teknik Pengorganisasian, Jakarta, Raja Grafindo Persada, 1995.&lt;br /&gt;Hones, P.  And L.Kahaner, Misi dan Visi 50 Perusahaan Terkenal di Dunia, terjemahan,  Batam Interaksa, 1999.&lt;br /&gt;Krebet Wijayakusuma, M, dan Ismail Yusanto, M, Manajemen Syariat, Jakarta, Khairul Bayan, 2003&lt;br /&gt;Muhammad Ismail Yusanto, Manajemen Strategis, Perspektif Syari’ah, Jakarta, Khairul Bayan, 2003.&lt;br /&gt; Muhammad Ismail Yusanto, Manajemen Strategis, Perspektif Syari’ah, Jakarta, Khairul Bayan, 2003.&lt;br /&gt;Muhammad Ismail Yusanto, Menggagas Bisnis Islami,  Jakarfa, Gema Insani Press, 2002&lt;br /&gt;Muhammad Nejatullah Ash-Shiddiqy, Patnership and Profit Sharing in Islamic Law,  Terj.Kemitraan Usaha dan Bagi Hail dalam Hukum Islam, Yogyakarta, Dana Bhakti Wakaf, 1996.&lt;br /&gt;Riawan Amin, Ahmad,  The Calestial Management, (Edisi Bahasa Inggris) Jakarta, Bening Publishing, 2004&lt;br /&gt;Saladin, Djaslim, Manajemen Strategi &amp;amp; Kebijakan Perusahaan, Bandung, Linda Karya, 2003&lt;br /&gt;Stonner James, dan Charles Wankel,  Manajemen, jilid I, terjemahan, Jakarta, Intermedia, 1986&lt;br /&gt;Taqyuddin An-Nabhani, An-Nizham al-Iqtishad fil Islam,  Darul Ummah, Beirut, 1990&lt;br /&gt;Thomas Whellen and David Hunger, Strategic Management Business Policy, Addison Wesley Publishing Company, Inc, 2000&lt;br /&gt;Tom Peters, Thriving on Chaos, New York : Knopt, 1987&lt;br /&gt;Wahbah Az-Zuhayli, Al-Fiqh al-Islamy wa Adillatuhu, Beirut, Dar al-Fikri, 1998.&lt;br /&gt;Waller, J.D Allen dan A.Burns, Menulis Manual Manajemen Mutu, terj, Jakarta, Pustaka, Binaman Presindo, 1994&lt;br /&gt;William Glueck F, and Jauch Laurance,R, Business Policy and Strategic Management, An Integrated Approach, by Hougton Miflin Company, USA&lt;br /&gt;Atas dasar nilai-nilai utama itu pula tolak ukur strategis bagi aktivitas perusahaan adalah adalah syari’ah Islam itu sendiri. Aktivitas perusahaan apapun bentuknya, pada hakikatnya adalah aktivitas manusia dalam memenuhi kebutuhan  hidupnya yang akan selalu terikat dengan syari’ah. Hal ini sesuai dengan kaedah, ”Al-Ashlu fil Af’al, at-taqayyudu bil hukm asy-syar’iy”. (Hukum asal setiap perbuatan adalah terikat dengan syari’ah). Syari’ah adalah aturan yang diturunkan Allah untuk manusia melalui lisan para RasulNya. Syari’ah tersebut harus menjadi pedoman dalam setiap aktivitas manusia, termasuk dalam aktivitas organisasi bisnis. Banyak sekali ayat Alquran yang menegaskan hal tersebut. ”Maka demi Rabbmu, mereka  pada hakekatnya tidak beriman, hingga mereka menjadikan kamu sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan kemudian mereka tidak merasa keberatan terhadap keputusan yang kamu berikan dan mereka menerima dengan sepenuhnya”. (QS.An-Nisak (4) : 65) ”Apa saja yang dibawa dan diperintahkan oleh Rasul (berupa syari’ah) dan apa yang dilarangnya makja tinggalkanlah”. (QS.Al-Hasyar : 7)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9160165760161037566-2504053717777943423?l=hafulyon.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hafulyon.blogspot.com/feeds/2504053717777943423/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hafulyon.blogspot.com/2009/11/manajemen-perusahaan-islam-perspektif.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9160165760161037566/posts/default/2504053717777943423'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9160165760161037566/posts/default/2504053717777943423'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hafulyon.blogspot.com/2009/11/manajemen-perusahaan-islam-perspektif.html' title='Manajemen Perusahaan Islam :Perspektif Manajemen Strategis'/><author><name>HAFULYON MM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08733764793398655527</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_T62w1t6xAVs/ShfXK7BkbBI/AAAAAAAAAAM/_Ox51Zx1NBA/S220/100_0587.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9160165760161037566.post-8450365684967994138</id><published>2009-11-04T21:37:00.000-08:00</published><updated>2009-11-04T21:48:20.523-08:00</updated><title type='text'>Judul Makalah Diskusi Adm.Pendidikan</title><content type='html'>Judul Makalah Adm.Pendidikan Mahasiswa UMSB FAI di Padang Panjang.&lt;br /&gt; Diskusi bulan Nopember dan Desember 2009&lt;br /&gt;Kelompok  II   Fungsi Administrasi dan Manajemen dalam Pengelolaan Pendidikan.&lt;br /&gt;Kelompok  III FungsiTanggung Jawab Kepala Sekolah terhadap Administrasi Pendidikan.&lt;br /&gt;Kelompok  IV  Supervisi PAI pada Sekolah Umum dan Kejuruan.&lt;br /&gt;Kelompok   V   Semangat Kerja, Iklim Organisasi terhadap Produktivitas Pendidikan.&lt;br /&gt;Kelompok  VI  Pendekatan Sifat, Kontingensi dalam Kepemimpinan Pendidikan.&lt;br /&gt;Kelompok  VII Peranan Kepala Sekolah sebagai Pemimpin dan Supervisi.&lt;br /&gt;KelompokVIII Konsep Pembinaan Profesi Guru Agama.&lt;br /&gt;Kelompok IX   Strategi Pelaksanaan Supervisi dan Administrasi Pendidikan.&lt;br /&gt;Kelompok  X    Analisa Supervisi Pendidikan pada Madrasah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masing-masing kelompok agar menyiapkan peralatan diskusi berupa: poto copy makalah dan Lap Top serta In focus terpasang dilokal sebelum diskusi dimulai.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9160165760161037566-8450365684967994138?l=hafulyon.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hafulyon.blogspot.com/feeds/8450365684967994138/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hafulyon.blogspot.com/2009/11/judul-makalah-diskusi-admpendidikan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9160165760161037566/posts/default/8450365684967994138'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9160165760161037566/posts/default/8450365684967994138'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hafulyon.blogspot.com/2009/11/judul-makalah-diskusi-admpendidikan.html' title='Judul Makalah Diskusi Adm.Pendidikan'/><author><name>HAFULYON MM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08733764793398655527</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_T62w1t6xAVs/ShfXK7BkbBI/AAAAAAAAAAM/_Ox51Zx1NBA/S220/100_0587.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9160165760161037566.post-411818174589159336</id><published>2009-10-25T22:08:00.000-07:00</published><updated>2009-10-25T22:10:40.965-07:00</updated><title type='text'>Manajemen syari'ah Oleh Kuat Ismanto SHI, M.Ag.</title><content type='html'>Judul Buku: Manajemen Syari’ahPenulis: Kuat Ismanto, S.H.I., M.Ag.Penerbit: Pustaka PelajarCetakan: I, Februari 2009Tebal: xv + 318Peresensi: Tiyok al~Ghandongi*)&lt;br /&gt;Hadirnya lembaga keuangan syari`ah saat ini, khususnya di Indonesia merupakan sesuatu yang baru dalam dunia keuangan modern. Meskipun demikian, eksistensinya di negara ini masih sering kali menjadi persoalan debatable, bahkan dikalangan muslim itu sendiri. Pada realitasnya, sering kali lembaga keuangan syari`ah yang ada sekarang tidak disiplin menjalankan nilai-nilai syari`ah yang telah digariskan. Jika sistem tersebut selalu dilestarikan tanpa adanya upaya untuk introspeksi dalam rangka mewujudkan manajemen keuangan yang lebih baik, maka keberadaan perekonomian Umat Islam sama halnya dengan telur diujung tanduk.&lt;br /&gt;Salah satu cara untuk menegembangkan dan meningkatkan mutu manajemen syari`ah adalah dengan diterapkanya TQM (Total Quality Management). TQM merupakan pengelolaan kualitas semua komponen (stakeholder) yang berkepentingan dengan visi dan misi suatu organisasi. Jadi, pada dasarnya TQM bukanlah sebuah pembebanan maupun pemeriksaan, tetapi ia dapat diartikan sebagai usaha untuk melakukan sesuatu yang benar disetiap waktu, daripada melakukan pemeriksaan tertentu ketika ada kesalahan. Karena bagaimanapun juga mencegah lebih baik daripada mengatasi.&lt;br /&gt;Dalam TQM, “T” berarti pelibatan semua komponen organisasi yang berlangsung secara terus menerus. Sedangkan “M” adalah pengelolaan setiap orang yang berada didalam organisasi, apapun status, posisi maupun peranya. Mereka semua adalah manajer dari tanggung jawab yang dimilikinya. Hal ini senada dengan apa yang telah dituturkan Lesley dan Malcolm, bahwa dalam TQM semua fungsionaris organisasi dituntut untuk mempunyai tiga kemampuan, yakni: pertama mengerjakan hal-hal yang benar. Kedua mengerjakan hal-hal dengan benar, dan yang ketiga adalah mengerjakan hal-hal yang benar setiap kali dari awal. Ketiga dasar tersebut juga harus dilandasi dengan dasar pemikiran untuk mencegah kesalahan yang timbul.&lt;br /&gt;Dimasa lalu, manajemen berfokus pada kontrol kelembagaan, termasuk perencanaan, perekrutan staf, pemeberian arahan, penguasaan, strukturisasi dan penyusunan anggaran. Namun seiring dengan kemajuan zaman dan teknologi, menunjukkan bahwa konsep manajemen membuka pada jalan menuju paradigma berpikir baru yang memberi penekanan pada kepuasan pelanggan dan pelayanan bermutu. Perubahan paradigma manajemen ini tidak hanya ditanggapi oleh sektor swasta, tetapi juga pemerintah. Beberapa ide dan program perbaikan layanan seperti mengadakan persaingan diantara penyedia pelayanan, kepuasan pelanggan, dan klien sebagai pelanggan lama, kini juga telah merambah kesektor publik (pemerintah).&lt;br /&gt;Landasan TQM&lt;br /&gt;TQM dapat berdiri kokoh dan kuat dikarenakan adanya sesuatu yang melandasinya, yakni statistical process control, yang telah diperkenalkan oleh Edward Deming dan Joseph Juran untuk membantu memulihkan industri Jepang yang hancur akibat dari Perang Dunia II. Manajemen yang dikembangkan pertama kali adalah manufaktur, yang selanjutnya mengalami evolusi dan dan juga diversifikasi untuk aplikasi dibidang manufaktur, industri jasa, kesehatan, serta bidang pendidikan. Perkembangan TQM juga tidak lepas dari kontribusi bidang manajemen dan efektifitas organisasi dalam membangun TQM. Kontribusi bidang tersebut merupakan satu dimensi tersendiri yang dapat disebut akar dari TQM, yang didalamnya terdapat 10 landasan.&lt;br /&gt;Hal yang harus dipahami dalam TQM adalah bukan hanya persoalan “apa”, tetapi juga menyangkut masalah “bagaimana”. Dalam komponen “bagaimana” ini yang dapat membedakan secara mendasar antara TQM dengan konsep manajemen lainya. Menurut Goetsch dan Davis, komponen memiliki 10 unsur yang meliputi: fokus pada pelanggan, obsesi terhadap kualitas, pendekatan ilmiah, komitmen jangka panjang, kerja sama tim (teamwork), perbaikan sistem secara berkesinambungan, pendidikan dan pelatihan, kebebasan yang terkendali, kesatuan tujuan, dan yang terakhir adalah adanya keterlibatan dan pemberdayaan karyawan.&lt;br /&gt;Manfaat TQM&lt;br /&gt;Globalisasi telah menjangkau berbagai aspek kehidupan. Salah satu cara terbaik dalam persaingan global adalah dengan menghasilkan suatu produk barang atau jasa dengan kualitas sebaik mungkin. Kualitas terbaik akan diperoleh dengan langkah untuk mengupayakan perbaikan secara terus menerus terhadap kemampuan manusia, proses, dan juga lingkungan. Penerapan TQM adalah solusi alternatif untuk mewujudkan perbaikan pada kemampuan unsur-unsur tersebut secara berkesinambungan.&lt;br /&gt;Sebagai konsekuensinya, persaingan bisnis semakin tajam. Dahulu, perusahaan bisnis hanya bersaing ditingkat lokal, tetapi sekarang ini tingkat regionalpun sudah menjadi lahan yang tidak terelakkan lagi. Hanya perusahaan yang mampu mendapatkan barang yang dapat bersaing dalam pasar global sajalah yang masih dapat bertahan. Agar sebuah perusahaan mampu mempunyai keungulan dalam skala global, maka perusahaan tersebut harus mampu melakukan pekerjaan lebih baik dalam rangka melahirkan barang atau jasa yang mempunyai kualitas dan kapasitas yang tinggi. Secara singkat, kunci untuk memenangkan persaingan adalah tidak sekedar terletak pada kuantitas, tetapi yang lebih penting lagi adalah kualitas.&lt;br /&gt;Dengan perbaikan kualitas berkesinambungan, perusahaan akan dapat memperbaiki posisi persaingan. Dengan posisi yang lebih baik akan meningkatkan pangsa pasar dan menjamin harga yang lebih tinggi. Hal ini akan memberikan penghasilan lebih tinggi dan secara otomatis laba yag diperoleh semakin meningkat. Upaya perbaikan kulaitas akan menghasilkan peningkatan keluaran (output) yang bebas dari kerusakan atau mengurangi produk yang cacat. Berkurangnya produk yang cacat berarti berkurang pula biaya operasi yang dikeluarkan perusahaan, sehingga akan diperoleh laba yang semakin besar.&lt;br /&gt;Buku ini kelihatannya memang sangat sempurna dalam mngungkapkan teori-teori yang terkandung didalamnya. Tetapi kita akan menagalami kebingungan jika cara membacanya hanya dengan sekilas saja, karena jika kita tinjau dari segi penyusunan katanya, dapat dikatakan kurang sistematis. Tetapi didalam era sekarang ini, buku ini sangat diperlukan, sebagai upaya untuk mengentas kemiskinan yang diakibatkan oleh dampak krisis global yang kini telah merambah sampai ke pelosok desa.&lt;br /&gt;*)penulis adalah staf pengelola dan pemberdayaan pada Perpustakaan al~Hikmah, Pati.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9160165760161037566-411818174589159336?l=hafulyon.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hafulyon.blogspot.com/feeds/411818174589159336/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hafulyon.blogspot.com/2009/10/manajemen-syariah-oleh-kuat-ismanto-shi.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9160165760161037566/posts/default/411818174589159336'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9160165760161037566/posts/default/411818174589159336'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hafulyon.blogspot.com/2009/10/manajemen-syariah-oleh-kuat-ismanto-shi.html' title='Manajemen syari&apos;ah Oleh Kuat Ismanto SHI, M.Ag.'/><author><name>HAFULYON MM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08733764793398655527</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_T62w1t6xAVs/ShfXK7BkbBI/AAAAAAAAAAM/_Ox51Zx1NBA/S220/100_0587.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9160165760161037566.post-7640043123956742527</id><published>2009-10-25T21:55:00.000-07:00</published><updated>2009-10-25T22:08:52.600-07:00</updated><title type='text'>Konsep Manajemen Syari'ah Oleh:Rahman Fauzan</title><content type='html'>Islam sebagai suatu sistem hidup yang sempurna tentu saja memiliki konsep pemikiran tentang manajemen. Kesalahan kebanyakan dari kaum muslimin dalam memahami konsep manajemen dari sudut pandang Islam adalah karena masih mencampuradukan antara ilmu manajemen yang bersifat teknis (uslub) dengan manajemen sebagai aktivitas. Kerancuan ini akan mengakibatkan kaum muslimin susah membedakan mana yang boleh diambil dari perkembangan ilmu manajemen saat ini dan mana yang tidak.&lt;br /&gt;Menurut Didin dan Hendri (2003) dalam buku mereka Manajemen Syariah dalam Praktik, Manajemen bisa dikatakan telah memenuhi syariah bila: pertama, manajemen ini mementingkan perilaku yang terkait denga nilai-nilai keimanan dan ketauhidan. Kedua, manajemen syariah pun mementingkan adanya struktur organisasi. Ini bisa dilihat pada surat Al An'aam: 65, "Allah meninggikan seseorang di atas orang lain beberapa derajat". Ini menjelaskan bahwa dalam mengatur dunia, peranan manusi tidak akan sama. Ketiga, manajemen syariah membahas soal sistem. Sistem ini disusun agar perilaku pelaku di dalamnya berjalan dengan baik. Sistem pemerintahan Umar bin Abdul Aziz, misalnya, adalah salah satu yang terbaik. Sistem ini berkaitan dengan perencanaan, organisasi dan kontrol, Islam pun telah mengajarkan jauh sebelum adanya konsep itu lahir, yang dipelajari sebagai manajemen ala Barat.&lt;br /&gt;Menurut Karebet dan Yusanto (2002), syari’ah memandang manajemen dari dua sisi, yaitu manajemen sebagai ilmu dan manajemen sebagai aktivitas. Sebagai ilmu, manajemen dipandang sebagai salah satu dari ilmu umum yang lahir berdasarkan fakta empiris yang tidak berkaitan dengan nilai, peradaban (hadharah) manapun. Namun sebagai aktivitas, maka manajemen dipandang sebagai sebuah amal yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT, sehingga ia harus terikat pada aturan syara’, nilai dan hadharah Islam. Manajemen Islami (syariah) berpijak pada aqidah Islam. Karena aqidah Islam merupakan dasar Ilmu pengetahuan atau tsaqofah Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manajemen Sebagai ilmu&lt;br /&gt;Sebagai ilmu, manajemen termasuk sesuatu yang bebas nilai atau berhukum asal mubah. Konsekuensinya, kepada siapapun umat Islam boleh belajar. Berkaitan dengan ini, kita perlu mencermati pernyataan Imam A; ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin, Bab Ilmu. Beliau membagi ilmu dalam dua kategori ilmu berdasarkan takaran kewajiban yaitu: (1) ilmu yang dikategorikan sebagai fardhu ’ain, yakni yang termasuk dalam golongan ini adalah ilmu-ilmu tsaqofah bahasa Arab, sirah nabawiyah, Ulumul Qur’an, Ulumul hadits, Tafsir, dan sebagainya. (2) Ilmu yang terkategori sebagai fardhu kifayah, yaitu ilmu yang wajib dopelajari oleh salah satu atau sebagian dari kaum muslimin. Ilmu yang termasuk dalam kategori ini adalah ilmu-ilmu kehidupan yang mencakup ilmu pengetahuan dan teknologi serta keterampilan, diantaranya seperti ilmu kimia, biologi, fisika, kedokteran, pertanian, teknik dan manajemen.&lt;br /&gt;Dalam kitab Al fathul Kabir, Jilid III, disebutkan bahwa rasul pernah mengutus dua orang sahabatnya ke negeri Yaman guna mempelajari teknologi pembuatan senjata bernama dabbabah. Yakni sejenis kendaraan tank saat ini, yang terdiri atas kayu tebal berlapis kulit dan tersusun dari roda-roda. Senjata ini mampu menerjang benteng lawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manajemen Sebagai Aktivitas&lt;br /&gt;Dalam ranah aktivitas, Islam memandang bahwa keberadaan manajemen sebagai suatu kebutuhan yang tak terelakkan dalam memudahkan implementasi Islam dalam kehidupan pribadi, keluarga dan masyarakat. Implementasi nilai-nilai Islam berwujud pada difungsikannya Islam sebagai kaidah berpikir dan kaidah amal dalam kehidupan. Sebagai kaidah berpikir, aqidah dan syariah difungsikan sebagai asas dan landasan pola pikir. Sedangkan sebagai kaidah amal, syariah difungsikan sebagai tolok ukur (standar) perbuatan.&lt;br /&gt;Karenanya, aktivitas menajemen yang dilakukan haruslah selalu berada dalam koridor syariah. Syariah harus menjadi tolok ukur aktivitas manajemen. Senafas dengan visi dan misi penciptaan dan kemusliman seseorang, maka syariahlah satu-satunya yang menjadi kendali amal perbuatannya. Hal ini berlaku bagi setiap Muslim, siapa pun, kapan pun dan di mana pun. Inilah sebenarnya penjabaran dari kaidah ushul yang menyatakan ”al aslu fi al-af’al attaqoyyadu bi al-hukmusy syar’i”, yakni hukum asal suatu perbuatan adalah terikat pada hukum syara yang lima, yakni wajib, sunah, mubah, makruh dan haram.&lt;br /&gt;Dengan tolok ukur syariah, setiap muslim akan mampu membedakan secara jelas dan tegas perihal halal tidaknya, atau haram tidaknya suatu kegiatan manajerial yang akan dilakukannya. Aktivitas yang halal akan dilanjutkannya, sementara yang haram akan ditinggalkannya semata-mata untuk menggapai keridhaan Allah Swt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peran Syariah Dalam Fungsi Manajemen&lt;br /&gt;Seperti yang sudah dikemukan diatas bahwa peran syariah Islam adalah pada cara pandang dalam implementasi manajemen. Dimana standar yang diambil dalam setiap fungsi manajemen terikat dengan hukum-hukum syara’ (syariat Islam). Fungsi manajemen sebagaimana kita ketahui ada empat yang utama, yaitu: perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), pengontrolan (controlling), dan pengevaluasian (evaluating).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syariah dalam Fungsi Perencanaan&lt;br /&gt;Berikut ini adalah beberapa Implementasi syariah dalam fungsi perencanaan:&lt;br /&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;1.      &lt;!--[endif]--&gt;Perencanaan bidang SDM.&lt;br /&gt;Permasalahan utama bidang SDM adalah penetapan standar perekrutan SDM. Implementasi syariah pada bidang ini dapat berupa penetapan profesionalisme yang harus dimiliki oleh seluruh komponen SDM perusahaan. Kriteria profesional menurut syariah adalah harus memenuhi 3 unsur, yaitu kafa’ah (ahli di bidangnya), amanah (bersungguh-sungguh dan bertanggung jawab), memiliki etos kerja yang tinggi (himmatul ‘amal).&lt;br /&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;2.      &lt;!--[endif]--&gt;Perencanaan Bidang Keuangan&lt;br /&gt;Permasalahan utama bidang keuangan adalah penetapan sumber dana dan alokasi pengeluaran. Implementasi syariah pada bidang ini dapat berupa penetapan syarat kehalalan dana, baik sumber masukan maupun alokasinya. Maka, tidak pernah direncanakan, mislanya, peminjaman dana yang mengandung unsur riba, atau pemanfaatan dana untuk menyogok pejabat.&lt;br /&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;3.      &lt;!--[endif]--&gt;Perencanaan Bidang Operasi/produksi&lt;br /&gt;Implementasi syariah pada bidang ini berupa penetapan bahan masukan produksi dan proses yang akan dilangsungkan. Dlam dunia pendidikan, mislanya, inpuntnya adalah SDM Muslim dan proses pendidikannya ditetapkan dengan menggunakan kurikulum yang Islami. Dalam Industri pangan, maka masukannya adalah bahan pangan yang telah dipastikan kehalalannya. Sementara proses produksinya ditetapkan berlangsung secara aman dan tidak bertentangan dengan syariah.&lt;br /&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;4.      &lt;!--[endif]--&gt;Perencanaan bidang pemasaran.&lt;br /&gt;Implementasi syariah pada bidang ini dapat berupa penetapan segmentasi pasar, targeting dan positioning, juga termasuk promosi. Dalam dunia pendidikan, mislanya, segmen yang dibidik adalah SDM muslim. Target yang ingin dicapai adalah output didik (SDM) yang profesional. Sedangkan posisi yang ditetapkan adalah lembaga yang memiliki unique position sebagai lembaga pendidikan manajemen syariah. Dalam promosi tidak melakukan kebohongan, penipuan ataupun penggunaan wanita tanpa menutup aurat sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peran Syariah dalam Pengorganisasian.&lt;br /&gt;Berikut ini adalah beberapa Implementasi syariah dalam fungsi pengorganisasian:&lt;br /&gt;Aspek Struktur&lt;br /&gt;Pada aspek ini syariah di implementasikan pada SDM yaitu hal-hal yang berkorelasi dengan faktor Prfesionalisme serta Aqad pekerjaan. Harus dihindarkan penempatan SDM pada struktur yan tidak sesuai dengan kafa’ah-nya atau dengan aqad pekerjaannya. Yang pertama akan menyebabkan timbulnya kerusakan, dan yang kedua bertentangan dengan keharusan kesesuaian antara aqad dan pekerjaan.&lt;br /&gt;Aspek Tugas dan Wewenang&lt;br /&gt;Implementasi syariah dalam hal ini terutama di tekankan pada kejelasan tugas dan wewenang masing-masing bidang yang diterima oleh para SDM pelaksana berdasarkan kesanggupan dan kemampuan masing-masing sesuai dengan aqad pekerjaan tersebut.&lt;br /&gt;Aspek Hubungan&lt;br /&gt;Implementasi syariah pada aspek ini berupa penetapan budaya organisasi bahwa setiap interaksi antar SDM adalah hubungan muamalah yang selalu mengacu pada amar ma’ruf dan nahi munkar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peran Syariah dalam Pengontrolan&lt;br /&gt;Berikut ini adalah beberapa Implementasi syariah dalam fungsi pengarahan adalah merupakan tugas utama dari fungsi kepemimpinan.&lt;br /&gt;Fungsi kepemimpinan selain sebagai penggembala (pembimbing, pengarah, pemberi solusi dan fasilitator), maka implementasi syariah dalam fungsi pengarahan dapat dilaksankan pada dua fungsi utama dari kepemimpinan itu sendiri, yakni fungsi pemecahan masalah (pemberi solusi) dan fungsi sosial (fasilitator). Pertama, fungsi pemecahan masalah. Mencakup pemberian pendapat, informasi dan solusi dari suatu permasalahan yang tentu saja selalu disandarkan pada syariah, yakni dengan di dukung oleh adanya dalil, argumentasi atau hujah yang kuat. Fungsi ini diarahkan juga untuk dapat memberikan motivasi ruhiyah kepada para SDM organisasi.&lt;br /&gt;Motivasi&lt;br /&gt;Seorang pemimpin bertugas untuk memotivasi, mendorong dan memberi keyakinan kepada orang yang dipimpinnya dalalm suatu entitas atau kelompok, baik itu individu sebagai entitas terkecil sebuah komunitas ataupun hingga skala negara, untuk mencapai tujuan sesuai dengan kapasitas kemampuan yang dimiliki. Pemimpin harus dapat memfasilitasi anggotanya dalam mencapai tujuannya. Maka dalam hal motivasi ini seorang pemimpin harus dapat memberikan kekuatan ruhiyah. Kekuatan yang muncul karena adanya kesadaran akibat pemahaman (mafhum) akan maksud dan tujuan yang mendasari amal perbuatan yang dilakukan. Oleh karena itu wajib bagi pemimpin untuk memberikan pemahaman dan motivasi kepada setiap orang yang dipimpinnya, agar perbuatan mereka dapat dilaksanakn dengan baik dan sempurna, tidak keluar dari tanggung jawab dan wewenangnya.&lt;br /&gt;Fasilitator&lt;br /&gt;Kedua, fungsi sosial. Fungsi sosial yang berhubungan dengan interaksi antar anggota komunitas dalam menjaga suasana kebersamaan tim agar tetap sebagai team (together everyone achieve more). Setiap anggotanya harus dapat bersinergi dalam kesamaan visi, misi dan tujuan organisasi. Suasana tersebut dapat diringkas dalam formula three in one (3 in 1), yakni kebersamaan seluruh anggota dalam kesatuan bingkai thinking-afkar (ide atau pemikiran), feeling-masyair (perasaan) dan rule of game-nidzam (aturan bermain). Tentu saja interaksi yang terjadi berada dalam koridor amar ma’ruf dan nahi munkar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peran Syariah dalam Evaluasi&lt;br /&gt;Fungsi manajerial pengawasan adalah untuk mengukur dan mengoreksi prestasi kerja bawahan guna memastikan bahwa tujuan organisasi disemua tingkat dan rencana yang di desain untuk mencapainya, sedang dilaksanakan. Pengawasan membutuhkan prasyarat adanya perencanaan yang jelas dan matang serta struktur organisasi yang tepat. Dalam konteks ini, implementasi syariah diwujudkan melalui tiga pilar pengawasan, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;1.      &lt;!--[endif]--&gt;Ketaqwaan individu. Seluruh personel SDM perusahaan dipastikan dan dibina agar menjadi SDM yang bertaqwa.&lt;br /&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;2.      &lt;!--[endif]--&gt;Kontrol anggota. Dengan suasana organisasi yang mencerminkan formula TEAM, maka proses keberlangsungan organisasi selalu akan mendapatkan pengawalan dari para SDM-nya agar sesuai dengan arah yang telah ditetapkan.&lt;br /&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;3.      &lt;!--[endif]--&gt;Penerapan (supremasi) aturan. Organisasi ditegakkan dengan aturan main yang jelas dan transparan serta-tentu saja-tidak bertentangan dengan syariah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9160165760161037566-7640043123956742527?l=hafulyon.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hafulyon.blogspot.com/feeds/7640043123956742527/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hafulyon.blogspot.com/2009/10/konsep-manajemen-syariah-olehrahman.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9160165760161037566/posts/default/7640043123956742527'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9160165760161037566/posts/default/7640043123956742527'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hafulyon.blogspot.com/2009/10/konsep-manajemen-syariah-olehrahman.html' title='Konsep Manajemen Syari&apos;ah Oleh:Rahman Fauzan'/><author><name>HAFULYON MM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08733764793398655527</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_T62w1t6xAVs/ShfXK7BkbBI/AAAAAAAAAAM/_Ox51Zx1NBA/S220/100_0587.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9160165760161037566.post-3584197667813751355</id><published>2009-10-20T01:34:00.000-07:00</published><updated>2009-10-20T01:38:43.101-07:00</updated><title type='text'>upah menurut manajemen syari'ah</title><content type='html'>&lt;a title="Konsep manajemen syariah dalam pengupahan karyawan perusahaan" href="http://elqorni.wordpress.com/2008/04/09/konsep-pengupahan-dalam-manajemen-syariah/" rel="bookmark"&gt;Konsep manajemen syariah dalam pengupahan karyawan perusahaan&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Posted on 9 April 2008 by Ahmad Elqorni&lt;br /&gt;Masalah pengupahan adalah masalah yang tidak pernah selesai diperdebatkan oleh pihak manajemen, apapun bentuk organisasinya.  Upah seolah-olah kata-kata yang selalu membuat pihak manajemen perusahaan berpikir ulang dari waktu ke waktu untuk menetapkan kebijakan tentang upah. Upah juga yang selalu memicu konflik antara pihak manajemen dengan karyawan seperti yang banyak terjadi akhir-akhir ini.&lt;br /&gt;Hal yang juga tidak kalah pentingnya dari manajemen pengupahan adalah perbedaan tingkat besar upah yang diterima.  Banyak terjadi kasus dimana seorang karyawan yang protes kepada pihak manajemen akibat gajinya lebih kecil daripada pegawai baru, padahal pekerjaannya sama.   Perusahaan  menerapkan kebijakan bagi pegawai baru, bahwa penentuan gaji pegawai baru didasarkan atas bargaining (tawar menawar) pada saat masuk kerja.  Pengalaman bekerja dan imbalan yang diterima di tempat lain menjadi pertimbangan untuk penentuan gaji pegawai baru tersebut. Tetapi fakta      yang terjadi akibat kebijakan baru itu adalah timbulnya keresahan pada pegawai lama yang merasa tidak dihargai    perusahaan   karena   gajinya   lebih   kecil daripada pegawai baru, padahal pekerjaannya sama.  Ada juga  fakta di mana  bonus   yang dibagikan kepada   karyawan  Menimbulkan protes karyawan. Seharusnya jika perusahaan memberikan bonus kepada karyawan karena perusahaan untung, maka karyawan bersyukur dan berterimakasih kepada perusahaan.  Tetapi yang terjadi  sebaliknya, karyawan protes terhadap kebijakan pembagian bonus.  Perusahaan menetapkan kebijakan bahwa sebesar 80% laba perusahaan dikembalikan kepada karyawan.  Jika laba operasional sebesar 1 milyar rupiah, dikembalikan 800 juta rupiah dalam bentuk Bonus.  Beberapa karyawan protes karena bonus yang diterimanya lebih kecil dari yang diharapkannya.  Sebagian lagi protes karena pada karyawan yang pekerjaan dan tugasnya sama, bonus yang diberikan berbeda-beda.&lt;br /&gt;Berdasarkan kondisi yang telah diuraikan, maka konsep manajemen syariah dalam pengupahan karyawan perusahaan menjadi penting untuk diteliti, bagaimana sebenarnya Syariat menggariskan aturan tentang pengupahan tersebut.&lt;br /&gt;1. Pengertian Upah dalam Konsep Islam&lt;br /&gt;Upah menurut pengertian Barat terkait dengan pemberian imbalan kepada pekerja tidak tetap, atau tenaga buruh lepas, seperti upah buruh lepas di perkebunan kelapa sawit, upah pekerja bangunan yang dibayar mingguan atau bahkan harian. Sedangkan gaji menurut pengertian Barat terkait dengan imbalan uang (finansial) yang diterima oleh karyawan atau pekerja tetap dan dibayarkan sebulan sekali. Sehingga   dalam pengertian barat, Perbedaan gaji  dan upah itu terletak pada Jenis karyawannya (Tetap atau tidak tetap) dan sistem pembayarannya (bulanan atau tidak).  Meskipun titik berat antara upah dan        gaji    terletak    pada     jenis     karyawannya apakah tetap ataukah tidak.&lt;br /&gt;“Upah atau Gaji biasa, pokok atau minimum dan setiap emolumen tambahan yang dibayarkan langsung atau tidak langsung, apakah dalam bentuk uang tunai atau barang, oleh pengusaha kepada pekerja dalam kaitan dengan hubungan kerja”  (Konvensi ILO nomor 100).2&lt;br /&gt;Menurut Dewan Penelitian Perupahan Nasional : Upah adalah suatu penerimaan sebagai imbalan dari pemberi kepada penerima kerja untuk suatu pekerjaan atau jasa yang telah dan akan dilakukan, berfungsi sebagai jaminan kelangsungan hidup yang layak bagi kemanusiaan dan produksi, dinyatakan atau dinilai dalam bentuk uang yang ditetapkan menurut suatu persetujuan, undang-undang dan peraturan dan dibayarkan atas dasar suatu perjanjian kerja antara pemberi dan penerima kerja.3&lt;br /&gt;Dalam hal perbedaan pengertian upah dan gaji menurut konsep Barat di atas, maka Islam menggariskan upah dan gaji lebih komprehensif dari pada Barat.&lt;br /&gt;Allah menegaskan tentang imbalan ini dalam Qur’an sbb :&lt;br /&gt;“Dan katakanlah : “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mu’min akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada Allah Yang Mengetahui akan ghaib dan yang nyata, lalu diberikan-Nya kepada kamu apa yang kamu kerjakan.” (At Taubah : 105).&lt;br /&gt;Dalam menafsirkan At Taubah ayat 105 ini, Quraish Shihab menjelaskan dalam kitabnya Tafsir Al-Misbah sbb :&lt;br /&gt;“Bekerjalah Kamu, demi karena Allah semata dengan aneka amal yang saleh dan bermanfaat, baik untuk diri kamu maupun untuk masyarakat umum, maka Allah akan melihat yakni menilai dan memberi ganjaran amal kamu itu”4&lt;br /&gt;Tafsir dari melihat dalam keterangan diatas adalah menilai dan memberi ganjaran terhadap amal-amal itu.  Sebutan lain daripada ganjaran adalah imbalan atau upah atau compensation.&lt;br /&gt;“Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik apa yang telah mereka kerjakan.” (An Nahl : 97).&lt;br /&gt;Dalam menafsirkan At Nahl ayat 97 ini, Quraish Shihab menjelaskan dalam kitabnya Tafsir Al-Misbah sbb :&lt;br /&gt;“Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, apapun jenis kelaminnya, baik laki-laki maupun perempuan, sedang dia adalah mukmin yakni amal yang dilakukannya lahir atas dorongan keimanan yang shahih, maka sesungguhnya pasti akan kami berikan kepadanya masing-masing kehidupan yang baik di dunia ini dan sesungguhnya akan kami berikan balasan kepada mereka semua di dunia  dan di akherat dengan pahala yang lebih    baik dan   berlipat  ganda dari  apa   yang telah mereka kerjakan“.5&lt;br /&gt;Tafsir dari balasan dalam keterangan d iatas adalah balasan di dunia dan di akherat.  Ayat ini menegaskan bahwa balasan atau imbalan bagi mereka yang beramal saleh adalah imbalan dunia dan imbalan akherat.  Amal Saleh sendiri oleh Syeikh Muhammad Abduh didefenisikan sebagai segala perbuatan yang berguna bagi pribadi, keluarga, kelompok dan manusia secara keseluruhan.6 Sementara menurut Syeikh Az-Zamakhsari, Amal Saleh adalah segala perbuatan yang sesuai dengan dalil akal, al-Qur’an dan atau Sunnah Nabi Muhammad Saw.7 Menurut Defenisi Muhammad Abduh dan Zamakhsari diatas, maka seorang yang bekerja pada suatu badan usaha (perusahaan) dapat dikategorikan sebagai amal saleh, dengan syarat perusahaannya tidak memproduksi/menjual atau mengusahakan barang-barang yang haram.  Dengan demikian, maka seorang karyawan yang bekerja dengan benar, akan menerima dua imbalan, yaitu imbalan di dunia dan imbalan di akherat.&lt;br /&gt;“Sesungguhnya mereka yang beriman dan beramal saleh tentulah Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan amalan(nya) dengan baik.” (Al Kahfi : 30).&lt;br /&gt;Berdasarkan tiga ayat diatas, yaitu  At-Taubah 105, An-Nahl 97 dan                  Al-Kahfi 30, maka Imbalan dalam konsep Islam menekankan pada dua aspek, yaitu dunia dan akherat.  Tetapi hal yang paling penting, adalah bahwa penekanan kepada akherat  itu lebih penting daripada penekanan  terhadap    dunia    (dalam   hal   ini     materi) sebagaimana semangat dan jiwa Al-Qur’an surat Al-Qhashsash ayat 77.&lt;br /&gt;Surat At Taubah 105 menjelaskan bahwa Allah memerintahkan kita untuk bekerja, dan Allah pasti membalas semua apa yang telah kita kerjakan. Yang paling unik dalam ayat ini adalah penegasan Allah bahwa motivasi atau niat bekerja itu mestilah benar.  Sebab kalau motivasi bekerja tidak benar, Allah akan membalas dengan cara memberi azab. Sebaliknya, kalau motivasi itu benar, maka Allah akan membalas pekerjaan itu dengan balasan yang lebih baik dari apa yang kita kerjakan (An-Nahl : 97).&lt;br /&gt;Lebih jauh Surat An-Nahl : 97 menjelaskan bahwa tidak ada perbedaan gender dalam menerima upah / balasan dari Allah.  Ayat ini menegaskan bahwa tidak ada diskriminasi upah dalam Islam, jika mereka mengerjakan pekerjaan yang sama.  Hal yang menarik dari ayat ini, adalah balasan Allah langsung di dunia (kehidupan yang baik/rezeki yang halal) dan balasan di akherat (dalam bentuk pahala).&lt;br /&gt;Sementara itu, Surat Al-Kahfi : 30 menegaskan bahwa balasan terhadap pekerjaan yang telah dilakukan manusia, pasti Allah balas dengan adil.  Allah tidak akan berlaku zalim dengan cara menyia-nyiakan amal hamba-Nya.  Konsep keadilan dalam upah inilah yang sangat mendominasi dalam setiap praktek yang pernah terjadi di negeri Islam.&lt;br /&gt;Lebih lanjut kalau kita lihat hadits Rasulullah saw tentang upah yang diriwayatkan oleh Abu Dzar bahwa Rasulullah s.a.w bersabda :&lt;br /&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;br /&gt;“ Mereka (para budak dan pelayanmu) adalah saudaramu, Allah menempatkan mereka di bawah asuhanmu; sehingga barang siapa mempunyai saudara di bawah asuhannya maka harus diberinya makan seperti apa yang dimakannya (sendiri) dan memberi pakaian seperti apa yang dipakainya (sendiri); dan tidak membebankan pada mereka dengan tugas yang sangat berat, dan jika kamu membebankannya dengan tugas seperti itu, maka hendaklah membantu mereka (mengerjakannya).” (HR. Muslim).8&lt;br /&gt;Dari hadits ini dapat didefenisikan bahwa upah yang sifatnya materi (upah di dunia) mestilah terkait dengan keterjaminan dan ketercukupan pangan dan sandang.  Perkataan : “harus diberinya makan seperti apa yang dimakannya (sendiri) dan memberi pakaian seperti apa yang dipakainya (sendiri)” , bermakna bahwa upah yang diterima harus menjamin makan dan pakaian karyawan yang menerima upah.&lt;br /&gt;Dalam hadits yang lain, diriwayatkan dari Mustawrid bin Syadad Rasulullah s.a.w bersabda :&lt;br /&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;br /&gt;“Siap yang menjadi pekerja bagi kita,    hendaklah    ia   mencarikan    isteri (untuknya); seorang  pembantu  bila    tidak memilikinya, hendaklah ia mencarikannya untuk pembantunya. Bila ia tidak mempunyai tempat tinggal, hendaklah ia mencarikan tempat tinggal. Abu Bakar mengatakan: Diberitakan kepadaku bahwa Nabi Muhammad Saw. bersabda: “Siapa yang mengambil sikap selain itu, maka ia adalah seorang yang keterlaluan atau pencuri.” (HR. Abu Daud).9&lt;br /&gt;Hadits ini menegaskan bahwa kebutuhan papan (tempat tinggal) merupakan kebutuhan azasi bagi para karyawan. Bahkan menjadi tanggung jawab majikan juga untuk mencarikan jodoh bagi karyawannya yang masih lajang (sendiri).  Hal ini ditegaskan lagi oleh Doktor Abdul Wahab Abdul Aziz As-Syaisyani dalam kitabnya Huququl Insan Wa Hurriyyatul Asasiyah Fin Nidzomil Islami Wa Nudzumil Ma’siroti bahwa mencarikan istri juga merupakan kewajiban majikan, karena istri adalah kebutuhan pokok bagi para karyawan.10&lt;br /&gt;Sehingga dari ayat-ayat  Al-Qur’an di atas, dan dari hadits-hadits di atas, maka dapat didefenisikan bahwa : Upah adalah imbalan yang diterima seseorang atas pekerjaannya dalam bentuk imbalan materi di dunia (Adil dan Layak) dan dalam bentuk imbalan pahala di akherat (imbalan yang lebih baik).&lt;br /&gt;Dari uraian diatas, paling tidak terdapat 2 Perbedaan konsep Upah antara Barat dan Islam: pertama,  Islam melihat Upah sangat besar kaitannya dengan konsep Moral, sementara Barat tidak.  Kedua, Upah dalam Islam tidak hanya sebatas materi (kebendaan atau keduniaan) tetapi menembus batas kehidupan, yakni berdimensi akherat yang disebut dengan Pahala, sementara Barat tidak. Adapun persamaan kedua konsep Upah antara Barat dan Islam adalah; pertama, prinsip keadilan (justice), dan kedua, prinsip kelayakan (kecukupan).&lt;br /&gt;ADIL&lt;br /&gt;Organisasi yang menerapkan prinsip keadilan dalam pengupahan mencerminkan organisasi yang dipimpin oleh orang-orang bertaqwa.  Konsep adil ini merupakan ciri-ciri organisasi yang bertaqwa.  Al-Qur’an menegaskan :&lt;br /&gt;“Berbuat adillah, karena adil itu lebih dekat kepada Taqwa”. (QS. Al-Maidah : 8).&lt;br /&gt;ADIL bermakna JELAS dan TRANSPARAN&lt;br /&gt;“Hai orang-orang yang beriman, apabila   kamu   bemua’malah   tidak     secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya.  Dan hendaklah seorang penulis diantara kamu menuliskannya dengan benar.  Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah mengajarkannya, maka hendaklah ia menulis dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya.  Jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakkan, maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur.  Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki diantaramu.  Jika tak ada dua orang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang  perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa maka seorang lagi mengingatkannya.  Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka di panggil; dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya.  Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu. (Tulislah mua’malahmu itu), kecuali jika mua’malah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, (jika) kamu tidak menulisnya.  Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli; dan janganlah penulis dan saksi saling sulit-menyulitkan.  Jika kamu lakukan (yang demikian), maka sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. Dan bertaqwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah : 282)&lt;br /&gt;“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu. Dihalalkan bagimu binatang ternak, kecuali yang akan dibacakan kepadamu. (yang demikian itu) dengan tidak menghalalkan berburu ketika kamu sedang mengerjakan haji. Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendaki-Nya.” (QS. Al-Maidah : 1).&lt;br /&gt;Nabi bersabda :&lt;br /&gt;“Berikanlah gaji kepada pekerja sebelum kering keringatnya, dan beritahukan ketentuan gajinya, terhadap apa yang dikerjakan”. (HR. Baihaqi).11&lt;br /&gt;Dari dua ayat Al-Qur’an dan hadits riwayat Baihaqi di atas, dapat diketahui bahwa prinsip utama keadilan terletak pada Kejelasan aqad (transaksi)  dan komitmen melakukannya. Aqad dalam perburuhan adalah aqad yang terjadi antara pekerja dengan pengusaha.  Artinya, sebelum pekerja dipekerjakan, harus jelas dahulu bagaimana upah yang akan diterima oleh pekerja. Upah tersebut meliputi besarnya upah dan tata cara pembayaran upah. Khusus untuk cara pembayaran upah, Rasulullah bersabda :&lt;br /&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;br /&gt;“Dari Abdillah bin Umar, Rasulullah Saw. Bersabda: “Berikanlah upah orang upahan sebelum kering keringatnya“. (HR. Ibnu Majah dan Imam Thabrani).12&lt;br /&gt;Dalam menjelaskan hadits itu, Syeikh Yusuf Qardhawi dalam kitabnya Pesan Nilai dan Moral dalam Perekonomian Islam, menjelaskan sebagai berikut :&lt;br /&gt;Sesungguhnya seorang pekerja hanya berhak atas upahnya jika ia telah menunaikan pekerjaannya dengan semestinya dan sesuai dengan kesepakatan, karena umat Islam terikat dengan syarat-syarat antar mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram.  Namun, jika ia membolos bekerja tanpa alasan yang benar atau sengaja menunaikannya dengan tidak semestinya, maka sepatutnya hal itu diperhitungkan atasnya (dipotong upahnya) karena setiap hak dibarengi dengan kewajiban.  Selama ia mendapatkan  upah  secara penuh, maka kewajibannya juga harus dipenuhi.  Sepatutnya hal ini dijelaskan secara detail dalam “peraturan kerja” yang menjelaskan masing-masing hak dan kewajiban kedua belah pihak.13&lt;br /&gt;Dari penjelasan Syeikh Qardhawi diatas, dapat dilihat bahwa upah atau gaji merupakan hak karyawan selama karyawan tersebut bekerja dengan baik. Jika pekerja tersebut tidak benar dalam bekerja (yang dicontohkan oleh Syeikh Qardhawi dengan bolos tanpa alasan yang jelas), maka gajinya dapat dipotong atau disesuaikan. Hal ini menjelaskan kepada kita bahwa selain hak karyawan memperoleh upah  atas apa yang diusahakannya, juga hak perusahaan untuk memperoleh hasil kerja dari karyawan dengan baik. Bahkan Syeikh Qardhawi mengatakan bahwa bekerja  yang baik merupakan  kewajiban karyawan atas hak upah yang diperolehnya, demikian juga, memberi upah merupakan kewajiban perusahaan atas hak hasil kerja karyawan yang diperolehnya.  Dalam keadaan masa kini, maka aturan-aturan bekerja yang baik itu, dituangkan dalam buku Pedoman Kepegawaian yang ada di masing-masing perusahaan. Hadits lain yang menjelaskan tentang pembayaran upah ini adalah :&lt;br /&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;br /&gt;“Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., dari Nabi Muhammad Saw. bahwa beliau bersabda: “Allah telah berfirman: “Ada tiga jenis manusia dimana Aku adalah musuh mereka nanti di hari kiamat. Pertama, adalah orang yang membuat komitmen akan memberi atas nama-Ku (bersumpah dengan nama-Ku), kemudian ia tidak memenuhinya. Kedua, orang yang menjual seorang manusia bebas (bukan budak), lalu memakan uangnya. Ketiga, adalah orang yang menyewa seorang upahan dan mempekerjakan dengan penuh, tetapi tidak membayar upahnya” (HR. Bukhari).14&lt;br /&gt;Hadits-hadits diatas menegaskan tentang waktu pembayaran upah, agar sangat diperhatikan.  Keterlambatan pembayaran upah, dikategorikan sebagai perbuatan zalim dan orang yang tidak membayar upah para pekerjanya termasuk orang yang dimusuhi oleh Nabi saw pada hari kiamat. Dalam hal ini, Islam sangat menghargai waktu dan sangat menghargai tenaga seorang karyawan (buruh).&lt;br /&gt;ADIL bermakna PROPORSIONAL&lt;br /&gt;“Dan bagi masing-masing mereka derajat menurut apa yang telah mereka kerjakan dan agar Allah mencukupkan bagi mereka (balasan) pekerjaan-pekerjaan mereka sedang mereka tiada dirugikan.” (QS. Al-Ahqaf  :  19).&lt;br /&gt;“Dan kamu tidak dibalas, melainkan dengan apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Yaasin : 54).&lt;br /&gt;“Bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” (QS. An-Najm : 39).&lt;br /&gt;Ayat-ayat ini menegaskan bahwa pekerjaan seseorang akan dibalas menurut berat pekerjaannya itu.  Konteks ini yang oleh pakar manajemen Barat diterjemahkan menjadi equal pay for equal job, yang artinya, upah yang sama untuk jenis pekerjaan yang sama.  Jika ada dua orang atau lebih mengerjakan pekerjaan yang sama, maka upah mereka mesti sama.  Prinsip ini telah menjadi hasil konvensi International Labour Organization (ILO) nomor 100.15&lt;br /&gt;Sistem manajemen penggajian HAY atau yang sering disebut dengan Hay System, telah menerapkan konsep ini.  Siapapun pekerja atau karyawannya, apakah tua atau muda, berpendidikan atau tidak, selagi mereka mengerjakan pekerjaan yang sama, maka mereka akan dibayar dengan upah yang sama.&lt;br /&gt;LAYAK&lt;br /&gt;Jika Adil berbicara tentang kejelasan, transparansi serta proporsionalitas ditinjau dari berat pekerjaannya,   maka  Layak  berhubungan dengan besaran yang diterima&lt;br /&gt;LAYAK bermakna CUKUP PANGAN, SANDANG, PAPAN&lt;br /&gt;Jika ditinjau dari hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dzar bahwa Rasulullah s.a.w bersabda :&lt;br /&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;br /&gt;“Mereka (para budak dan pelayanmu) adalah saudaramu, Allah menempatkan mereka di bawah asuhanmu; sehingga barang siapa mempunyai saudara di bawah asuhannya maka harus diberinya makan seperti apa yang dimakannya (sendiri) dan memberi pakaian seperti apa yang dipakainya (sendiri); dan tidak membebankan pada mereka dengan tugas yang sangat berat, dan jika kamu membebankannya dengan tugas seperti itu, maka hendaklah membantu mereka (mengerjakannya).” (HR. Muslim).16&lt;br /&gt;Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Mustawrid bin Syadad Rasulullah Saw. bersabda:&lt;br /&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;br /&gt;“Aku mendengar Nabi Muhammad saw bersabda :  „Siapa yang menjadi pekerja bagi kita, hendaklah ia mencarikan istri untuknya; ; seorang pembantu bila tidak memilikinya, hendaklah ia mencarikannya untuk pembantunya. .  Bila ia tidak mempunyai tempat tinggal, hendaklah ia mencarikan tempat tinggal. Abu   Bakar   mengatakan:&lt;br /&gt;Diberitakan kepadaku bahwa Nabi Muhammad bersabda  : Siapa yang mengambil sikap selain itu, maka ia adalah seorang yang keterlaluan atau pencuri“ (HR Abu  Daud).17&lt;br /&gt;Dari dua hadits diatas, dapat diketahui bahwa kelayakan upah yang diterima oleh pekerja dilihat dari 3 aspek yaitu : Pangan (makanan), Sandang (Pakaian) dan papan (tempat tinggal).  Bahkan bagi pegawai atau karyawan yang masih belum menikah, menjadi tugas majikan yang mempekerjakannya untuk mencarikan jodohnya.  Artinya, hubungan antara majikan dengan pekerja bukan hanya sebatas hubungan pekerjaan formal, tetapi karyawan sudah dianggap merupakan keluarga majikan.  Konsep menganggap karyawan sebagai keluarga majikan merupakan konsep Islam yang lebih 14 abad yang lalu telah dicetuskan.&lt;br /&gt;Konsep ini dipakai oleh pengusaha-pengusaha Arab pada masa lalu, dimana mereka (pengusaha muslim) seringkali memperhatikan kehidupan karyawannya  di luar lingkungan kerjanya. Hal inilah yang sangat jarang dilakukan saat ini. Wilson menulis dalam bukunya yang berjudul Islamic Business Theory and Practice yang artinya kira-kira “walaupun perusahaan itu bukanlah perusahaan keluarga, para majikan Muslimin acapkali memperhatikan kehidupan karyawan di luar lingkungan kerjanya, hal ini sulit untuk dipahami para pengusaha Barat“.[1] Konsep inilah yang sangat berbeda dengan konsep upah menurut Barat. Konsep upah menurut Islam, tidak dapat dipisahkan dari     konsep moral.  Mungkin sah-sah saja jika gaji seorang   pegawai di Barat  sangat   kecil&lt;br /&gt;karena pekerjaannya sangat remeh (misalnya cleaning service).  Tetapi dalam konsep Islam, meskipun cleaning service, tetap faktor LAYAK menjadi pertimbangan utama dalam menentukan berapa upah yang akan diberikan.&lt;br /&gt;LAYAK bermakna SESUAI DENGAN PASARAN&lt;br /&gt;“Dan janganlah kamu merugikan manusia akan hak-haknya dan janganlah kamu merajalela di muka bumi membuat kerusakan.” (QS. Asy-Syua’ra 26 : 183).&lt;br /&gt;Ayat di atas bermakna bahwa janganlah seseorang merugikan orang lain, dengan cara mengurangi hak-hak yang seharusnya diperolehnya.  Dalam pengertian yang lebih jauh, hak-hak dalam upah bermakna bahwa janganlah mempekerjakan upah seseorang, jauh dibawah upah yang biasanya diberikan. Misalnya saja untuk seorang staf administrasi, yang upah perbulannya menurut pasaran adalah Rp 900.000,-.  Tetapi di perusahaan tertentu diberi upah Rp 500.000,-.  Hal ini berarti mengurangi hak-hak pekerja tersebut. Dengan kata lain, perusahaan tersebut telah memotong hak pegawai tersebut sebanyak Rp 400.000,- perbulan.  Jika ini dibiarkan terjadi, maka pengusaha sudah tidak berbuat layak bagi si pekerja tersebut.&lt;br /&gt;Dari uraian Upah menurut Konsep Islam diatas, maka dapat digambarkan bagaimana konsep Upah dalam Islam seperti tertera dalam Gambar 2  Dapat dilihat bahwa Upah dalam konsep Syariah memiliki 2 dimensi, yaitu dimensi dunia dan dimensi akherat.  Untuk menerapkan upah  dalam  dimensi  dunia,   maka  konsep moral merupakan  hal  yang  sangat  penting    agar pahala dapat diperoleh sebagai dimensi akherat dari upah tersebut.  Jika moral diabaikan, maka dimensi akherat tidak akan tercapai. Oleh karena itulah konsep moral diletakkan pada kotak paling luar, yang artinya, konsep moral diperlukan untuk menerapkan upah dimensi dunia agar upah dimensi akherat dapat tercapai.&lt;br /&gt;Dimensi upah di dunia dicirikan oleh 2 hal, yaitu adil dan layak.  Adil bermakna bahwa upah yang diberikan harus jelas, transparan dan proporsional. Layak bermakna bahwa upah yang diberikan harus mencukupi kebutuhan pangan, sandang dan papan serta tidak jauh berada di bawah pasaran. Aturan manajemen upah ini perlu didudukkan pada posisinya, agar memudahkan bagi kaum muslimin atau pengusaha muslim dalam mengimplementasikan manajemen syariah dalam pengupahan karyawannya di perusahan.&lt;br /&gt;Catatan&lt;br /&gt;1 Hikmah Tasyri’: Hikmah pembentukan hukum-hukum yang diperintahkan Allah (Hukum Islam). (Prof. H. Mahmud Yunus, Kamus Arab Indonesia), Yayasan Penyelengara Penterjemah/Pentafsir Al-Qur’an, Jakarta, 1973.&lt;br /&gt;2 Ahmad S. Ruky, Manajemen Penggajian dan Pengupahan Karyawan Perusahaan. Gramedia Pustaka Utama (Jakarta, 2001) hal 9.&lt;br /&gt;3 Ibid. hal 7.&lt;br /&gt;4 Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah, Vol 5, hal 670.&lt;br /&gt;5  Ibid, Vol 7, hal. 342.&lt;br /&gt;6 Ibid.&lt;br /&gt;7 Ibid.&lt;br /&gt;8 Shaleh, Mausu’ah al-Hadits asy-Syarif Kutubus Sittah Shahih Muslim Kitab al-Aiman bab 10, hal. 969.&lt;br /&gt;9 Shaleh, Mausu’ah al-Hadits asy-Syarif Kutubus Sittah Sunan Abu Daud Kitab al-Kharaj bab 9 No. 2940, hal. 1443.&lt;br /&gt;10 Abdul Wahhab Abdul Aziz As- Syaisyani. Huququl Insan Wa Hurriyyatul Asasiyah Fin Nidzomil Islami Wa Nudzumil A’siroti hal 464.&lt;br /&gt;11 As-Sayyid Ahmad Al-Hasyimiy, Tarjamah Mukhtarul Ahaadits, Bandung: PT. Ma’arif, 1996, hal 552.&lt;br /&gt;12 Shaleh, Mausu’ah al-Hadits asy-Syarif Kutubus Sittah Ibnu Majah Kitab ar-Ruhun, bab 4 hal. 2623.&lt;br /&gt;13 Yusuf Qardhawi, Pesan Nilai dan Moral dalam Perekonomian Islam, hal 405.&lt;br /&gt;14 Shaleh, Mausu’ah al-Hadits asy-Syarif Kutubus Sittah Shahih Bukhari Kitab al-Buyu’, hadits ke 106, hal. 173.&lt;br /&gt;15 Ruky, Op. Cit. hal 9.&lt;br /&gt;16 Shaleh, Mausu’ah al-Hadits asy-Syarif Kutubus Sittah Shahih Muslim Kitab al-Aiman bab 10, hal. 969.&lt;br /&gt;17 Shaleh, Mausu’ah al-Hadits asy-Syarif Kutubus Sittah Sunan Abu Daud Kitab al-Kharaj bab 9 No. 2940, hal. 1443.&lt;br /&gt;18 Wilson , Islamic Business Theory and Practice, hal 111.&lt;br /&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&amp;gt; &amp;lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;br /&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&amp;gt; &amp;lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;br /&gt;DIarsipkan di bawah: &lt;a title="Lihat seluruh tulisan dalam Bisnis Islami" href="http://id.wordpress.com/tag/bisnis-islami-manajemen-islam/" rel="category tag"&gt;Bisnis Islami&lt;/a&gt;, &lt;a title="Lihat seluruh tulisan dalam Manajemen Islam" href="http://id.wordpress.com/tag/manajemen-islam/" rel="category tag"&gt;Manajemen Islam&lt;/a&gt;  Ditandai: &lt;a href="http://id.wordpress.com/tag/manajemen-islam/" rel="tag"&gt;Manajemen Islam&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;« &lt;a href="http://elqorni.wordpress.com/2008/04/09/rahasia-bisnis-orang-jepang-langkah-raksasa-sang-nippon-menguasai-dunia/"&gt;RAHASIA BISNIS ORANG JEPANG (Langkah Raksasa Sang Nippon Menguasai Dunia)&lt;/a&gt; &lt;a href="http://elqorni.wordpress.com/2008/04/09/five-ways-to-make-your-dream-come-true/"&gt;Five Ways to Make Your Dream Come True&lt;/a&gt; »&lt;br /&gt;2 Tanggapan&lt;br /&gt;andi triyawan, di/pada &lt;a title="" href="http://elqorni.wordpress.com/2008/04/09/konsep-pengupahan-dalam-manajemen-syariah/#comment-163"&gt;November 4th, 2008 pada 10:41 am&lt;/a&gt; Dikatakan:&lt;br /&gt;sebenarnya kalau mengingat penentuan upah tidak ada sama sekali dalam Islam berapa besar upah yang diberikan kepada pekerja. apakah bergantung pada pekerjaannya, tingkat pendidikannya atau tingkat kebutuhannya. bagaimana jika tukang sapu kita mempunyai anak lima dengan pembantu kita yang tukang sapu tetapi ia tidak mempunyai anak sama sekali, apakah sama upahnya atau yang satu kita lebihkan selain pemberian gaji?aturan dalam islam tentunya mengacu pada maslahah, maka upah yang diberikan itu harus membawa maslahah, dan maslahah ini tentunya tidak ada batasan nominal. dan menurut ibnu taimiyah ditambahkan dengan harus melihat tingkat upah didaerah sekitarnya. gimana menurut antum pak kurnia? andi ISID Gontor&lt;br /&gt;&lt;a class="url" href="http://elqorni.wordpress.com/" rel="external nofollow"&gt;Ahmad Kurnia&lt;/a&gt;, di/pada &lt;a title="" href="http://elqorni.wordpress.com/2008/04/09/konsep-pengupahan-dalam-manajemen-syariah/#comment-166"&gt;November 5th, 2008 pada 4:51 pm&lt;/a&gt; Dikatakan:&lt;br /&gt;Secara tektual nominal pengupahan sebenarnya tidak ditentukan tapi teknik pengupahan sudah ada jaman Rasulullah ketika mendapat bagi hasil dari dagangan yang beliau ambil dari Siti Khodijah, tapi seorang pemilik usaha harus bijaksana dalam menentukan upah jangan sampai ada satu pihak yang terdholimi. Dan saya sangat setuju Islam lebih mengacu kepada kemaslahatan dan keadilan dengan adanya kesepakatan antara kedua belah pihak, tentu saja nilai nominal dari kurun waktu berbeda sebelum ditemukan ekonomi uang, sistem barter bisa dilaksnaakan dengan kesepahaman..mudah-mudahan tidak puas..monggo silahkan yang mau ikut memberikan usulan dan pendapatnya. Terimakasih.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9160165760161037566-3584197667813751355?l=hafulyon.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hafulyon.blogspot.com/feeds/3584197667813751355/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hafulyon.blogspot.com/2009/10/upah-menurut-manajemen-syariah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9160165760161037566/posts/default/3584197667813751355'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9160165760161037566/posts/default/3584197667813751355'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hafulyon.blogspot.com/2009/10/upah-menurut-manajemen-syariah.html' title='upah menurut manajemen syari&apos;ah'/><author><name>HAFULYON MM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08733764793398655527</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_T62w1t6xAVs/ShfXK7BkbBI/AAAAAAAAAAM/_Ox51Zx1NBA/S220/100_0587.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
